Mengapa Kita Suka Membeli Barang (yang Bisa Kita Buat Sendiri)?

14:06



Setiap sore tiba, di bulan puasa, saya selalu menyempatkan diri membeli ta'jil yang dijual di pinggir jalan. Tidak hanya saya, kebiasaan ini juga dilakukan oleh sebagian besar orang yang berpuasa. Maka, kalau ditanya "bisnis apa yang semestinya dilakukan di Bulan Ramadan? Yang mudah dijual dan tidak membutuhkan banyak modal? Dengan lantang akan saya jawab: bisnis ta'jil.


Tidak perlu susah-susah: cukup buat panganan semacam tahu brontak, kolak (pisang atau pun biji salak), tempe mendoan, lontong kecil, dan juga kue-kue manis. Atau kalau tidak sempat masak, bisa juga mengambil dari usaha rumahan jajan pasar dan pasar terdekat. Kemudian siapkan satu meja dan dua bangku, letakkan di pinggir jalan besar, di dekat kampus, perkantoran, atau di dekat kompleks perumahan.


Laku? Pastinya. Sudah harganya amat sangat murah, mengenyangkan pula. Pertanyaannya, mengapa banyak orang dengan waktu luang yang membeli ta'jil di pinggir jalan?


Awalnya, saya berpikir wajar kalau pekerja atau orang lain yang tak sempat memasak memutuskan untuk beli ta'jil. Mereka memang tak punya waktu. Namun mereka yang bahkan bisa membuat kolak sendiri di rumah? Membuat mendoan sendiri? Mengapa masih suka beli ta'jil? Kepada diri saya pun saya bertanya, mengapa mendoan dan tahu brontak yang dijual oleh penjual ta'jil di pinggir jalan lebih enak ketimbang mendoan dan tahu brontak yang saya buat hangat-hangat?


Pertanyaan ini, bila dilebarkan, juga bisa ditujukan ke siapa saja dan pada makanan yang dijual di mana saja: rumah makan, warung, kafe, restoran cepat saji . Mengapa makanan yang dijual mereka cenderung lebih lezat ketimbang makanan yang kita masak? Mengapa indomie warung kopi laris dibeli, padahal semua orang bisa masak indomie sendiri? Mengapa orang membeli thai tea di bazaar padahal mereka bisa membuatnya sendiri, dengan harga yang lebih murah?


Jawabannya satu: orang suka membeli pelayanan dan kemudahan.


Kita bisa saja membuat pizza sendiri. Membuat burger sendiri. Membuat thai tea sendiri. Membuat ta'jil sendiri, apalagi. Jauh lebih mudah. Namun kita terlalu malas dengan kerumitan, dengan sesuatu yang menyita waktu. Lebih baik beli saja, toh masih berada dalam jangkauan kantong kita.


Lagipula mengetahui bahwa diri kita mampu membeli barang dari orang lain menunjukkan bahwa kita berkuasa. That we can afford it. Itu juga merupakan sebuah kepuasan.


Walaupun memang, bisa membuat suatu barang sendiri juga sebuah kepuasan. Namun dalam kemalasan, terkadang manusia juga ingin merasa puas. Salah satu caranya ya, dengan melakukan pembelian. Sebuah aktivitas yang membuat kita merasa dilayani dan merasa menjadi raja, meski hanya sekejap.

Foto:pixabay.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe