Rumah dan Mengapa Mereka Enggan Pindah Walau Ada Musibah

14:26



Meski belum meletus, sudah beberapa waktu belakangan ini Gunung Agung di Karangasem, Bali, berada pada status awas. Dilansir dari Kompas, Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Gede Suantika mengatakan bahwa


Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api Gede Suantika, status Gunung Agung masih awas. Pada 1 Oktober 2017 ada 587 kali gempa vulkanik dalam, 306 kali gempa vulkanik dangkal, dan 32 kali gempa tektonik lokal.


Banyak orang mengungsi, tetapi beberapa tak mau mengungsi dan memilih untuk tetap berada di rumah. Dilansir dari BBC, seorang Pemangku di Pura Dadia bernama Wayan Ranis mengatakan bahwa dia belum mau mengungsi karena belum mendapatkan wangsit untuk mengungsi. Wangsit itu didapatkan lewat perasaan atau mimpi yang tidak enak. Ranis juga menambahkan bahwa sejauh ini, walaupun takut, tetapi perasaannya masih damai. Ranis sendiri merupakan salah satu saksi hidup dari letusan Gunung Agung 1963 lalu.


Lagipula, lanjut Ranis,walaupun tanda-tandanya sudah ada di depan mata, bila firasatnya mengatakan untuk tetap tinggal, dia akan tetap tinggal.


Masih dikutip dari sumber yang sama, ada pula Budi Artha, seorang pecalang yang tetap tinggal lantaran ingin menjaga rumah dan ternak para warga. Menurutnya, sebagai sesama manusia kita harus saling membantu. Dalam hal ini, menjaga ternak-ternak yang berguna untuk keberlangsungan hidup. Lagipula,Budi Artha juga ingin memastikan bahwa para penduduk yang notabene adalah tetangga-tetangganya tidak resah di pengungsian karena memikirkan ternak di rumah mereka.


Meski begitu, Budi Artha mengatakan kalau cara dia mengantisipasi letusan gunung adalah dengan tidur di teras, sehingga saat gunung meletus nanti, dia dan istri bisa langsung pergi dengan menggunakan motor.


Rumah sebagai dunia kecil

Keengganan untuk lekas pergi dari rumah dalam keadaan rawan bencana bukan hanya terjadi dalam kasus Gunung Agung saja. Sebelumnya, seperti saat Gunung Merapi meletus, banyak orang yang enggan untuk meninggalkan rumahnya. Padahal dalam kondisi tersebut, rumah mereka bukan lagi tempat yang cocok untuk melindungi mereka dari bencana.


Mengapa banyak orang yang enggan untuk beranjak dari rumah?



Bagi banyak orang, rumah bukan sekadar tempat berlindung dari gangguan fisik seperti panas dan hujan. Sebagai individu-individu yang telah berdiam lama di sana, mengukir banyak kenangan dan tentunya kenyamanan, rumah telah menjadi dunia kecil mereka. Rumah bukan hanya benda mati, tetapi telah menjadi sebuah entitas yang menjamin keselamatan kita.


Dikutip dari artikel berjudul "Konsep Ruang yang Mendasari Desain Interior Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya/Bali Arya II" oleh Drs. I Gede Mugi Rahardja Msn, ada sebuah simbol agama Hindhu bernama simbol Swastika. Simbol ini memiliki makna perputaran dunia yang dijaga oleh manifestasi Kemahakuasaan Tuhan yang Maha Esa di delapan penjuru angin dan berpusat pada Siwa.


Dalam konsep rumah tinggal tradisional Bali Madya, digambarkan kalau pusat Swastika berada di tengah-tengah halaman (natah) rumah, yang bermakna bahwa pusat keselamatan berada di tengah-tengah rumah.


Sementara itu, dilansir dari buku berjudul "Dasar-Dasar Arsitektur Ekologis: Konsep Pembangunan Berkelanjutan dan Ramah Lingkungan" oleh Heinz Frick dan Fx. Bambang Sukiyatno, sejak dulu kala, dalam peradaban manusia, setiap kali ada perayaan yang menyangkut kejadian penting manusia (pernikahan,kelahiran, pertumbuhan besar, kematian), rumah pun juga turut "merayakannya". Ada rite de passage atau upacara "pelepasan" yang dilaksanakan baik untuk manusia di rumah itu sendiri, dan juga rumah itu. Berikut contohnya dilansir dari buku yang sama:



Selain masalah ternak, ada banyak manusia di daerah rawan bencana yang berat hati untuk meninggalkan rumah karena rumah itu sudah menjadi bagian dari dirinya. Ada ketidakrelaan saat melihat rumah itu hancur, sementara mereka selamat. Seolah walaupun mereka selamat sekali pun, kehidupan sudah menjadi berbeda karena rumah,sebagai bagian dari pelindung merela sebelumnya, sebagai ruang untuk mereka tumbuh, berbahagia, bersedih, menyimpan barang, kenangan, dan menjadi dunia kecil alias mikrokosmos mereka kini telah hancur lebur. Mungkin bangunan baru akan bisa didirikan kembali, tetapi rasanya akan berbeda. Lagipula, seperti ada rasa utang budi terhadap rumah: ketika hujan, panas, dan lain sebagainya, rumah itu sudah melindungi mereka. Apakah saat rumah itu butuh perlindungan, mereka akan pergi?


Selain itu,ada rasa takut kalau ternyata, mereka sama sekali tak bisa kembali ke lingkungan tempat tinggal mereka tersebut, dan harus pindah ke lingkungan lain karena mungkin,lingkungan rumah mereka sudah tak layak huni setelah terjadinya bencana. Untuk itu, mereka tetap bertahan. Toh seaman apa pun pengungsian, tetap tak senyaman rumah sendiri tentu saja.


Kalau ditinjau dari aspek keselamatan diri, hal ini bisa jadi sesuatu yang berbahaya. Namun manusia memiliki prioritas dan pemikirannya masing-masing. Kita tak bisa membenarkan, tak bisa juga menyalahkan. Karena manusia tumbuh dengan kenangan dan kerangka berpikir yang berbeda-beda tentang segala hal. Juga tentang rumah. Ada yang menganggap rumah sekadar tempat untuk tidur, jadi berpindah-pindah pun tak masalah kalau memang itu yang harus dilakukan. Ada pula yang enggan meninggalkan rumahnya, karena keterikatan mereka dengan muatan kenangan di dalamnya.


Kalau kalian, bagaimana? Apa kenangan kalian terkait rumah?

Foto: Pexels dan BBC

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe