Si Miskin Pun Kini Banyak Mau

21.31



Beberapa waktu yang lalu, saya dan suami saya memperbincangkan tentang Masyarakat Berpenghasilan Rendah dan perilaku mereka yang konsumtif. Untuk memenuhi kebutuhan primer dan kebutuhan penting lain seperti sekolah, peralatan mandi, dan bayar listrik saja mereka masih kesulitan, tetapi entah mengapa mereka rela merogoh kocek untuk membeli sesuatu yang sebetulnya tak mereka butuhkan. Seperti misalnya, jalan-jalan, makan di restoran mahal, membeli ponsel, membeli motor baru, merokok, dan salah satunya yang modern adalah..beli alat vaping.

Hal ini hampir sama dengan apa yang ditulis pada artikel Metrotvnews ini . Dalam artikel tersebut Ari Kuncoro, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, mengatakan bahwa penyebab lesunya konsumsi rumah tangga atau daya beli masyarakat terutama dilihat dari penjualan ritel dikarenakan karena gaya hidup yang hedonis. Masyarakat Indonesia lebih mementingkan hal-hal semacam jalan-jalan atau hura-hura ketimbang membeli keperluan mereka.


Hal ini menurut saya, sebetulnya tak bisa dilepaskan dari perkembangan media sosial. Salah satunya Instagram. Jalan-jalan dan #ootd (Outfits of The Day - Busana Hari Ini) adalah dua topik yang paling sering dipamerkan di Instagram. Dilansir dari Tirto, riset dari Royal Society of Public Health (RSPH), sebuah lembaga kesehatan dari Inggris menyatakan bahwa Instagram adalah media sosial yang paling memicu depresi di Inggris. Selain itu, ada responden dari RSPH yang menyatakan bahwa karena Instagram, banyak pengguna yang merasa bahwa tubuh mereka buruk, dan hal ini memperbanyak penggunaan filter-filter foto untuk memperindah tubuh mereka. 


Tidak hanya itu saja, foto-foto liburan pun juga memicu rasa rendah diri pada pengguna Instagram. 
Padahal, belum tentu apa yang kita lihat di Instagram adalah gambaran keseluruhan dari hidup para pengguna. Bisa saja foto-foto liburan indah diambil oleh orang-orang yang hidupnya buruk, untuk itu mereka memutuskan untuk berwisata guna menghibur diri. Bisa saja orang yang berlibur adalah duta atau brand ambassador dari suatu produk wisata. Atau bisa saja efek fotolah yang membuat tempat-tempat wisata yang mereka datangi jadi indah. Hal yang sama berlaku pula pada citra wajah dan tubuh. Bisa saja seseorang yang terlihat menarik di Instagram memang sedang menggunakan filter foto yang bagus dengan ponsel bagus, busana bagus, motor dan mobil bagus, atau foto diambil dari sudut yang bagus.


Kesempurnaan yang ditampilkan di Instagram inilah yang membuat banyak orang dengan penghasilan pas-pasan memaksakan diri untuk jalan-jalan dan membeli baju,kendaraan, ponsel, serta make-up. Supaya terlihat keren di Instagram. Kalau sudah keren, lantas bagaimana? Lantas nanti akan dapat banyak followers,akan dikagumi banyak orang. Manusia adalah makhluk yang butuh pengakuan, maka kekaguman sangatlah penting. Kekaguman adalah salah satu bentuk kapital simbolik yang dapat memuaskan diri kita.


Kalau kita terlampau sering kepo orang yang jalan-jalan atau pamer barang di Instagram, maka foto-foto yang tampil di laman rekomendasi pun akan sesuai dengan apa yang sering kita perhatikan tersebut. Makin irilah kita. Makin inginlah kita unjuk diri. Padahal, untuk kebutuhan sehari-hari pun kita masih kesulitan. Namun demi eksistensi, kita rela merogoh kocek untuk membeli hal-hal yang tak kita butuhkan itu.


Masih ingat dengan kasus dugaan penipuan bos Firstravel Andika Surachman dan fashion designer Anniesa Hasibuan? Keduanya juga sering mengunggah foto jalan-jalan ke berbagai tempat di Bumi ini. Apakah kemudian hidupnya tenang? Tidak,karena diduga uang untuk berfoya-foya itu didapatkan dengan cara yang merugikan orang lain. Namun sekali lagi, tidak semua masyarakat menyadari hal ini. Masih banyak yang menganggap kalau keindahan hidup hanya dinilai dari apa yang bisa ditampilkan di Instagram. Dan sayangnya, banyak di antara mereka yang berpenghasilan rendah. 
Ada kenalan saya yang rela menghabiskan uangnya untuk sewa kamera dan mobil. Untuk apa? Supaya bisa menghasilkan foto bagus di Instagram. Tidak, dia bukan influencer yang foto-fotonya bisa diuangkan. Dia menyewa mobil dan kamera hanya supaya bisa terlihat sama dengan para selebgram. Padahal, untuk makan sehari-hari saja susah.


Ada pula yang  minta motor Ninja supaya bisa dipamerkan di media sosial. Iya, di kampung-kampung, memiliki motor mahal adalah kebanggaan bagi para remaja. Dan mereka juga ingin dianggap keren, tidak hanya di depan teman-teman mereka tetapi juga di media sosial.
Dan terakhir, ada pula kenalan saya yang rela berutang pada debt collector hanya untuk..membeli vaporizer.


Setelah mendahulukan keinginan yang sebetulnya tidak penting ini, kemudian mereka pun mengeluh tentang sulitnya membeli kebutuhan sehari-hari. Ini naik, itu naik, harga kok tambah mahal. Pertanyaannya, kalau memang mereka tahu bahwa harga-harga barang akan semakin mahal, mengapa dari awal tidak memprioritaskannya saja? Oh ya, karena sekadar masak nasi atau membayar listrik, tak bisa diunggah di media sosial.
Ya, selamat datang di era kekuasaan dunia virtual. Bahkan yang nyata pun tak sepenting yang maya, hingga membuat si miskin yang untuk makan saja susah, jadi banyak mau dan ingin sebanding dengan para sosialita.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe