Tanggung Jawab Perusahaan, Hingga Desa Menari

19:57



Manusia adalah makhluk yang ingin mencari keuntungan sebesar-besarnya, dengan usaha sekecil-kecilnya. Itulah yang kemudian menjadi landasan bagi tersusunnya ilmu ekonomi. Dengan menilik fakta tersebut, rasanya hampir tidak mungkin manusia akan melakukan sebuah hal yang tidak menguntungkan dirinya secara langsung.

Namun jangan lupakan juga fakta bahwa manusia adalah makhluk sosial. Manusia memiliki imajinasi dan empati. Inilah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Perasaan kita pun tumbuh. Menjadikan Dunia ini tempat yang seimbang, tempat yang indah,bukan sekadar ruang-ruang kaku bermesin dan berteknologi yang dingin dan tak kenal ampun.

Hanya saja, seiring dengan berkembangnya jaman, banyak manusia yang menjadi individualis. Ini tak bisa dilepaskan dari fakta bahwa persaingan semakin sulit saja. Terutama bagi perusahaan-perusahaan besar. Mereka harus menjadi "raja tega", petarung besar dan tanpa ampun untuk bisa melanggengkan keberadaan mereka.

Namun tidak selamanya mereka menjadi raja tega seperti itu. Bagaimana pun juga, ada tanggung jawab moral yang harus dipikul. Apa yang diberikan masyarakat, itulah yang harus kamu bagi kembali. Hal itulah yang disebut sebagai CSR (Corporate Social Responsibility).

CSR merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha, untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat atau pun masyarakat luas, dan peningkatan taraf hidup pekerja dan keluarganya. CSR hadir melalui gerakan sosial dan juga kesadaran perusahaan untuk berbagi kepada sesama dan sebagai bentuk terima kasih terhadap masyarakat luas. CSR sendiri diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal.

Salah satu bentuk CSR yang bisa kita lihat di Indonesia adalah CSR dari Astra. Saya mengangkat Astra karena salah satu bentuk CSR dari Astra ini cukup menarik: pengadaan award Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia Awards (SATU Awards)(https://www.astra.co.id/CSR).

Pengadaan acara penghargaan, selain mampu menyemangati para agen perubahan, juga membuat kita bisa menemukan ide-ide unik dalam hal pembangunan. Seperti misalnya, ide Desa Wisata/Desa Menari Tanon oleh Trisno, yang menjadi salah satu pemenang SATU Awards pada tahun 2015 (https://swa.co.id/swa/csr-corner/astra-kembangkan-desa-wisata-tanon)

Desa Tanon, adalah desa yang terletak di Getasan, Semarang. Desa ini, seperti banyak desa lain di Indonesia, merupakan desa yang agak terbelakang. Para penduduknya tidak bersekolah tinggi, karena memang dalam budaya mereka, sekolah tinggi bukanlah hal yang penting. Padahal, dengan rendahnya tingkat pendidikan, desa pun makin lama makin terpinggirkan karena masyarakatnya tidak paham cara berinovasi. Yang mereka tahu, lepas sekolah dasar, hidup dilanjutkan dengan bertani, beternak, atau menjadi pekerja kasar. Tidak ada yang salah dengan tiga profesi itu, tetapi tanpa inovasi, jelas mereka akan terpinggirkan. Petani, peternak, dan pekerja haruslah berinovasi agar apa yang mereka kerjakan lebih baik dan hasilnya lebih optimal.

Trisno pun tergerak untuk mengubah hal ini. Awalnya dia membuat sebuah pengembangan manajemen peternakan sapi. Namun sayangnya, pola pikir masyarakat yang sudah turun temurun dan mendarah daging sulit untuk diubah. Mereka tidak memahami pentingnya manajemen dalam bekerja. Akhirnya, Trisno pun mengubah konsep, dari yang tadinya mengajak masyarakat untuk berubah, menjadi mengajak orang luar untuk mengenal masyarakat.

Trisno membuat sebuah konsep Desa Wisata yang terdiri atas beberapa paket, seperti Outbond Deso, Paket Wisata Wirausaha, Paket Pagelaran Seni, dan Paket Pendidikan Luar Sekolah. Dalam paket-paket ini, masyarakat luar bisa mempelajari keahlian bertani dan beternak, serta mengenal kehidupan pedesaan yang asri. Dari tiket masuk, masyarakat desa pun mendapatkan tambahan pendapatan. Belum lagi ditambah dari oleh-oleh makanan yang biasa dibeli wisatawan.

Terhadap warga desa sendiri, Teisno menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, pelatihan-pelatihan pekerjaan, les Bahasa Inggris, dan screening diabetes. Dengan begini, manfaatnya pun dapat dirasakan tidak hanya pada wisatawan tetapi juga warga desa.

Dari Trisno, kita bisa belajar bahwa cara untuk memajukan masyarakat bukanlah dengan serta merta mengubahnya. Nilai-nilai yang hadir dan telah berlangsung turun menurun sulit untuk diubah. Cara untuk mengubah mereka menjadi lebih baik adalah dengan memanfaatkan yang mereka bisa. Ingatkah kalian dengan film Kung Fu Panda? Dijelaskan bahwa Master Shifu tidak bisa melatih Po si Panda dengan cara seperti dia melatih Tigress dan para pendekar lain, tetapi dengan cara yang menarik dan mampu dilakukan Po: makan banyak. Intinya, semua orang bisa sukses dan menjelang hidup yang lebih baik. Namun, cara untuk melatih dan memperbaiki mereka tidaklah sama.

Maka, membicarakan CSR dari perusahaan, tidaklah sekadar membicarakan uang yang dibagikan kepada banyak orang, atau perubahan infrastruktur, atau beasiswa, dan sebagainya. CSR, dalam hal ini Astra, juga tentang menghargai perbedaan dan mencari cara yang tepat untuk bisa memajukan masyarakat yang punya pemikiran dan budaya berbeda, dengan cara-cara yang unik pula. Karena sejatinya berbagi, bukan hanya tentang membagi tetapi juga memahami perbedaan.

Foto: Astra, SWA

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe