What to Know : Relativisme

12:42


Setiap manusia selalu ingin berada di pihak yang benar. Soalnya, menjadi benar itu artinya menang. Asyik sekali menjadi pemenang, selain karena hormon di otak menciptakan kebahagiaan saat kita menang, kemenangan juga meningkatkan kehebatan kita di mata orang lain. Untuk itu, kalau sedang berdebat dan kamu ternyata benar, tapi teman kamu salah, jangan kaget kalau dia tetap tidak mau kalah. Bukan kebenaran yang dia inginkan, tapi kemenangan dan kebenaran yang hanya berasal dari dirinya. Bahkan kalau fakta bisa diubah seenak jidat seperti menyunting unggahan di Blog, mungkin temanmu akan melakukan hal itu.




Lagipula, kebenaran itu tidak pernah mutlak. Setidaknya itulah yang diyakini oleh penganut relativisme. Aliran ini dianut oleh nama-nama pemikir tenar seperti Protagoras dan Pyrrho, dan itu sebabnya mereka jadi pemikir hebat.



Sekarang begini. Di media sosial, banyak sekali "tukang ngikut" yang menelan bulat-bulat apa yang dia dengar hanya karena hal itu disuarakan oleh orang ternama dan dengan kemasan yang menarik. Itulah sebabnya jadi banyak orang yang percaya kalau Bumi tidak bulat, dan banyak juga yang ikut-ikutan mengidolakan dan membela sosok-sosok tertentu tanpa mencari tahu lebih lanjut. Tentu saja hal itu terjadi karena mereka merasa benar. Menjadi tidak netral alias memihak itu bagi banyak orang lebih membuat nyaman. Membuat mereka merasa kalau hidup ini jelas arahnya. Namun jelas, hal ini tak berlaku dalam relativisme.



Meski begitu, bukan berarti relativisme menganggap kalau semua hal itu salah atau semua hal itu benar dan sama saja. Tidak. Perbedaan itu ada. Namun perbedaan itu bukanlah pada hakikat, melainkan pada kulit luar. Ya budaya, ya latar belakang, ya pengalaman, atau hal lainnya.



Itulah sebabnya kebenaran itu ada banyak, muncul dari berbagai perbedaan tersebut. Dua orang yang latar belakangnya berbeda seringkali punya pikiran yang berbeda. Seperti misalnya, teman saya yang punya kulit normal bilang kalau masker jeruk nipis bisa mencerahkan dan membuat kulitnya sehat. Namun teman saya yang kulitnya kering berkata kalau jeruk nipis membuat kulitnya iritasi. Tidak ada yang salah dalam pemikiran yang berbeda itu.



Mungkin mudah bagi kita untuk memahami bahwa kebenaran yang disampaikan oleh manusia sifatnya relatif. Meski begitu, sulit untuk mempraktekkannya bukan karena semua orang pada dasarnya ingin benar dan ingin menang?


Foto: freebloggy.com, giphy.com, pixabay.com
Sumber: https://plato.stanford.edu/entries/relativism/

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe