Malena Sang Janda, Marlina Sang Janda

12:51



Perempuan itu menenteng kepala di tengah sabana luas, melakukan perjalanan mencari keadilan. Perempuan yang satunya lagi, menjalani hidup di tengah keramaian kota. Namun yang sama dari keduanya, mereka sama-sama berada dalam kesendirian.

Mau tidak mau, karakter Marlina dalam film "Marlina: Si Pembunuh dalam Empat Babak" mengingatkan saya pada Malena. Malena adalah film drama kontroversial yang dibintangi oleh Monica Belluci dan bercerita tentang seorang janda Sisilia yang suaminya (diduga) telah meninggal dalam Perang Dunia. Keduanya sama-sama janda, berjuang hidup sendirian di rumah setelah ditinggal sang suami. Keduanya sama-sama berpura-pura tegar meskipun menyimpan kesedihan yang mendalam.

Perbedaannya, Marlina memberi batas tegas terhadap tubuhnya. Bagi Marlina, tubuhnya adalah ranah pribadi yang tak bisa seenaknya dimasukin oleh orang yang tak dia inginkan. Sementara itu, Malena, meski sempat mengalami pemaksaan hubungan seksual, tetapi sebelumnya bekerja sebagai PSK lepas untuk menyambung hidup. Marlina juga tidak digambarkan sebagai perempuan yang dibenci oleh perempuan lain. Justru masalah dia adalah dengan para lelaki: lelaki yang menyantroni rumahnya dan memaksa untuk merenggut ternak serta kehormatannya, lelaki yang ketakutan karena dia berjalan membawa kepala Markus, lelaki dalam wujud polisi yang meremehkan masalahnya dan tidak betul-betul niat jadi penegak hukum.

Masalah Malena, sebaliknya, justru dengan para perempuan. Para perempuan merasa muak dengan Malena karena suami-suami mereka terobsesi dengan Malena semenjak dia jadi janda, dan Malena pun seolah menyambut baik obsesi para suami terhadap tubuhnya. Mereka menganggap Malena membuat suami mereka jadi tidak setia, sehingga pada akhirnya mereka melakukan persekusi pada Malena dan memotong rambutnya karena kesal. Para lelaki justru, merasa bahagia dengan status Malena yang merupakan janda.

Namun bila ditarik sebuah garis lurus, ada satu kesimpulan yang serupa dari cerita keduanya: janda akan selalu dipandang sebagai makhluk yang tidak bisa berdiri sendiri. Dalam film Marlina, kita melihat bahwa semenjak suaminya meninggal dan dijadikan mumi, perampok bisa seenaknya masuk, menagih utang, dan juga memaksa Marlina untuk menyerahkan tubuhnya. Dan dalam Malena, sesaat setelah suaminya ditemukan hidup dan kembali, Malena mendapatkan kehormatan dan tempat kembali di tengah masyarakat, meskipun sebelumnya Malena sudah pernah menjadi PSK. Seolah, kehormatan Malena terletak pada sang suami dan bukan dirinya sendiri.

Kedua tokoh memiliki cara menyintas yang berbeda, dan jujur saya jauh lebih menyukai Marlina ketimbang Malena yang bahkan, secara tidak sadar, menganggap bahwa hanya tubuhnya yang bisa dijual sesaat setelah suaminya hilang. Marlina, tidak seperti itu, baginya tubuh adalah sesuatu yang sakral. Tidak semua orang bisa masuk ke sana, apalagi tanpa ijin. Namun kita tetap tiddak bisa melepaskan kenyataan bahwa stereotip janda memang kurang baik di mata masyarakat.

Janda di tengah masyarakat: objek menggiurkan, objek kesepian

Apakah kalian pernah menonton Godfather? Film yang mengambil latar Amerika Serikat di tahun 70an ini berkisah tentang para mafia Sisilia di Amerika Serikat. Namun yang menarik dibahas sebetulnya bukanlah tentang realita kehidupan mafia itu sendiri, tetapi siapa para mafia tersebut dan bagaimana kedudukan perempuan di sana.

Mafia identik dengan pekerjaan lelaki. Di Godfather, yang diduga terinspirasi dari kisah nyata, semua mafia adalah lelaki. Tokoh perempuan, yang notabene adalah anak-istri, tidak punya suara dan tidak punya tempat dalam bisnis mafia ini. Para lelaki boleh sangat bengis ketika berbisnis, tetapi tugas mereka adalah melindungi perempuan. Perempuan tugasnya adalah di rumah, dan perempuan digambarkan sebagai rumah bagi para mafia ini untuk berpulang.

Apakah hal itu salah? Tidak, menurut saya. Saya yakin bahwa baik perempuan dan lelaki, keduanya memiliki porsi masing-masing. Keduanya memiliki kekuatannya masing-masing. Lelaki lebih kuat secara fisik, perempuan lebih mampu mengatur banyak hal. Maka dari itu, mayoritas perempuan memang cenderung lebih jago dalam urusan hitung-menghitung dan urusan rumah tangga, sementara itu lelaki lebih mampu untuk melakukan pekerjaan yang membutuhkan fisik prima dan juga pengambilan keputusan yang lebih logis.

Namun dari film Godfather,kita bisa melihat budaya masyarakat Italia pada masa itu dan sebelumnya. Terlihat bahwa lelaki berada di garda terdepan dan berfungsi pula sebagai pelindung keluarga. Seperti yang dikatakan Don Vito Corleone : A man who doesn't spend time with his family can never be a real man. Maka, Malena, sang janda Italia itu pun seolah seperti kehilangan separuh kehidupannya dan juga eksistensinya saat sang suami menghilang. Eksistensi dan kehormatannya pun kembali saat sang suami kembali.

Di Indonesia, stereotip janda juga hampir sama,bahkan dalam banyak literatur, janda digambarkan sebagai objek yang lemah, yang menggoda, dan juga penuh daya tarik seksual. Seperti yang ditulis dalam sebuah penelitian karya Harlin Dyah N yang berjudul Representasi Kekerasan Verbal Terhadap Perempuan Janda: Analisis Semiotika Film Ku Tunggu Jandamu. Dalam penelitian tersebut, disimpulkan kalau kejandaan perempuan mengakibatkan mereka menjadi korban kekerasaan seksual. Penelitian berjudul Representasi Janda dalam Film Indonesia karya Radhita Millati juga menggambarkan hal serupa.

Tak hanya di film, dalam berbagai pembicaraan santai dan dalam lagu-lagu, janda pun dianggap sebagai objek seksual yang menggoda, menggiurkan, dan juga bisa menjadi objek imajinasi (yang cenderung sensual sifatnya). Contohlah lagu berjudul Mabuk Janda. Atau slogan "janda lebih menggoda", beserta meme-meme yang tak kalah sensual, menggambarkan janda.

Masyarakat cenderung menganggap status janda sebagai status dengan stereotip yang kurang baik. Seolah, bila seseorang jadi janda, maka dia seperti anak itik yang kehilangan induknya, sendirian, dan tak punya arah. Seolah janda tidak bisa berdiri sendiri dan tidak punya intregitas. Dan meskipun janda tersebut mampu menghidupi dirinya sendiri, dia tetap tidak utuh karena dia sendirian. Dia bisa digoda dan bisa dijadikan selingan, untuk perbuatan iseng.

Pada dasarnya, duda dan janda hanyalah status. Dengan tidak meniadakan perbedaan kodrat perempuan dan lelaki, baik secara fisik mau pun mental, biar bagaimana pun juga status janda bukanlah status yang buruk.Dengan menjadi janda, bukan berarti seorang perempuan membuat dirinya sendiri menjadi objek, kecuali kalau memang dia ingin diperlakukan seperti itu. Semestinya pula kita berhenti membuat istilah "janda" menjadi istilah yang bisa dijadikan gurauan sensual, menjadi istilah yang punya stereotip buruk, dan menjadi sebuah status yang mengindikasikan hilangnya eksistensi seseorang di dunia ini. Seperti pada tokoh Marlina, kejandaannya tak bisa dijadikan pembenaran bagi para lelaki bajingan untuk masuk ke dalam ranah pribadinya.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe