Tidak Selamanya Kemerdekaan Itu Menyenangkan

12:40



Saat saya kuliah dulu, saya merasa bahwa hidup ini akan sangat indah bila saya tidak perlu lagi berkuliah. Pastilah saat itu beban saya akan terangkat. 


Namun nyatanya, setelah lulus, hidup ini sama saja beratnya. Bahkan banyak tantangan lain, yang dulu saya kira lebih mudah dilewati, rupanya jauh lebih berat.


Mengapa saya tidak lebih bahagia setelah sekian lama lulus dari kampus saya? Padahal beban saya yang besar sudah terangkat. 


Hal yang sama juga terjadi setelah masalah-masalah lain selesai. Perasaan lega itu hanya berlangsung sementara saja. Paling lama sebulan. Kemudian nantinya akan digantikan dengan perasaan lain. Kalau sedang tidak ada masalah, biasanya yang muncul adalah rasa bosan. 



Saya jadi ingat tentang sebuah film yang menceritakan keadaan pasca-kemerdekaan berjudul Lewat Djam Malam. Seorang bekas pejuang bernama Iskandar yang mencari pekerjaan dan mengontak teman-temannya sesama pejuang di masa lalu yang ternyata justru membuatnya kecewa. Ada temannya, Puja, yang jadi centeng di sebuah rumah bordil. Ada pula Gunawan, mantan komandannya yang malah menjadi pemborong kaya dengan cara kotor. Di akhir cerita, Iskandar tertembak oleh pasukan jaga saat dia berjalan denagn linglung ke ruma kekasihnya usai membunuh Gunawan yang tidak mau mengakui perilaku korupnya.


Film ini memiliki muatan kritik sosial yang sangat apik. Bahwa setelah kemerdekaan, bukan berarti sebagian besar rakyat Indonesia merdeka dari perilaku tercela. Dan orang-orang yang dulunya berjuang bisa jadi memiliki sifat yang sama buruknya dengan penjajah (memang tidak semuanya, tapi ada oknum-oknum tertentu). Kenyataannya toh, memang ada banyak permainan politik kotor usai kemerdekaan.


Namun yang tak kalah menarik ketimbang kritik sosial tersebut dari film itu adalah, kegelisahan Iskandar setelah tidak lagi menjadi pejuang. Dia bingung mencari pekerjaan yang cocok. Mungkin saat masih melawan penjajah dulu, dia merasa semangat karena memiliki tujuan hidup. Dia tidak bebas, tetapi dia memiliki harapan untuk bebas, dan harapan itulah yang membuat hidupnya menjadi berarti.


Mengapa akhirnya saya merasa bahwa ternyata setelah lulus hidup tidaklah lebih baik karena beban saya sudah diangkat. Masalah besar itu pun hilang. Namun ketika saya tidak menemukan tantangan lain, saya merasa jenuh sekali. Pada akhirnya saya menemukan kenyataan bahwa hidup yang berarti bukanlah kehidupan yang betul-betul bebas, bukanlah hidup tanpa tekanan dan masalah, tetapi justru hidup yang penuh dengan tantangan untuk diselesaikan. Tak memiliki tantangan apa-apa dalam hidup ini justru membuat kebebasan menjadi menyiksa. Seperti kutukan, kalau meminjam apa yang pernah dikatakan filsuf Jean-Paul Sartre.


Maka jagalah agar hidup kita tidak dipenuhi masalah berat. Namun janganlah lari dari tantangan. Selalu cari tantangan baru agar kita merasakan nikmatnya hari-hari saat bisa menyelesaikan tantangan tersebut. Jangan sampai kita berjalan linglung dalam kehidupan layaknya Iskandar.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe