Speechless, Komedi Situasi Tanpa Eksploitasi

11.15



Tidak terlalu mudah bagi saya untuk menyukai komedi situasi. Pilihan saya biasanya jatuh pada serial detektif yang lebih penuh dengan teka-teki dan tidak mengandung terlalu banyak drama. Komedi situasi identik dengan genre komedi yang menurut saya mengandung banyak drama dan humor -yang seringkali dipaksakan-.


Meski begitu, persepsi saya mengenai hal tersebut berubah setelah menonton Speechless. Komedi situasi yang ditayangkan di saluran ABC (di televisi kabel Indonesia Starworld) ini menceritakan tentang kehidupan keluarga DiMeo. Anak pertama keluarga DiMeo, J.J, mengidap celebral palsy (semacam penyakit syaraf), yang membuatnya harus duduk di kursi roda dan berbicara dengan menggunakan kertas serta laser di kursi rodanya. Anak kedua, Ray DiMeo, adalah si "paling-pintar" di keluarga yang sepertinya selalu menyesali mengapa dia terlahir di keluarga dengan kelakuan urakan, dan menganggap bahwa dia adalah yang paling teratur di sana. Anak ketiga, Dylan DiMeo, adalah seorang remaja bermulut pedas yang jago berolahraga di sekolah. Orangtua mereka, Maya DiMeo dan Jimmy DiMeo, adalah tipikal orangtua santai yang sering berkelakuan ganjil, seperti pura-pura jadi orang kaya supaya bisa menikmati fasilitas di klub privat, wisata keluarga tanpa rencana, hingga mencari taktik jitu merayu agen asuransi supaya mereka berhasil mendapatkan klaim.



Setiap pemeran dalam keluarga tersebut memiliki porsinya masing-masing, tetapi tentunya J.J lah yang paling mencuri perhatian karena celebral palsy agak jarang diangkat sebagai isu dalam serial. Kalau pun diangkat, biasanya ceritanya akan bernuansa sedih, bukan ceria seperti Speechless.

Nah, di sinilah kemudian kelebihan Speechless: tidak menjadikan kasus celebral palsy dan kemiskinan sebagai penderitaan yang harus ditangisi oleh para penonton. Keluarga DiMeo bukan keluarga kaya, dan untuk ukuran keluarga yang hidup di Amerika Serikat, rumah mereka cukup jelek, di pinggiran kota pula. Selain itu, J.J yang tak bisa bicara dan berjalan tentunya akan membuat kita terenyuh. Namun alih-alih digambarkan sebagai "remaja malang dan miskin yang mengidap cerebral palsy dan selalu dirundung alias di-bully" (seperti premis yang biasa ada di sinetron/FTV/film Indonesia), J.J digambarkan sebagai sesosok remaja yang punya selera humor sarkastik, cukup disenangi di sekolah, dan punya hubungan asyik dengan Kenneth, pendampingnya yang disewa oleh orangtua J.J,yang sebelumnya bekerja dengan tukang kebun.



Tidak pernah ada cerita tentang J.J yang mengalami kemalangan dan dibedakan karena cerebral palsy-nya. Atau orangtua J.J yang berlaku tidak adil kepadanya karena dia adalah penyandang disabilitas. Atau, saudara-saudaranya yang meremehkan dan "ngerjain" dia karena dia menyandang disabilitas. Justru seringkali, J.J lah yang "ngerjain" orang. Ray, adiknya yang suka sok pintar itu seringkali terkena jebakannya.



Meskipun tanpa kemalangan J.J atau cerita mengharu biru lainnya, bukan berarti serial ini mengajarkan kita untuk menjadi seseorang yang tak berhati. Justru, melalui serial ini, kita diajarkan bahwa penyandang disabilitas juga adalah kita: kekurangan yang mereka miliki tak lantas mengurangi nilai mereka sebagai manusia.



Lagipula, penggambaran kesedihan yang berlebihan terkait penyandang disabilitas justru merupakan bentuk eksploitasi terhadap mereka. Kita seringkali melihat bahwa bukannya menyosialisasikan kesetaraan terhadap penyandang disabilitas, kesedihan berlebihan yang ditampilkan berbagai karya fiksi terkait disabilitas dipakai untuk menggugah simpati masyarakat, dan simpati itulah yang bisa menaikkan rating atau penjualan. Mereka tidak benar-benar peduli.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe