When in Rome Do as The Romans do

18:22



Perayaan tahun baru selalu memunculkan berbagai wacana. Seperti misalnya, perkataan kenalan saya, sebut saja Ani, yang mengeluhkan kekangan dari orangtuanya "Masa keluar malem buat Tahun Baruan nggak boleh. Gue kan udah kuliah. Kalau di Amerika Serikat, orang dengan umur 18 tahun udah dilepas aama orangtuanya.". Ada pula wacana yang kontrakdiktif dengan wacana tersebut, keluar dari teman saya yang sebut saja bernama Budi "Hura-hura mulu kerjaannya. Pacaran sampe tengah malem cuma buat Tahun Baru. Nggak inget akhirat. Coba hukum di sini sama kayak di Arab."

Masih banyak wacana dari sekeliling saya, yang menginginkan manusia di negara ini seperti manusia di negara lain. Yang menginginkan si A menjadi seperti si B di luar negeri, membandingkan mengapa kita tidak bisa seperti itu. Mengapa negeri ini tidak melegalkan ganja? Mengapa negeri ini tidak menghukum mereka yang berzina tapi tidak terikat hubungan pernikahan selama itu dilakukan tidak di ranah publik dan tidak merusak mahligai pernikahan? Mengapa orangtua Indonesia terlalu mengekang? Mengapa di Indonesia tidak ada hukuman cambuk?

Dan jujur saya tidak tahu entah mengapa sampai sekarang mereka yang ribut-ribut soal hal tersebut belum pindah negara juga. Mungkin kemampuan mereka tidak terpakai di negara idaman atau apalah. Namun untuk menjawab semua pertanyaan mereka, sebetulnya hanya butuh satu jawaban: ketika kamu sedang berada di Roma, maka bersikaplah seperti orang Roma. Si fueris Romae, Romano vivito more. Si fueris alibi, vivito sicut ibi.

Indonesia ya Indonesia, yang punya standar moral dan kearifan tertentu. Indonesia tidak akan bisa menjadi Amerika Serikat atau Arab Saudi, karena negara ini dibangun dengan budaya tertentu, pengaruh budaya dan agama tertentu, yang menjadikannya unik. Begitu pula negara lain. Kamu tidak bisa menyalahkan orang Arab Saudi yang memakai burka dan menutupi wajah mereka sehingga tak dapat dikenali misalnya, karena memang sudah budaya mereka begitu. Kamu juga tidak bisa menghardik orang di Amerika Serikat yang bebas mengemukakan pendapatnya, atau orang Prancis yang bisa ciuman di tengah jalan dan tidak digubris orang lain, karena budaya mereka memang seperti itu.

Dua budaya itu memang aneh di negeri kita mungkin, tetapi tidak bagi mereka. Semua hanyalah masalah tata cara dan kerangka berpikir. Begini misalnya. Dian, orang Indonesia, merasa bahwa bekerja dengan orang Jepang adalah sebuah pengalaman tersadis. Orang Jepang adalah orang tak berhati kalau dihadapkan pada masalah pekerjaan karena mereka tak mengenal jam kerja bahkan seolah mendedikasikan nyawa mereka pada pekerjaan dan atasan. Sementara itu, Hiroko, seorang Jepang, merasa kalau banyak pegawai di Indonesia yang kelewat "selow" dan tak menghargai pekerjaan. Dua-duanya adalah produk dari pendidikan moral dan kebudayaan yang berbeda. Wajar bila mereka berdua memiliki pendapat berbeda terkait etos kerja.

Maka tidak mengherankan kalau pada akhirnya banyak orangtua yang menginginkan anak mereka menikah dengan orang yang satu suku. Karena jujur, perbedaan budaya agak sulit diatasi. Tidak semuanya, memang, tetapi mayoritas begitu. Kalau kamu bisa mengatasi perbedaan budaya, jelas kamu adalah orang yang hebat.

Jadi, ketika kamu memutuskan untuk masuk ke pintu rumah orang Portugis misalnya, saat itu pula kamu harus mematuhi peraturan dan kebudayaan yang dia tetapkan di rumahnya. Jangan karena kebudayaan itu tak kamu pahami, maka tak kamu indahkan. Artinya, kamu gagal sebagai tamu, dan wajar bila akhirnya kamu tak diterima dengan baik.

Saya sering menemui para turis yang tak mengindahkan peraturan di rumah ibadah, seperti misalnya larangan untuk masuk ke Masjid atau Pura saat menstruasi, dan menganggap kalau bila larangan itu dilanggar, tak akan jadi masalah dan tak ada orang yang tahu. Bulan, bukan masalah ketidaktahuan atau karena kamu tidak berasal dari budaya yang sama dengan tempat itu, tetapi masalah etika. Integritasmu sebagai seorang manusia.

Tentunya kamu juga tidak lupa bahwa saat Sekolah Dasar dulu, kamu sering mendengar peribahasa: lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Setiap peradaban, setiap masyarakat itu unik. Hanya maukah kamu menerima kenyataan itu?

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe