Kamu Terlalu Baik

20:13



Benar adanya bahwa segala sesuatu yang berlebihan tidak pernah baik. Termasuk kebaikan.

Sebetulnya dari awal, saya menyangka bahwa film Ayat-Ayat Cinta 2 akan menjadi suatu bencana. Dan rupanya, apa yang saya pikirkan itu salah. Karena film itu bukan lagi bencana, tetapi kehancuran.

Saya tidak akan mengulas masalah plot yang buruk, atau skenario yang seperti film Face/Off KW 2, karena itu sudah diulas di banyak situs film. Saya juga tidak akan mengulas betapa potensi aktor dan aktris berkualitas
serta sinematografis yang begitu apik terbuang percuma di sini, karena saya tidak mendalami kajian film. Namun, satu hal yang betul-betul ingin saya utarakan adalah: ada apa dengan Aisha? Apa yang salah dengan dirinya?

Menjadi orang baik tidak pernah salah, selama kebaikan itu tidak menjurus pada kebodohan. Apa yang dilakukan Aisha dalam dua film ini menurut saya adalah bentuk kebodohan. Bagaimana bisa kamu berbuat baik tetapi dengan menyakiti dirimu sendiri, padahal kamu tidak perlu melakukan hal itu? Bagaimana bisa pula kebaikanmu justru membawa masalah baru?
***
Dalam Ayat-Ayat Cinta 1, Aisha meminta Fahri untuk menikah dengan Maria, sahabatnya, agar dia bisa bilang I Love You pada Maria, dan Maria bisa bangun dari komanya lalu menjadi saksi persidangan Fahri. Dalam Ayat-Ayat Cinta 2, Aisha tidak memberitahu pada Fahri bahwa dia adalah Sabina, imigran gelap yang dipekerjakan Fahri di rumah karena selalu diusir dan direndahkan orang di luar sana. Sebelumnya, Aisha menjadi relawan di Palestina dan setelah sebuah serangan di Palestina, keberadaannya tidak jelas, antara masih hidup atau sudah meninggal. Rupanya Aisha merusak wajah dan organ kewanitaannya agar tidak diperkosa oleh tentara Israel. Itulah alasan mengapa Aisha tidak mengatakan pada Fahri bahwa dia adalah Sabina, karena merasa bahwa dia tidak pantas untuk Fahri.

Namun seperti AAC 1, saat Fahri menikahi Hulya di AAC 2, Sabina alias Aisha hanya bisa menangis.

Mungkin tokoh Aisha digambarkan sebagai perempuan yang rela berkorban. Mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri. Namun mengorbankan apa yang seharusnya menjadi hak kita justru adalah sebuah kebodohan. Malah, bila kita tak menyuarakan hak kita, bila kita tidak menyuarakan kebenaran, hal itu bisa jadi berujung pada kesialan.

Kalau saja Aisha tidak seperti itu, Fahri tidak akan pernah poligami dan hatinya tak akan pernah tersakiti. Mungkin Hulya juga tidak akan pernah hamil, dan tidak pernah mati ditusuk di akhir film. Tidak akan ada anak yang piatu, walaupun anak piatu itu toh akhirnya tetap bisa melihat wajah ibunya karena sudah ditempelkan ke wajah Aisha lewat operasi yang kecanggihannya melampaui film Face/Off.

Bila seorang Aisha ada di Dunia nyata, maka bukan dirinya sendiri yang tersakiti, tetapi juga orang lain. Akan ada banyak keburukan yang ditimbulkan dari keinginan untuk menjadi baik dengan menutupi kebenaran. Manusia tidak dirancang untuk selalu rela berkorban, maka dari itu, manusia bukan hanya makhluk sosial atau makhluk yang memiliki empati, tetapi juga serigala bagi sesamanya. Semua komponen baik dan buruk itu ada di diri manusia, untuk digunakan secara bijak.

Tidak semua kebaikan akan mendatangkan kebaikan. Sekarang begini misalnya. Kalau kamu terlalu baik pada seorang pemalas, selalu memberikan apa yang dia inginkan, dia tidak akan tahu bagaimana pentingnya berusaha dalam hidup. Terkadang, kamu harus bijak untuk berbuat baik dan berbuat tidak baik bagi sesamamu. Itulah alasan mengapa kita tidak hanya bisa tersenyum dan tertawa, tetapi juga bisa marah. Apakah marah adalah suatu hal yang negatif? Tidak selalu.

Dalam film animasi tentang manifestasi emosi berjudul Inside Out, diceritakan bahwa Joy alias manifestasi kebahagiaan semata tidaklah cukup untuk bertahan hidup dan juga untuk membangun relasi dengan orang lain. Kita butuh kemarahan (anger) untuk melindungi diri kita dari orang lain dan juga agar orang lain tidak semena-mena dengan kita. Rasa takut (fear) juga kita butuhkan untuk melindungi diri kita dari melakukan hal-hal yang mengancam nyawa. Kita pun butuh rasa jijik (disgust) untuk melindungi diri kita dari menyentuh, berdekatan, atau memakan hal-hal berbahaya. Kita pun butuh kesedihan (sadness) supaya kita tahu apa yang kita mau, dan sebagai sinyal untuk orang lain agar bisa membantu kita.

Semua manifestasi emosi itu harus bekerja secara seimbang. Bila tidak, maka sudah jelas, kita akan kesulitan bertahan hidup. Seperti layaknya Aisha yang seolah kekurangan rasa marah itu.

Selayaknya semua orang memahami bahwa kebahagiaan, kesedihan, kemarahan, rasa takut, dan juga rasa jijik adalah manusiawi. Meniadakan rasa lain selain kebahagiaan jelas akan membuat kita kesulitan menjalani hidup, bahkan membahayakan diri kita sendiri. Kamu tidak mau bukan meregang nyawa hanya karena terlalu pemberani, terlalu baik, dan terlalu bahagia?

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe