Berbeda

18:01



Pernah saya merasa heran dengan teman saya yang tidak marah saat suaminya merangkul lawan jenis, kemudian mengunggahnya di media sosial. Saya rasa hal itu aneh, dan tidak wajar dilakukan oleh seseorang yang sudah menikah.

Namun kalau dipikir-pikir lagi, tidak tepat kalau saya berpikir demikian. Pasalnya, setiap orang memiliki standar yang berbeda-beda. Ada yang menganggap kalau selama pasangan tidak main hati, maka itu tidak masalah. Ada yang menganggap kalau main hati pun tidak masalah, asal dia masih jadi yang pertama. Ada pula yang betul-betul melarang pasangan untuk sekadar bergurau dengan lawan jenis.

Kondisi ini juga berlaku pada hal lain di luar percintaan. Seperti, standar kesuksesan, standar kecantikan/ketampanan, dan juga standar kepintaran. Orangtua dengan pendidikan S3 misalnya, mungkin akan merasa bahwa kelulusan anak pada jenjang sarjana strata satu adalah hal biasa, dan akan memalukan apabila dia tidak mau sekolah lagi hingga jenjang yang lebih tinggi. Namun lain halnya dengan orangtua yang latar belakang pendidikannya SMP misalnya. Dia akan merasa bahwa anaknya yang lulus S1 sangat membanggakan dan pintar.

Siapa yang salah dan siapa yang benar? Tidak bisa dipastikan karena semuanya masalah standar moral dan nilai-nilai. Bayangkan apabila keluarga saya dan keluarga teman saya dianalogikan sebagai dua bangsa yang berbeda. Bila teman saya dan suaminya masuk ke dalam ranah "bangsa" saya, maka jelas dia akan dianggap melakukan penyimpangan sosial. Dan bila saya masuk ke dalam ranah "bangsa" teman saya, saya akan dianggap sebagai orang yang tidak menghargai kebebasan dan mengekang HAM. Sama saja, saya dianggap melakukan penyimpangan sosial.

Menurut sosiolog Robert M.Z Lawang, perilaku menyimpang adalah tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial dan menimbulkan usaha yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku tersebut. Jadi, bisa dibilang bahwa penyimpangan sifatnya juga relatif. 

Kita beri contoh masalah penggunaan tema  Tuhan dan agama dalam gurauan. Sewaktu ramai masalah Pilkada, hingga masalah komika yang membawa-bawa Tuhan dalam bahan gurauan, ada yang berceletuk bahwa di Amerika Serikat saja banyak yang menggunakan Tuhan dan agama sebagai bahan gurauan, bahkan Tuhan pun dihina-hina, dan hal itu tidak jadi masalah besar. Namun mengapa di negara kita, hal itu dipermasalahkan?

Masalahnya adalah, standar norma dan nilai yang berbeda. Dalam Pancasila sendiri disebutkan bahwa Indonesia mengakui keberadaan Tuhan yang Maha Esa dan memberikan penghormatan kepadaNya, dan di setiap Kartu Tanda Penduduk, selalu ada kolom agama. Jadi, merendahkan Tuhan atau menyinggung agama dengan cara negatif, meskipun konteksnya bercanda adalah suatu hal yang sangat-sangat ceroboh, karena itu jelas akan dikategorikan sebagai penyimpangan sosial.

Begitu pula dengan masalah LGBT. Ada negara-negara yang melegalkan pernikahan sesama jenis. Namun bagi negara kita, hal itu dianggap sebagai sebuah penyimpangan sosial dan tidak dibenarkan sama sekali. Mengharapkan bahwa negara ini akan mendukung LGBT, adalah hal yang tidak masuk akal.

Lalu contoh terakhir, mengenai penggunaan ganja. Banyak kelompok di Indonesia yang mulai mempertanyakan mengapa ganja tidak kunjung dilegalkan, padahal kabarnya ganja memiliki banyak manfaat untuk medis. "Belanda dan Kanada saja melegalkan ganja, dan kedua negara itu maju, lho", 
begitu kata mereka. Yang mereka tidak pahami menurut saya adalah, bahwa lagi-lagi setiap negara memiliki standar nilai, norma, dan pandangan yang berbeda-beda terhadap dua hal itu. Di Meksiko misalnya, batas kepemilikan ganja hanyalah 5 gram saja. Sementara itu, di Israel, ganja diperbolehkan hanya untuk program penyembuhan beberapa penyakit. 

Indonesia sendiri,melarang penggunaan ganja tentunya bukan hanya asal melarang. Tidak mungkin pemerintah, contohlah Kementerian Kesehatan, tidak mengetahui dampak baik dan buruk ganja. Dampak baiknya mungkin ada, tetapi pembuat kebijakan terkait mungkin saja telah menilai bahwa dalam kultur masyarakat seperti Indonesia misalnya, dampak buruknya akan lebih berpengaruh. Kita tidak bisa menyamakan sifat masyarakat di negara kita dengan negara lain, dan dampak legalisasi ganja pastinya akan berbeda-beda di tiap negara.

Pada akhirnya toh, kita tidak bisa dengan mudahnya menghakimi siapa yang paling benar dan siapa yang paling salah. Yang terpenting adalah, pastikan tindakan kita tidak sengaja dilakukan untuk merugikan orang lain yang tidak merugikan kita, dan yang kedua, patuhi nilai-nilai dan norma-norma yang telah disepakati di ekosistem kita sendiri. 

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe