Apakah Anak Adalah Investasi?

15:54



Saya tidak dapat membayangkan andaikata saya menjadi orangtua dari Adam Fabumi, Abhi, dan bayi-bayi atau anak-anak lain yang meninggal Dunia mendahului orangtua mereka. Mungkin memang kehadiran mereka di Dunia hanya sebentar, tetapi pastilah ada banyak kenangan dan harapan yang mereka tinggalkan, yang kemudian menimbulkan kedukaan mendalam.

Untuk kasus seperti Adam Fabumi, yang terkena trisomi 13, atau terbentuknya salinan tambahan kromosom ke-13 dalam beberapa atau seluruh sel tubuh, menurut para dokter, angka harapan hidupnya sangat kecil. Dilansir dari Alodokter, 90 persen penderita trisomi 13 meninggal sebelum usia 1 tahun. Sementara itu, hanya 10 persennya yang bertahan hidup lebih lama.

Adam Fabumi masuk ke dalam kategori yang pertama, meninggal sebelum ulang bulannya yang ke-7 karena gagal jantung. Dalam siaran langsung di Instagram, kedua orangtua Adam, Ratih Megasari dan Kiagoos Herling Kamaludin, mengatakan bahwa mereka tahu saat-saat seperti ini mungkin akan terjadi, tetapi tidak secepat ini. Meskipun harapan mereka besar, tetapi mereka tidak bisa berbohong pada diri mereka sendiri bahwa anak mereka tidak dapat lama bertahan. Namun mengapa mereka masih tetap berusaha? Mengapa mereka tetap mengeluarkan segala daya, upaya, dan juga biaya untuk sesuatu, yang kemungkinan tidak akan berhasil?

Terkait anak dan upaya, saya pernah membaca sebuah tulisan yang cukup menggelitik di Tirto. Dalam tulisan tersebut, dikatakan bahwa biaya membesarkan anak hingga kuliah, jumlahnya kira-kira 2, 94 milyar rupiah. Jumlah yang cukup fantastis. Di akhir tulisan, yang lucu, penulis mengatakan bahwa dia lebih memilih untuk berinvestasi reksadana, ketimbang berinvestasi dalam bentuk anak.

Bicara soal investasi, memang tidak bisa dipungkiri kalau masih banyak orangtua yang menganggap bahwa anak merupakan investasi  Diharapkan ketika dewasa nanti, anak akan bisa "mengganti" bahkan "melipatgandakan" apa yang telah diberikan oleh orangtua. Lalu, kalau betul anak adalah investasi, mengapa banyak orang yang memperjuangkan anak mereka, meskipun tahu, umur mereka tidak akan panjang?

Jawabannya adalah: seharusnya seperti itulah yang dilakukan oleh orangtua.

Orangtua Adam Fabumi, dan anak-anak berkebutuhan khusus lain tahu bahwa anak mereka mungkin usianya tidak panjang, dan lain sebagainya. Namun selama mereka masih menghembuskan nafas, mereka akan melakukan segala hal untuk memastikan anak mereka baik-baik saja. Mereka tidak peduli apakah suatu saat anak mereka akan sukses dan membantu mereka di masa tua. Yang mereka inginkan hanyalah melihat anak mereka bisa hidup dengan bahagia dan bisa mengisi hari-hari mereka.

Perlu diingat juga bahwa selain makhluk ekonomi, manusia juga merupakan makhluk sosial. Bukan hanya membutuhkan kehadiran orang lain, manusia juga memiliki empati terhadap orang-orang yang mampu menyentuh sisi emosional mereka. Entahlah apa yang terjadi dengan sisi emosional orang-orang yang berkeinginan kuat untuk berinvestasi dengan anak, tetapi jelas, niat berinvestasi melalui anak tidak ada bedanya dengan menjual atau memperbudak manusia.

Pada dasarnya, anak tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Memang anak punya kewajiban untuk menghormati orangtua, dan nantinya mengurus orangtua apabila mereka kesusahan (ini yang harus kita sadari dalam posisi kita sebagai anak). Namun orangtua juga harus menyadari bahwa tidak semestinya mereka berinvestasi lewat anak dan berharap bahwa anak akan membalas segala jasa mereka dengan setimpal.

Lagipula, anak yang dibesarkan oleh orangtua yang tulus dan dalam lingkungan yang kondusif, pada akhirnya juga akan benar-benar mencintai orangtua mereka dengan sepenuh hati.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe