Bagi Daging, Bagi Pula Informasinya di Media Sosial

20:48



Saya kira hal terbodoh yang pernah dilakukan manusia dalam lingkaran kehidupan saya adalah bangga saat namanya disebut di masjid sebagai salah satu penyumbang hewan kurban. Saya kira bantuan tak perlu dibanggakan, karena sudah selayaknya manusia membantu dan berbagi dengan manusia lain yang membutuhkan. Itu bukan prestasi.


Namun rupanya, orang yang saya pikir terbodoh itu bukan orang terbodoh. Kemarin, saya menemukan foto yang diunggah oleh seorang kenalan saya di media sosial. Foto itu adalah foto kambing yang dia kurbankan di Idul Adha. Tidak hanya foto, dia juga memberi kutipan yang menyatakan syukurnya karena bisa berkurban.


Seolah terlihat rendah hati, padahal sebetulnya yang ingin dia lakukan adalah memamerkan kemampuan dia berkurban. Menurut dia, kemampuan berkurban tidak hanya menunjukkan kebaikan hatinya, tetapi juga kekayaan. Membuat saya ingin sekali mengalungkan papan bertuliskan oxymoron tepat di lehernya.


***


Fenomena pamer kurban ini bukan barang baru. Namun seiring dengan berkembangnya media sosial, memamerkan kurban secara frontal dan vulgar menjadi lebih mudah. Kalau kurbannya sapi, pamernya akan lebih menyenangkan, meskipun jelas sapinya bukan yang beratnya berton-ton. Setidaknya, sapi dihargai lebih dari 10 juta.


Manusia pada dasarnya memang makhluk yang membutuhkan pengakuan. Namun memamerkan sesuatu yang sudah sewajarnya dilakukan, apalagi dalam bentuk ibadah, rasanya memalukan. Ini menandakan kalau mereka tidak punya hal lain untuk dipamerkan sehingga harus mengais-ngais mencari hal apa yang bisa dibanggakan dari diri mereka.


Hanya saja, kalau kita bilang begini terhadap "si-tukang-pamer-hewan-kurban", kita akan dianggap sebagai pendengki, dan orang-orang yang punya nama lain si dungu itu akan berkata hal-hal semacam "Gue kan kayak gini sebagai tanda syukur, lo iri aja kan karena lo nggak mampu kurban?"


Lagi-lagi, bias sekali batas antara bersyukur dan pamer.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe