"Passion" Saja Tidaklah Cukup

23.13



"Kalau mau sukses, ikuti passionmu aja!"


Pernyataan itu sangat sering saya dengar tujuh tahun lalu, saat saya mau masuk kuliah. Pasalnya, pada saat itu banyak pelajar SMU seumuran saya yang mengambil jurusan tertentu bukan karena mereka suka, tetapi karena mereka berharap bisa mendapatkan masa depan yang baik. Contohnya, kedokteran. Dokter identik dengan profesi yang mapan dan banyak uang. "Sekali periksa aja bisa dapet tuh seratus ribu..", begitu kata banyak orang (walaupun sebetulnya proses untuk menjadi dokter tidak semudah itu).


Banyak orangtua yang membayar uang pangkal setinggi mungkin dalam ujian masuk fakultas kedokteran di berbagai kampus negeri, supaya anak mereka bisa diterima di kedokteran. Ada beberapa orang pula yang saya tahu tidak pintar, tetapi bisa masuk ke fakultas kedokteran hanya karena dia membayar dalam jumlah yang fantastis. Pada akhirnya, dia pun kewalahan sendiri dalam menyelesaikan kuliahnya. Karena apa? Karena sebenarnya dia tidak punya passion alias minat di sana.


Namun bagaimana dengan mereka yang mengikuti minat mereka, dan tidak terpengaruh pendapat orang lain? Ada yang sukses, ada juga yang tidak.


Mereka yang sukses, sudah tentu tahu apa yang mau mereka lakukan dalam hidup mereka, mengusahakannya, dan juga belajar bagaimana bisa bertahan dalam dunia yang mereka sukai itu.


Masih ingat dengan Mike Tyson? Petinju yang satu ini memang hebat. Namun pada tahun 2003, dia bangkrut bahkan memiliki utang sebesar US$ 23 juta. Padahal, kekayaan dia sebelumnya berjumlah hingga US$ 300 juta. 


Hal ini terjadi karena Mike Tyson terlalu terbuai dengan kekayaannya dan menghambur-hamburkan uang untuk membeli barang-barang yang tak dia butuhkan. Selain itu, dia juga terbuai dengan kemampuan bertinju yang dia miliki. Padahal, keahlian bertinju memiliki batas. Saat dia sudah tua nanti, kemampuan fisiknya pun akan menurun dan secara otomatis, dia harus mundur dari ring tinju. 


Tidak hanya petinju, orang lain yang terlalu terbuai dengan minatnya dan enggan belajar hal lain pun juga suatu saat akan menemui jalan buntu. Misalnya, seorang penulis yang hanya mau menulis saja tanpa mau belajar cara pemasaran, atau mempelajari teoori psikologi, sosiologi, bahkan sains untuk memperkuat tema penulisan, atau bahkan hanya mau menulis fiksi saja misalnya.


Contoh terakhir memang pengalaman pribadi saya. Saat novel saya diterbitkan pada tahun 2012 lalu, saya cenderung (entah bodoh atau) idealis. Saya tidak mau membesar-besarkan cerita tentang novel saya di media sosial supaya novel itu laku. Bahkan saya menganggap kalau novel yang bagus tak perlu sulit-sulit dipasarkan, karena hal itu akan membuat novel menjadi tidak ada bedanya dengan barang jualan lain. Nyatanya, dalam pembuatan sebuah karya, proses pemasaran juga merupakan elemen penting, bahkan tak bisa dipisahkan.


Dulu juga saya sering merasa sebal dengan tulisan berjenis pop atau artikel-artikel yang menggunakan bahasa selingkung, atau yang membahas gaya hidup. Namun belakangan ini justru itulah yang menjadi sumber penghidupan saya. Apakah setelah itu saya menjadi penulis yang tidak "semegah" dulu? Tidak. Saya mencari alternatif. Dan alternatif itu -sebagai penulis artikel- tidaklah buruk. Bahkan menginspirasi banyak orang. Tulisan yang bernilai bukan sekadar tulisan yang dicetak di atas kertas, dengan bahasa rumit macam "sempana, burai.." dan Bahasa Indonesia lain yang jarang digunakan dalam percakapan itu. Tulisan yang bernilai adalah, tulisan yang memberikan sesuatu kepada pembacanya.


Kalau saya tidak mau belajar dari kesalahan, kalau saya tetap sok idealis,mungkin sekarang saya tidak akan mendapatkan uang dari menulis. Mungkin menulis hanya menjadi sebuah kenangan yang pernah saya lakukan. Bukan penghidupan, bahkan hidup! Ya, saya bahkan tak bisa membayangkan hidup sehari saja tanpa menulis artikel.


Saya bukannya mau menjadikan diri saya sebagai contoh baik, tidak, atau lebih baik saya bilang "belum". Namun bagi kalian yang ingin mengikuti minat, ingatlah, buka diri kalian terhadap hal lain. Kalian suka masak? Belajar juga media sosial, pemasaran, bahkan belajar konsep penataan makanan supaya masakan kalian bisa dikenal banyak orang. Suka melukis? Belajar ilustrasi dengan menggunakan perangkat lunak tertentu, atau belajar desain grafis. Suka fotografi? Belajar desain grafis, media sosial, atau blogging juga penting. Atau pelajarilah subyek lain yang kalian rasa bisa menunjang minat kalian.


Ibarat bangunan, minat bukanlah satu paket one stop living mahakarya Agung Sedayu atau Agung Podomoro Group. Minat adalah sebuah rancangan bangunan yang harus diwujudkan dengan berbagai elemen berbeda. Seperti layaknya bangunan yang tak sekadar membutuhkan semen saja, atau bata saja, atau kawat saja, tetapi semuanya. 


Dan idealisme bukanlah sekadar tentang mempelajari dan setia pada satu hal saja. Itu namanya jalan di tempat. Padahal, hidup ini adalah sebuah jalan nan panjang dan bukannya alat treadmill.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe