Diaspora Indonesia, Kebanggaan Berlebihan?

20:26



Berbagai media meliput dan mengemas berita tentang Kongres Diaspora Indonesia ke-4 dengan kemasan "mewah", membuat acara tersebut menjadi seolah acara hebat yang mampu memajukan negeri ini. Sebuah acara yang sepatutnya diapresiasi oleh seluruh masyarakat Indonesia. Menyajikan berbagai tokoh hebat, tokoh Indonesia (atau yang punya darah Indonesia), yang berhasil di luar negeri. Menciptakan persepsi kepada masyarakat, bahwa diaspora adalah tentang mereka yang jadi orang di luar negeri, mau tadinya perantau, atau bukan perantau sama sekali.


Namun betulkah diaspora hanya tentang itu saja?


Diaspora pada awalnya berasal dari bahasa Yunani "διασπορ", yang maknanya penyebaran atau penaburan, dan merujuk kepada warga suatu kota kerajaan yang bermigrasi ke wilayah jajahan untuk mengasimilasi wilayah tersebut agar menjadi bagian dari kerajaan. Dalam KBBI, diaspora adalah tercerai-berainya suatu bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia dan bangsa tersebut tidak memiliki negara. Contoh nyata ada pada  bangsa Yahudi sebelum negara Israel berdiri pada tahun 1948. Seiring dengan berkembangnya jaman, definisi diaspora pun berkembang menjadi penduduk yang pindah kemudian menetap di negara lain karena berbagai alasan: karena masalah keamanan di negaranya, atau karena ingin mencari penghidupan yang lebih baik.


Dilansir dari situs www.diasporaindonesia.org, pendiri Diaspora Indonesia Network, Dino Patti Djalal memiliki definisi sendiri tentang diaspora. Menurut mantan Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia ini, diaspora Indonesia adalah warga negara Indonesia yang tinggal di luar negeri dan terbagi dalam empat kelompok. Kelompok pertama adalah WNI  yang tinggal di luar negeri. Kelompok kedua adalah orang-orang yang dulunya adalah warga Indonesia, tetapi sudah melalui proses naturalisasi di negara lain dan sudah tidak lagi memegang paspor Indonesia. Kelompok ketiga adalah mereka yang merupakan warga negara asing yang masih memiliki keturunan Indonesia, entah dari orangtua, kakek-nenek, atau leluhur mereka. Sementara itu  kelompok terakhir adalah mereka yang tidak punya darah Indonesia dan tidak memegang paspor Indonesia, tetapi kemiliki kecintaan yang luar biasa terhadap bangsa dan negara Indonesia.


Dengan adanya redefinisi diaspora Indonesia ini, sebetulnya tidak salah apabila Diaspora Indonesia Network kemudian menyontohkan mereka yang bukan orang Indonesia sebagai salah satu contoh diaspora. Namun dengan keberadaan poin ini, perlu dipertanyakan mengapa harus mengambil istilah diaspora? Mengapa mereka harus diposisikan sama dengan orang Indonesia yang berada di luar negeri, atau orang Indonesia yang sudah melalui proses naturalisasi? Apa hanya karena kecintaan mereka terhadap negeri ini begitu membanggakan?



Tidak hanya itu saja. Dalam video ini, ada beberapa nama orang yang sebetulnya hanya bolak-balik Indonesia-negara lain, tetapi tetap dimasukkan ke dalam daftar Diaspora Indonesia. Apakah hal semacam itu bisa disebut diaspora? Bukankah mungkin, lebih tepat kalau disebut sebagai go-international (meminjam istilah Agnes Monica)? Lalu, mereka yang punya keturunan Indonesia? Barangkali kalau dilakukan semacam tes DNA terhadap seluruh warga dunia, sepertinya hampir semua orang memiliki DNA campuran: keturunan Inggris bercampur Indonesia, bercampur Nigeria, dan lain sebagainya. Ya, hampir tidak ada manusia yang betul-betul murni. Siapa tahu kalian yang sedang membaca tulisan ini memiliki nenek moyang (entah sudah sejauh apa) yang merupakan orang Hawaii? Orang Belanda? 


Apakah karena mereka yang sukses di luar negeri adalah mereka yang punya sedikit darah Indonesia, maka mereka telah berkontribusi untuk negara ini? Demi negara ini? Seperti layaknya emas Natsir-Tontowi di Olimpiade 2016? Apakah Paul Wolfowitz, Duta Besar AS untuk Indonesia pada tahun 1986-1989 cocok dimasukkan dalam contoh diaspora Indonesia yang membanggakan hanya karena dia fasih berbahasa Indonesia dan cinta terhadap negara ini -seperti yang ditulis dalam situs Diaspora Indonesia Network tersebut? Apakah karena saya suka dengan budaya dan seni Prancis, serta bisa berbahasa Prancis, maka saya bisa dimasukkan dalam jaringan diaspora Prancis? Apakah teman saya yang suka dengan kebudayaan Inggris, bisa berbahasa Inggris, punya sopan santun seperti orang Inggris dan sedang kuliah S2 di Inggris bisa dikategorikan sebagai diaspora Inggris? Apakah pemerintah Inggris akan menganggapnya hebat saat dia menerbitkan buku yang laris dan jadi penulis terkenal? Saya kira tidak. 


Bukan, saya tidak mau berkata pedas terkait prestasi orang. Namun sudah saatnya kita, orang Indonesia, memberi batas terhadap rasa kagum kita. Tak perlu terlalu kagum dan mengagung-agungkan segala hal yang berhubungan dengan Indonesia dan "Go-International", terutama para manusianya. Sudahlah, yang namanya penghargaan dan acara "kongres-kongresan", biasanya memang tidak netral dan terkadang memiliki kepentingan tertentu.

Foto: Pixabay dan Eliteonearth.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe