Kenapa Kamu Begitu Brengsek Menjadikan Orang Meninggal Sebagai Gurauan?

18:03



Selain dengan social climber, sejujurnya saya paling tidak betah berlama-lama dengan seseorang yang gemar melontarkan lelucon jayus, terus menerus, bukan hanya sesekali. Saya bingung menempatkan diri dalam situasi bersama orang semacam itu. Mau tertawa, mulut saya pegal. Mau cuek, saya juga merasa tidak enak, terutama kalau orang itu pada dasarnya baik.

Saya juga heran mengapa ada orang yang bisa terus menerus melontarkan berbagai gurauan bahkan hingga 24 jam, hingga gurauan-gurauan itu jadi aus dan menyebalkan. Dan anehnya, dia tertawa terus atas leluconnya sendiri! Usut punya usut, kondisi ini ada penjelasannya. Istilahnya adalah Witzelsucht (http://www.bbc.com/future/story/20160308-the-curse-of-the-people-who-cant-stop-making-puns). Mario Mendez, seorang neurolog dari Universitas California pernah menemukan seseorang dengan kondisi ini. Dalam sebuah wawancara, orang ini selalu menjadikan segala hal sebagai gurauan, dan sulit untuk diinterupsi. Ada kerusakan di frontal lobe mereka, membust mereka sulit untuk tertawa dan bersimpati pada lelucon orang lain, tetapi selalu menganggap lelucon mereka lucu. Padahal aslinya, banyak orang terganggu dengan lelucon mereka.

Sejujurnya, saya lebih baik berada di rumah selama liburan panjang ketimbang menghabiskan waktu di tempat menyenangkan dengan orang semacam itu, terlepas dari kelainan yang sebenarnya terjadi pada mereka. Belakangan, saya mulai sedikit mengubah pemikiran itu: masih ada pelempar lelucon yang lebih buruk daripada mereka.

Lelucon tanpa empati
Pemberitaan mengenai Setya Novanto memang tidak ada habisnya, sampai saya tidak tahu lagi harus dengan cara seperti apa mengurutkan segala isu negatif tentangnya. Mulai dari kasus "papa minta saham", dugaan korupsi E-KTP, pelaporannya pada orang yang menjadikannya meme, hingga kasus menghilangnya Setya Novanto saat dicari oleh KPK. Hampir semua orang mengutuk eksistensi Setya Novanto di kehidupan ini. Mungkin banyak orang yang ingin dia mati.

Lalu pada suatu waktu, heboh beredar tautan berita tentang Setya Novanto yang meninggal karwna tenggelam di Pantai Baron (https://news.okezone.com/read/2016/05/26/510/1398607/setya-novanto-ditemukan-tewas-mengambang-di-pantai-baron). Saya sudah tahu kalau itu bukan Setya Novanto asli. Saat dibuka, berita itu pun rupanya adalah berita lawas, tahun 2016. Namun orang-orang tetap saja menyebarkannya, menjadikannya lelucon, dan berharap kalau yang meninggal adalah Ketua DPR tersebut.

Menyedihkannya, orang terus menerus menjadikan tautan berita itu sebagai lelucon, mengesampingkan empati mereka terhadap korban, yang notabene adalah seorang anak berusia 12 tahun. Bayangkan apabila yang tenggelam itu anakmu, keponakanmu, kakakmu, atau adikmu. Lalu hanya karena namanya sama dengan seseorang yang terduga brengsek, dia, yang seharusnya sudah tenang di alam sana, menjadi terkenal kembali, menjadi bahan gurauan.

Saya tidak tahu apakah orang-orang ini masih punya otak. Mereka mengaku bahwa mereka membenci Setya Novanto karena perangai buruknya yang merugikan negara. Merugikan rakyat. Memiskinkan rakyat. Menyusahkan orang yang mau mengurus KTP. Sosiopat. Namun sejatinya mereka tak kalah brengsek, tak kalah bajingan karena menjadikan seorang remaja yang meninggal dengan cara mengenaskan sebagai lelucon.

Pastinya keluarga korban masih bersedih, meskipun kecelakaan itu sudah lama berlalu. Tidak ada satu pun hal yang dapat menjadi penawar bagi rasa kehilangan orang yang kita cintai. Termasuk lelucon ala pasukan keadilan sosial yang minim empati ini.

Jadi suatu saat, kalau kalian yang menyebarkan dan tertawa atas tautan ini kebingungan mengapa ada seseorang yang tebal muka seperti Setya Novanto, mungkin kalian sebaiknya beli kaca terlebih dahulu dan tanyakan kepada diri kalian. Dengan rasa empati yang minim seperti itu, bisa saja kalian berperilaku sama seperti Setya Novanto bila kalian berada di posisinya. Orang mati saja tidak kalian pedulikan, apalagi anggaran untuk mengurus E-KTP?

Foto: pexels.com

You Might Also Like

1 komentar

  1. Tajam sekali tulisannya mbak! Saya suka! Saya suka! Sepertinya bakal betah di blog ini. Nice to find you mbak :)

    ReplyDelete

Our Shop

Subscribe