Sosialita yang Baru Bertunangan dan Perbedaan Kelas Sosial

16:56


Jadi minggu lalu, sesosok sosialita wanita yang dianggap sempurna bertunangan dengan lelaki yang tentu saja tak kalah berkelas. 

Ada alasan mengapa sosialita yang satu ini dianggap berkelas dan lebih berkualitas dibandingkan sosialita lain. Dia anak orang berada (sudah pasti). Langsing. Tinggi. Santun. Bisa bermain musik. Lancar berbahasa Inggris. Punya proyek filantropis. Punya calon suami lulusan Harvard yang juga anak dari pengusaha. Dan yang paling penting, dia berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Teman-temannya pun berkualitas dan berkelas. Seolah semua kapital sudah dia miliki: ekonomi, simbolik, sosial, budaya.

Berbeda dengan sosialita lain yang seringkali terlihat clubbing sambil mabuk-mabukkan, sosialita yang satu ini terlihat sangat sopan. Di media sosial, dia tidak pernah menggunakan busana yang menurut masyarakat kita "kekurangan bahan". Tidak pernah mengunggah foto saat clubbing atau mabuk. Bahkan Vivanews pun menyebutkan bahwa dia memiliki semua hal yang harus dipenuhi untuk disebut sempurna. Di Forum Detik, yang terkenal dengan Forum Selebritinya, banyak anggota yang menganggap bahwa sosialita ini paripurna dan punya segalanya.

Saya pun mengakui bahwa di antara sederet sosialita negeri yang biasanya hanya bisa pamer kemewahan dengan cara norak, sosialita yang satu ini cukup inspiratif dan santun. Saya pernah melihat dia dalam liputan Biyan: Seruni tahun 2014. Sejauh yang saya lihat, dia adalah orang yang ramah dan menyenangkan. Jadi wajar kalau banyak orang mengaguminya.

Namun saya merasa gerah saat beberapa orang dalam grup Whatsapp saya membahas betapa sempurnanya dia, usai membaca berita tentang pertunangan dirinya tersebut. Segala pujaan pun ditujukan kepadanya seolah dia manusia tanpa cela. Dan dengan gamblang, beberapa kawan saya pun merendahkan diri mereka sendiri dan membanding-bandingkan segala hal yang mereka miliki dengan yang dimiliki oleh sosialita tersebut.

Dilihat dari kapital yang dimiliki, teman-teman saya itu memang mungkin kalah jauh dengan sosialita tersebut. Namun saya pikir, hal itu tidak lantas menjadikan sosialita itu makhluk sempurna tanpa cela dan menjadikan Dunia ini tidak adil. Tidak. Teman-teman saya dan sosialita itu hanya berada pada kelas sosial yang berbeda. 

Bagi sekelompok orang lain di kelas sosial lain, bisa jadi teman-teman saya, dan kamu, adalah makhluk tanpa cela. Pastinya akan selalu ada yang merasa kalau kita sangat beruntung. Dalam hal ini, teman-teman saya misalnya,. Mereka yang tidak berkuliah dan tidak pandai merias diri serta tidak punya akses untuk bertemu dengan orang-orang penting pastinya akan melihat teman-teman saya itu sebagai sosok-sosok yang sempurna. Sosialita paripurna. "Beruntung banget sih bisa kuliah di universitas bergengsi, bisa beli lipstik mahal, bisa kerja di Sudirman...", dan seterusnya. 

Bagi selebriti Hollywood seperti Natalie Portman misalnya, sosialita tersebut mungkin dianggap bukan siapa-siapa. Natalie Portman kemungkinan tidak akan menghujaninya puja-puji dan menganggapnya sosok sempurna karena..ya kelasnya Natalie Portman berada di atas sosialita itu: selebriti internasional, lulusan Harvard, cantik, pintar berakting, berkelas. 

Sementara itu bagi kita, sosialita itu paripurna karena segala kapital yang dimilikinya melampaui kita. Namun kita tak semestinya mengasihani diri kita sendiri karena, ada banyak orang di bawah kita yang akan menganggap kita beruntung. Dan tak semestinya juga kita tinggi hati, karena akan ada banyak orang pula yang menganggap kalau kita bukan siapa-siapa.

Dan sekali lagi, beruntung atau tidak, miskin atau kaya, itu semua sekadar masalah perbedaan kelas sosial saja. Ibaratnya, tidak mungkin kita menandingkan juara sepakbola antarkampung dengan Ibrahimovic. Atau setidaknya, bintang Timnas kita dengan Messi misalnya. Namun hal itu tidak lantas menjadikan si juara sepakbola antarkampung itu sebagai orang yang malang, atau si bintang Timnas sebagai pemain yang buruk, tidak. Semua punya kelasnya masing-masing.


Seperti, tidak lucu juga bukan kita membandingkan warna merah dengan warna kuning dalam sebuah palet, lantas berkata: Cat merah ini lebih merah lho daripada cat yang warna kuning! Keduanya hanya..berbeda tingkatan saja. 

Foto:pexels.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe