Yerusalem Bukan Sekadar Tentang Agama

23:05



Sejatinya, batas antara tahu dan tidak tahu bahwa tidak tahu sangatlah tipis. Kita bisa saja berkata bahwa kita tahu, padahal sebetulnya kita tidak tahu. Namun untuk tahu bahwa kita tidak tahu, kita harus sadar diri dan selalu menganggap bahwa kita tidak tahu, layaknya apa yang dilakukan Socrates.

Sayangnya, banyak orang yang menganggap harga dirinya terlampau tinggi untuk sadar diri bahwa dia tidak benar-benar tahu. Pada titik saat orang-orang itu tahu bahwa mungkin dirinya tidak tahu, mereka pura-pura amnesia dan tetap mengukuhkan dirinya sebagai yang tahu. Kebanyakan dari mereka menjadi pejuang keadilan sosial (yang hanya berani di media massa), dan juga aktivis musiman, pesanan semata. Tidak semua isu mereka utarakan dan mereka bela. Mereka hanya membela oknum-oknum yang menurut mereka ideologinya mereka sukai.
***

Sebagai manusia, sejujurnya saya tak bisa menolerir apa yang dilakukan oleh Donald Trump. Entah dia sedang menenggak sesuatu yang memabukkan atau dia memang ingin membuktikan pada Dunia bahwa dia berbeda. Bahwa dia tetap bisa berdiri tegak menantang Dunia setelah melakukan omong kosong dan tak mengindahkan segala etika serta hukum internasional.

Dilansir dari laman UGM, Pakar Politik Timur Tengah UGM Dr. Siti Mutiah Setiawati mengatakan bahwa pengakuan Trump tersebut dinilai melanggar hukum internasional. Dalam kesepakatan Dewan Keamanan PBB memutuskan bahwa Yerusalem tengah berada dalam pengawasan PBB sebagai kota bersama antara Israel dan Palestina (two-state solution). (https://ugm.ac.id/id/berita/15371-pengakuan.trump.terhadap.yerusalem.ibu.kota.israel..dinilai.melanggar.hukum.internasional)

Mengakui bahwa Yerusalem adalah milik Israel dan memindahkan kedutaan ke sana adalah suatu kebodohan. Selain itu, apa yang dilakukan oleh Trump akan mengganggu stabilitas keamanan nasional.

Meskipun jauh dari Indonesia, sudah tentu apa yang saya bahas di atas adalah masalah yang nyata. Oh, bukankah para pasukan keadilan sosial menyukai masalah yang nyata? Bukankah mereka doyan membela orang-orang, di belahan dunia mana pun, yang kesusahan?

Memang isu Yerusalem adalah isu tentang Hak Asasi Manusia dan sebetulnya bukan sekadar isu keagamaan. Namun masyarakat sudah terlanjur melabeli masalah Yerussalem sebagai masalah agama karena Yerusalem merupakan kota suci tiga agama, sehingga, para prajurit keadilan sosial yang seringkali menyesalkan agama sebagai sumber dari perselisihan menganggap bahwa membela Palestina tidak masuk ke dalam agenda demo mereka. Sama seperti penjual ponsel yang tidak mungkin mempromosikan baju karena itu bukan barang jualan mereka.

Sejatinya hal yang sama juga terjadi pada beberapa oknum yang ikut berdemo. Mereka menjelek-jelekkan seluruh Yahudi dan berdemo menyumpahi orang Yahudi. Israel memang negara yang dipenuhi oleh orang Yahudi, tetapi menghardik Yahudi secara keseluruhan adalah sebuah hal yang kerdil. Apalagi menganggap bahwa semua orang yang menolak Trump sebagai pembela Islam.

Membela Israel, atau membela Palestina dalam sidang PBB yang digelar belum lama ini tidak akan membuat suatu negara itu pro terhadap agama tertentu atau pun kontra. Mereka yang pro bisa saja punya hubungan buruk dengan Amerika Serikat, atau memang masih punya nalar untuk memahami bahwa apa yang dilakukan Trump melanggar hukum internasional. Sementara itu, mereka yang kontra bukan berarti membenci agama tertentu, tetapi bisa saja mereka punya hubungan politik atau ekonomi tertentu dengan Israel.

Masalah Yerusalem bukan sekadar masalah agama. Namun masalah politik, kemanusiaan, dan juga ekonomi. Terlalu kerdil kalau masih menganggap masalah ini adalah masalah agama dan membela salah satu pihak hanya karena agama yang mereka anut. Hanya saja, mengapa banyak orang tidak kunjung mengerti, sih?

Foto: Berbagai sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe