Insting Manusia Untuk Mati

08.31



Kepemilikan manusia atas insting untuk hidup, adalah sesuatu yang sudah dipahami oleh hampir semua orang sejak dulu. Kita bisa melakukan apa saja demi mempertahankan hidup kita sendiri. Mengapa insting bisa begitu kuat mempengaruhi hidup kita? Pasalnya, insting adalah perwujudan psikologis dari kebutuhan jasmani kita. Insting adalah tombak untuk memenuhi kebutuhan tersebut, memastikan kebutuhan itu tak terabaikan.


Namun insting untuk mati? Mungkin ini masih dianggap sebagai sesuatu yang tak wajar. Pasalnya kematian adalah sesuatu yang biasanya dihindari oleh manusia. 


Meski begitu, Sigmun Freud, seorang psikiater asal Austria yang terkenal dengan teori psikoanalisianya mengatakan bahwa manusia juga punya insting mati. Insting mati ini oleh Freud disebut Thanatos (diambil dari nama dewa kematian pencabut nyawa). Insting mati terdiri atas kebencian, agresivitas, dan juga keinginan bunuh diri. Insting mati sifatnya destruktif.


Bicara soal bunuh diri, topik ini memang sedang hangat dibahas terutama di Indonesia. Ada dua orang terkenal yang belum lama ini bunuh diri. Pertama, Oka Mahendra Putra, CEO Takis Entertainment, rumah produksi bagi beberapa video klip Youtuber dan selebgram ternama seperti Awkarin dan Young Lex. Dia diduga bunuh diri karena stress menghadapi bangkrutnya rumah produksi miliknya tersebut. Yang kedua, Chester Bennington, vokalis Linkin Park yang bunuh diri dengan cara gantung diri akibat depresi berkepanjangan. 


Permasalahan yang menyebabkan bunuh diri bukanlah hanya masalah ekonomi. Ada juga yang bunuh diri karena masalah cinta, masalah keluarga, malu karena aib terbongkar, atau ketakutan atas masa depan. Namun dari berbagai permasalahan yang beragam tersebut, ada satu kesamaan yang dimiliki oleh mereka: sebelumnya mereka mengalami stress berat.


(Kecuali tentu saja dalam proses bunuh diri dengan kesengajaan yang dianut oleh oknum biksu di Jepang, Shokushinbutsu -mereka bunuh diri dengan menyendiri dan meminum teh beracun setelah mereka merasa siap untuk meninggalkan dunia. Namun ini adalah cerita yang lain.)


Mengapa seseorang memiliki insting mati berupa keinginan untuk bunuh diri? Semua berawal dari stress. Semua orang pastinya pernah mengalami stress, entah karena tengah berkompetisi, atau dipicu untuk menyelesaikan sebuah masalah yang bagi dirinya berat. Namun stress yang hanya datang sesekali dan tidak berlangsung terus menerus tak berbahaya. Yang berbahaya adalah bila stress kemudian menghampiri kita hampir setiap waktu, mempengaruhi otak kita, dan pada akhirnya menjadikan kita depresi. Seseorang yang depresi pun berpotensi untuk bunuh diri.


Kalian bisa melihat video ini untuk mengetahui bagaimana stress berkepanjangan dapat mempengaruhi otak kita dan membuat kita mengambil keputusan yang bertentangan dengan insting untuk hidup.


https://www.youtube.com/watch?v=WuyPuH9ojCE&feature=youtu.be


Bunuh diri, meskipun merupakan fenomena yang sudah umum terjadi, jelas tak dapat diabaikan begitu saja. Bunuh diri adalah sebuah penyakit. Bunuh diri juga bukan jalan yang tepat untuk menyelesaikan masalah, atau menebus harga diri kita. Dengan bunuh diri, kita hanya menukar sisa hidup kita (yang kita anggap buruk), dengan sesuatu yang tak jelas. Saat memutuskan untuk bunuh diri, kita tidak menggunakan spekulasi yang tepat.


Karena toh, semua orang akan mati. Untuk apa kemudian repot-repot mempercepatnya sendiri?

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe