Pasukan Keadilan Sosial

17:44



Saya punya beberapa kenalan yang brengsek. Brengsek ini maksudnya, mereka adalah tipikal orang-orang yang kurang menghargai sesama, terkadang bisa menjelma menjadi backstabbers alias tukang menusuk dari belakang, dan juga menyebalkan. Intinya sebagai manusia, mereka seolah kurang punya empati terhadap orang lain.

Namun di media sosial, mereka berubah wujud menjadi orang yang seolah peduli terhadap kehidupan sosial. Ada berita tentang pemilihan umum? Mereka akan berkomentar terlebih dahulu. Kasus pelanggaran HAM? Dengan cepat mereka segera membaginya di media sosial, berikut komentar yang mengajak orang-orang untuk peduli terhadap kasus tersebut. Munir, Wiji Thukul, dan lain sebagainya adalah nama-nama yang sering mereka sebut di media sosial.

Belum lagi cemooh mereka terhadap orang-orang yang seolah tidak peduli dengan kondisi negara dan kemanusiaan. Atau terhadap orang-orang yang bagi mereka "hanya mementingkan uang dan bukan mementingkan orang lain". Kalimat yang suka dijadikan senjata pamungkas adalah : "jangan kamu tanyakan apa yang telah diberikan negerimu;tanyakan apa yang sudah kamu perbuat".

Orang-orang ini juga, dalam musim CPNS, akan ikut buka suara. Bukan, bukan hanya tentang kecurangan CPNS yang diduga dilakukan oleh kementerian tertentu (https://m.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20171101101858-282-252629/dugaan-kecurangan-cpns-kemenkeu-bkn-sebut-dua-kemungkinan/), terapi juga tentang betapa tidak kreatifnya sebagian besar rakyat Indonesia karena sedari duku, cita-citanya kalau bukan jadi PNS, pegawai Bank, ya bekerja di BUMN. "Ini jaman kreatif, sudah seharusnya kalian punya cita-cita lain yang kreatif, jadi pengusaha start-up kek misalnya!". Begitulah, tanpa mereka sadari kalau tidak ada orang yang mau menjadi Aparatur Sipil Negara, pegawai bank, BUMN dan lainnya, entah siapa yang akan melayani masyarakat. Mungkin robot, seperti pada jaman Sewashi dilahirkan dan Doraemon dibuat.

Mereka terus dan terus mengkritik. Tidak ada puasnya. Semua hal salah di mata mereka dan harus dibenahi. Seolah setiap hari mereka ingin bertindak seperti Gatotkaca dan Captain America: membela kebenaran. Kebenaran harus ditegakkan! Dengan apa? Ya dengan kata-kata mereka di media sosial!

Pasukan keadilan sosial
Tidak ada yang salah sebetulnya dengan kata-kata. Tidak salah juga kalau kita berkontribusi pada pembangunan negara, pembangunan mental, dan lain sebagainya melalui kata-kata. Kata-kata memiliki pengaruh besar, itulah sebabnya peran penulis dan juru bicara sangatlah penting. Namun kata-kata terkait perjuangan sosial yang hanya digunakan sebagai bentuk pencitraan diri adalah pelecehan terhadap kata-kata itu sendiri.

Mereka menggunakan kata-kata bukan untuk menyemangati orang lain. Bukan juga supaya masyarakat luas mendengar kabar tentang sebuah ketidakadilan dan permasalahan sosial lainnya sehingga mereka dapat membantu membenahi. Mereka berkata-kata hanya supaya mereka terlihat pintar. Terlihat kritis. Di luar toh mereka tidak betul-betul peduli. Mereka tetap menjadi pribadi yang egois. Yang oportunis dan seenaknya sendiri. Tidak, tidak semuanya. Hanya beberapa oknum dan sebagian besar adalah kenalan saya.

Istilah apakah yang pantas disematkan pada diri mereka? Tiada lain, gelar social justice warriors alias pasukan keadilan sosial. Sekilas cocok untuk menambah formasi The Avengers dalam Infinity War yang akan dirilis tahun depan. Namun jangankan melawan Thanos, melawan ego mereka saja pun mereka tidak sanggup, sebetulnya. Yang bisa mereka lawan cuma rasa malu karena urat malu mereka sudah putus.

Menurut Katherine Martin, kepala U.S Dictionaries di Oxford University Press, istilah social-justice warrior walnya memiliki konotasi yang positif. Namun, terjadi peyorasi dalam istilah tersebut setelah istilah ini banyak digunakan sebagai sindiran dalam kasus Gamergate, saat seorang pembuat game perempuan bernama Quinn diteror dan mendapat banyak kata-kata pelecehan via dunia maya setelah mantan kekasihnya yang sakit hati menjelek-jelekkannya di blog(https://www.washingtonpost.com/news/the-intersect/wp/2015/10/07/why-social-justice-warrior-a-gamergate-insult-is-now-a-dictionary-entry?utm_term=.95b189d581cd).


Lewat masalah ini, terungkap banyak perilaku tidak pantas yang dialamatkan kepada pengembang dan pemain game perempuan. Namun lewat masalah ini juga, banyak orang yang sebetulnya tidak tahu apa-apa ikut-ikutan, sok membela kebenaran, padahal sebetulnya toh mereka tidak peduli-peduli amat dengan kebenaran itu. Selanjutnya, pasukan keadilan sosial ini jadi muncul di berbagai permasalahan, meninggalkan komentar yang tujuannya hanya untuk meningkatkan citra dirinya.

Oh ya, pasukan keadilan sosial ini kalau di Indonesia kebanyakan berbicara tentang politik, yang kemudian disambung-sambungkan ke masalah sosial. Seolah mereka sangat peduli dengan keadaan bangsa dan negara. Menghakimi orang-orang yang kelihatan skeptis dan tidak peduli di media sosial. Juga menghakimi orang-orang yang memiliki pilihan politik berbeda dengan mereka.

Apakah mereka betul-betul peduli? Pasukan keadilan sosial yang saya kenal secara nyata sih tidak. Kalau di luar, mereka tidak peduli kesusahan orang. Jangankan orang lain yang tidak mereka kenal, teman sendiri saja tidak dipedulikan. Jangankan kemiskinan, mereka saja sebetulnya sibuk memperkaya diri sendiri. Senang-senang, jalan terus. Namun ketika sudah menghadap layar ponsel pintar atau komputer dan media sosial, mereka akan berubah menjadi pasukan khusus keadilan sosial.

Di mimpi-mimpi terdalam, mereka ingin menjadi pahlawan super. Punya kekuatan hebat yang ditakuti oleh penjahat sekelas badut pogo hingga godzilla sekali pun. Namun jangankan kekuatan hebat, nalar pun tidak mereka miliki. Mereka akan lari terbirit-birit saat dikejar pasukan Orcs. Ah, bahkan bukan sekadar pasukan Orcs. Dituntut dengan pasal pencemaran nama baik pun mereka akan takut.

Entah kenapa pula topik ini juga sering saya bahas. Mungkin karena saya sudah muak dengan level kemunafikan mereka yang tidak kira-kira tingginya. Semua orang memang memiliki rahasia dan semua orang ingin terlihat baik di depan orang lain. Namun cara yang bijak adalah tidak dengan menghakimi orang lain seperti apa yang dilakukan pasukan keadilan sosial.

Foto: Berbagai Sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe