Apakah Anak Adalah Investasi?

23:55



Beberapa waktu lalu, saya melihat seorang teman membagikan tulisan menggelitik di Internet. Tulisan itu berisi tentang kesedihan dan kekhawatiran seorang ibu saat membayangkan bahwa suatu saat, sang anak akan pergi, semakin jauh, dan juga tak sedekat dulu lagi. 


Tulisan yang bersumber dari Quora itu kira-kira isinya begini: `walnya, anak selalu bersama kita. Kemudian setelah dia masuk sekolah, berkuranglah waktu kita untuk bersamanya. Masuk kuliah, semakin berkurang (bisa saja hanya sebulan sekali kalau anak di luar kota). Saat kerja apalagi. 


Nanti setelah anak menikah, keluarga barunya adalah prioritas. Bisa saja dia hanya pulang tiga bulan sekali. Setahun sekali. Ketika lebaran, natal, atau hari besar lainnya. 


Ini masalah pertemuan. Ada pula masalah lain yakni finansial. Orangtua akan memberikan segalanya termasuk menjebol tabungan untuk membiayai anak, mulai dari kelahiran, keperluan popok, susu, makanan, baju, keperluan sekolah, keperluan bermain, sampai keperluan tersiernya seperti ponsel misalnya. Kalau ditotal, pasti akan menyamai harga rumah. Yang jelas tidaklah murah. Bagi orangtua yang pas-pasan secara ekonomi, mereka pasti akan berjuang keras untuk dapat memenuhi kebutuhan sang anak.


Lalu kemudian beberapa orangtua akan berharap kalau suatu saat, ketika anak-anak sudah dewasa, anak-anak mereka akan merawat mereka. Membiayai mereka, sebagai bentuk balas budi. Selalu menemani mereka.



Anak bukan investasi

Tidak ada yang salah dari harapan barusan. Wajar bila setelah kita merawat dan membesarkan serta membiayai anak, kita mengharapkan balasan dari mereka walaupun jelas tak akan sebesar apa yang sebagian besar orangtua telah berikan pada anaknya.


Namun harus kita catat bahwa anak bukanlah investasi. Anak bisa saja tumbuh tak sesuai keinginan kita. Anak bisa saja tak sekaya itu hingga untuk membiayai keluarga kecilnya saja, uangnya pas-pasan. Atau bisa saja anak bekerja di tempat yang jauh dari tempat kita, serta tak bisa terus menerus berada di dekat kita.


Anak yang baik akan menjaga dan merawat orangtua mereka saat besar nanti. Bahkan merawat orangtua merupakan sebuah kewajiban. Anak yang baik juga akan berusaha keras agar orangtuanya terjamin saat mereka renta. Namun orangtua tidak boleh mengandalkan hal itu. Orangtua harus memastikan juga bahwa dia tidak akan menjadi beban anaknya.


Rasanya mungkin sulit terutama bagi beberapa orangtua yang baru. Mengurus anak sedari bayi memang berat. Jauh lebih berat daripada mengurus orangtua yang sudah renta. "Lalu kalau begitu, sia-sia saya mengurus anak dari bayi?". Pikiran itu harus dihilangkan.


Karena mengurus anak, berarti belajar mengenai keikhlasan. Mengurus anak berarti belajar kehilangan. Karena suatu saat, anak akan lepas dari dekapan kita. Suatu saat, anak akan memiliki keluarga sendiri. Memang berat membayangkan itu semua sebagai orangtua yang baru. Namun apa yang lebih membahagiakan ketimbang melihat sesosok makhluk yang selama ini kita besarkan, mampu menjadi orang yang berguna?

You Might Also Like

5 komentar

  1. anak adalah amanah,
    tergantung cara kita merawat dan keikhlasan kita,
    kita akan memetik apa yang kita perbuat saat kita menanam

    ReplyDelete
  2. Anak adalah harta yang paling berharga bagi keluarga

    ReplyDelete
  3. Anak adalah harta yang paling berharga bagi keluarga

    ReplyDelete
  4. anak adalah penerus bangsa......

    nice artikel!!!!

    ReplyDelete
  5. bener nih anak harus kita jaga, kita didik, dan kita pantau perkembangannya

    ReplyDelete

Our Shop

Subscribe