(Oknum) Anak-Anak Orang Kaya Kekinian yang Tengil

11:45


Jadi beberapa waktu lalu, saya sedang punya waktu luang seharian dan memutuskan untuk kepo alias menelisik media sosial beberapa orang yang menurut saya pantas disebut sebagai "contoh generasi milenial perkotaan yang sukses dan makmur". Beberapa orang saya kenal di dunia nyata, beberapa tidak.  Mengapa saya bilang begitu, karena mereka lahir  dari keluarga menengah ke atas Jakarta, punya rumah di Jakarta, bukan di kota satelit, punya kesempatan untuk bersekolah di lembaga pendidikan terbaik dari kecil bahkan bisa dengan mudah kuliah di luar negeri (yang akan sangat mahal sekali tanpa beasiswa), dan bisa dengan mudahnya mendapatkan atau membuat pekerjaan baru (modal mereka banyak). Oh ya, jangan lupakan lingkaran pertemanan yang sama berkelasnya.

Setelah saya amati, saya baru menyadari kalau di media sosial, mereka amat sering menyindir negara ini. Iya, negara tempat mereka lahir. Tempat paspor mereka dibuat. Terutama setelah adanya rekrutmen CPNS dua gelombang. Mereka menyindir betapa persyaratan CPNS sangatlah tidak masuk akal. Seperti persyaratan calon jaksa yang berat badannya harus ideal (sesuai standar BMI, tidak boleh obesitas), dan lain sebagainya. 

Tidak hanya itu saja, seringkali mereka membicarakan betapa bobroknya negeri ini. Mereka membicarakan bahwa di Indonesia, sulit mencari kandidat yang bermutu untuk berbagai pekerjaan bermutu. Tentunya dengan gaya obrolan yang sarkastis, semacam "Memang ada ya di Indonesia, orang dengan mutu kayak gini?"

Kalau harus dijabarkan semua, mungkin saya harus menulis skripsi atau menulis hikayat terkait ini. Banyak sekali, sindiran mereka terkait negeri ini. Jangan lupakan istilah-istilah Bahasa Inggris yang mereka selipkan supaya kalimat-kalimat mereka terlihat lebih keren.

Saya tidak memungkiri bahwa ada banyak masalah di negeri ini. Kemiskinan? Ada. Korupsi? Banyak. Angka kematian bayi? Banyak juga. Perseteruan di media sosial? Memang sedang panas-panasnya. Sistem rekrutmen CPNS yang kacau? Kenalan saya mengalaminya, saat harus jauh-jauh pergi ke Bandung untuk tes, padahal KTP-nya Depok, dan karena sistem yang rusak, jadwal tesnya harus diundur. Apakah saya sering kecewa pada negeri ini? Sering sekali. Namun bukan berarti saya harus mengutuki negeri ini dan menganggap bahwa diri saya malang sekali karena ditakdirkan lahir di negara ini.

Setiap negara memiliki masalahnya masing-masing. Begitu pun negara-negara lain yang mereka puja-puja itu. Pernah pergi ke beberapa negara di Eropa? Coba rasakan sendiri dan lihat bahwa negara-negara itu juga punya masalah sosial sendiri. Prancis dengan angka pencopetan, rasisme, dan jumlah tunawisma yang tinggi (di Paris). Jepang dengan masalah prostitusi dan angka bunuh diri tinggi. Dubai dengan masalah tenaga kerja illegal dan perkampungan kumuh yang mungkin tak akan kamu lihat di dekat Burj Khalifa. Singapura dengan masalah kesenjangan sosial dan juga perkampungan kumuh. Hong Kong dengan masalah hunian dan kemiskinan.

Semua negara dan kota menyimpan cerita. Bukan sekadar cerita manis, yang pahit pun banyak. Cerita pahit ini bukan untuk dilupakan, tetapi untuk dicari solusinya. 

Kembali lagi ke para manusia milenial sukses itu, mereka bisa dengan mudahnya menyindir negara ini. Tidak hanya di media sosial, tapi juga di dunia nyata. Ah ya, aktivitas kepo ini membuat saya jadi ingat banyak perbincangan saya dengan beberapa manusia milenial sukses nan makmur itu dengan saya, saat saya berasa pada posisi pendengar lugu dan mereka menjadi para makhluk inspiratif yang punya tingkat dewa. Menyindir betapa kualitas manusia di negara ini rendah. Menyindir kalau pilihan untuk jadi PNS itu tidak inovatif. Menyindir kalau banyak orang di negara ini cuma memikirkan masalah spiritual tapi tidak mau berusaha.  Entah tolok ukurnya apa atau siapa. Mungkin diri mereka sendiri.

Kalau dilihat dari sisi intelektual, mungkin mereka menang. Mereka paham berbagai bahasa. Mereka bisa menelaah berbagai masalah dengan baik. Mereka bisa bekerja di kantor-kantor multinasional dan juga bisa meraih pendapatan tinggi. Mereka bukan orang-orang yang akan mengeluhkan di media sosial mengapa si pacar berubah dengan huruf besar kecil. Mereka juga tidak harus capek-capek mencari lowongan pekerjaan dan bertanya kepada Badan Kepegawaian Negara kapan CPNS akan dibuka, karena mereka punya jaringan pertemanan berkualitas, punya ijazah bagus, dan punya orangtua yang mapan.

Namun mereka tidak pernah berpikir kalau ada banyak orang yang tidak seberuntung mereka. Banyak yang mungkin secerdas mereka, tetapi tidak bisa kuliah karena keadaan. Mereka bahkan bisa kuliah langsung di luar negeri tanpa beasiswa. Tanpa beasiswa lho, bayangkan betapa kayanya. Setelah lulus, mereka bisa langsung memilih kerja di sini, di situ, karena mereka punya kemampuan dan ijazah, dan teman-teman yang siap sedia bertanya hal semacam, "Eh, gue butuh buat posisi blablabla, lo mau ya?". Dibajak perusahaan lain sudah bukan barang mewah buat mereka.

Keadaan yang tidak seberuntung mereka jelas menciptakan pola pikir dan masa depan yang di mata mereka, tidak seberkualitas mereka. Orang-orang dengan keadaan yang tidak seberuntung mereka juga punya pilihan yang lebih sedikit. Saat mereka bisa dengan bebasnya memilih kampus-kampus beken di luar negeri, orang yang keluarganya serba terbatas secara ekonomi misalnya, harus tahu kampus mana saja yang bisa dia masuki lewat beasiswa. Atau, bila mereka tidak seberuntung itu dalam mendapatkan beasiswa, mereka juga harus bekerja sambil berkuliah. Sebuah keadaan yang sekali lagi, tidak seberuntung geng-milenial-sukses-kaya-raya itu.

Lantas kalimat “Ya kalau lo nggak kaya, usaha lebih keras dong!”. Kalimat ini ada benarnya, tetapi jelas mereka yang tidak beruntung secara finansial ya, tidak bisa mencapai impian semudah mereka yang beruntung. Bisa saja orang-orang itu juga sudah mencoba untuk belajar, tetapi pikirannya terganggu oleh masalah keluarga, yang lagi-lagi berpusat pada uang,uang, dan uang. Atau lainnya. Begitulah. Lalu pada saat bekerja, orientasi mereka adalah uang dan jaminan hari tua, bukannya inovasi atau apalah, karena mereka sudah lelah menjadi miskin.

Namun mungkin anak-anak beruntung yang suka menyindir orang dan negara itu, tidak akan pernah betul-betul paham tentang hal ini. Pikiran mereka terlalu terpusat pada kemilau kehidupan mereka yang modern, kekinian, futuristik, dan juga berstandar internasional itu. 

Foto: Pexels.com

You Might Also Like

1 komentar

Our Shop

Subscribe