Yakin Kalian Sudah Paham Pancasila?

16.37


Sering sekali saya mendengar pendapat pedas bahwa Pancasila sekarang sifatnya normatif saja. Normatif, karena Pancasila bukannya sudah diterapkan, tetapi harus diterapkan. Sesuatu yang sifatnya "harus" itu tidaklah alamiah. 

Sebetulnya, makna dari Pancasila sendiri bagus sekali. Pancasila memuat segala aspek kehidupan yang semestinya ada dalam diri kita sebagai manusia. Hubungan dengan alam dan pencipta, kekuatan besar tak kasat mata. Kepedulian pada sesama sebagai manusia beradab. Persatuan antarsesama tanpa adanya perpecahan. Musyawarah, meramu pendapat-pendapat untuk mencapai mufakat. Serta keadilan bagi seluruh warga negara. Kelimanya sangat membanggakan dan pada Hari Kesaktian Pancasila ini, begitu dibanggakan oleh warga Indonesia. Terbukti dengan banyaknya tulisan "Saya Pancasila" yang ada di media sosial.

Namun sudah pahamkah mereka dengan Pancasila? Kalau mereka paham, seharusnya tak perlu ribut-ribut saat Pilkada kemarin. Juga, tak perlu menghardik banyak hal yang berlawanan dengan nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah, dan Keadilan. Nyatanya, kita berteriak-teriak "selamatkan Pancasila!" tanpa betul-betul tahu bagaimana cara menerapkan kelima nilai itu.

Mulai saja dari hal-hal yang sederhana: sudahkah kita adil menilai orang saat melihat pemberitaan di media? Sudahkah kita betul-betul membantu orang dan tak hanya berkoar-koar di depan saja? Sudahkah kita memahami tentang Ketuhanan dan spiritualitas? Sudahkah kita menghargai pendapat orang? Sudahkah kita sedih melihat perpecahan (dan bukannya girang)? Sudahkah kita?

Oh ya, saya ingat sebuah kejadian saat kuliah. Jadi, dalam pemilihan Ketua BEM dulu, ada persyaratan bahwa calonnya harus percaya kepada Tuhan. Kemudian di media sosial, beberapa orang mentertawai hal ini dan menganggap bahwa hal itu tak perlu ditulis dan Ketua BEM tak perlu bertaqwa pada Tuhan karena itu syarat yang konyol. Namun kalau mereka paham Pancasila, jelas syarat itu tidak konyol mengingat sila ke-1 berisi tentang Ketuhanan. Banyak yang menganggap konsep Ketuhanan tak lagi penting. Namun bila kita masih ingin hidup di Indonesia, mau tidak mau konsep itu harus kita hargai, karena jelas-jelas tercantum dalam Pancasila.

Dalam beberapa keributan di waktu-waktu lampau (salah satunya jelas Pilkada), banyak pula orang yang menyerukan tentang Persatuan Indonesia. Namun mereka lupa berlaku adil saat menilai pihak yang pendapatnya berbeda dengan mereka. Satu sila mereka junjung tinggi, sila-sila lain mereka hempaskan.

Jadi, masihkah kita bangga mengusung tagar #SayaPancasila? Lagipula, sedari awal, dilihat dari tata bahasa Indonesia, tagar tersebut salah total. Bukankah untuk menyebut bahwa kita penganut Pancasila sejati, ada baiknya kita menggunakan kata Pancasilais dan bukannya Pancasila? Jadi, bukan sekadar tak paham makna Pancasila, banyak orang yang bahkan tak paham tata bahasa dari negara yang mengusungnya, Indonesia.

Foto:indeksberita.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe