Mengapa Harus Afi Nihaya Faradisa?

18:15


Waktu SMP dulu, saya sempat dibuat kagum oleh seorang remaja, dua tahun di atas saya, bernama Farida Susanty. Lewat buku berjudul "Dan Hujan pun Berhenti", perempuan asal Bandung itu berhasil mendapatkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa (dulu Khatulistiwa Literacy Award) untuk penulis muda terbaik. Kekaguman yang setara juga saya miliki terhadap Dhina Pramita Susanti, seorang siswi SMA yang pada tahun 2005 memenangkan medali emas di ajang The First Step to Nobel Prize in Physics XIII di Romania berkat karya ilmiahnya yang berjudul Curved Motion of A Shuttlecock. Sebagai seorang anak SMP dengan mimpi setinggi gedung pencakar langit, saya langsung semangat belajar dan menulis agar bisa berprestasi seperti mereka.


Sebetulnya masih banyak anak-anak muda berbakat di negeri ini. Mungkin beberapa di antaranya bisa dilihat di berita ini. Saya tidak memungkiri kalau mereka juga mendapatkan perhatian besar dan ulasan positif di berbagai media.


Via Eksklusif

Namun entah mengapa mereka tidak terlalu menghebohkan masyarakat, tidak mendapatkan puja-pujian sebesar Afi Nihaya Faradisa. Tentunya bagi Anda yang rajin bermain media sosial, Anda tidak akan asing lagi dengan nama itu. Yap, dia adalah anak muda (sudah bukan remaja lagi) dari Banyuwangi, yang dengan tulisan-tulisannya di status Facebook, mampu menggugah banyak warganet karena dianggap melampaui pikiran anak remaja dan juga mampu menimbulkan semangat persatuan. Jangan salah, Afi juga diundang di berbagai talkshow karena dianggap hebat. Saya tidak akan membahas masalah plagiarisme Afi dan pembelaannya karena hal tersebut sudah sangat umum diketahui orang, termasuk baru-baru ini, masalah plagiarisme video Afi. (tak hanya status, video pun diplagiat)


Saya tidak bilang kalau Afi bodoh. Namun, banyak anak muda yang berpikiran seperti Afi, bahkan melampaui Afi, dengan kemampuan menulis yang lebih baik (jangan cari anak musa jenis ini di unggahan akun semacam @terlalucabe. Tidak akan Anda temukan). Hanya saja, mengapa cuma Afi yang terkenal? Mengapa Afi begitu ramai dibahas bahkan sebelum tulisannya terindikasi mengandung unsur plagiarisme?


Tentu saja karena apa yang ditulis Afi berkaitan dengan apa yang sedang terjadi di negara ini. Keributan antarkubu. Masalah persatuan dan kesatuan. Masalah SARA. Semuanya ditimbulkan oleh Pilkada DKI Jakarta yang belum lama usai: sebuah pesta demokrasi yang dilebih-lebihkan oleh banyak pihak.


Afi seperti spinner, atau seperti kue kekinian yang jadi oleh-oleh khas dan dijual oleh selebriti ternama seperti Raffi Ahmad, Zaskia Sungkar, dan teman-temannya. Ketiganya sebetulnya biasa saja. Spinner bahkan tak lebih menyenangkan daripada monopoli. Namun itulah tren. Segala hal yang sedang "nge-tren", atau setidaknya berhubungan dengan tren, akan banyak diperbincangkan. Afi memperbincangkan sesuatu yang memang sedang panas dibahas dan menjadi isu nasional. Di media sosial pula. Lagipula, usia dia masih muda. Jauh lebih muda daripada orang-orang yang doyan ribut dan membawa-bawa SARA di media sosial. Tidak heran dia menjadi terkenal. Afi seperti sosok yang seolah bisa digunakan untuk menyindir orang dewasa dengan kalimat semacam: "Anak muda aja lebih dewasa berpikirnya daripada lo yang isinya bawa-bawa SARA!"


Via Eksklusif


Kalau saja di waktu yang sama ada seorang remaja berusia sama dengan Afi, yang membuat novel apik dengan tema absurditasnya Camus, dan dengan unsur petualangan yang lebih fantastis ketimbang semua novelnya Tolkien, kemudian hanya diterbitkan dan dijual di toko buku, bisa jadi novel tersebut tidak terlalu laku dan juga tidak dibicarakan dengan heboh seperti status Afi. Tidak peduli kalau dia punya diksi kaya, punya pengetahuan dalam, dan juga kemampuan imajinasi yang hebat: kecuali kalau novel itu memuat sesuatu yang sedang disenangi masyarakat dan dipasarkan dengan embel-embel sesuatu yang sedang heboh dibahas masyarakat. Mungkin dengan embel-embel semacam "novel yang menggugah tentang isu-isu di balik kehidupan para buzzer Pilkada yang penuh absurditas!"



Jadi suatu saat, kalau kalian berkarya, pastikan karya kalian itu dipasarkan dengan baik. Pastikan kemasannya seolah memahami masyarakat. Terdengar tidak idealis? Beginilah dunia yang saat ini sedang kita hidupi . Tentunya masih ingat bukan dengan masa-masa jaya Afi saat dia diundang menjadi pembicara di berbagai tempat, oleh orang-orang penting? Ya, mungkin bagi banyak orang, status Afi dan pemikiran (yang katanya) jeniusnya itu lebih hebat daripada penemuan obat AIDS sekali pun! Lebih brilian daripada relativitas-nya Einstein, The Old Man and The Sea, atau Teori Atomnya Bohr sekali pun. Sampai kapan? Sampai dia ketahuan plagiat. Apakah para pengundang Afi dan pemujanya salah? Jelas salah meskipun mereka adalah korban. 

Kesalahannya? Terlalu naif karena memberikan panggung kepada anak muda medioker yang terlihat tak meyakinkan dan memujanya seolah dia adalah penyelamat kemanusiaan. Oh ya, ingat juga kan dulu, ada yang pernah menyamakannya dengan Malala Yousafzai?

Tak mengherankan Afi begitu terbuai dan menjadi pongah. Dia pun kemudian mencoba melanggengkan ketenarannya tersebut dengan berbagai cara, termasuk dengan semakin menggencarkan aksi plagiarisme sekali pun 
Foto utama: pixabay.com

You Might Also Like

1 komentar

  1. yap...

    kalau sangat berunsur SARA atau mengejek atau mengolok ngolok suatu kaum pasti bisa saja laris itu status/karya tulis dan dipromosikan di masyarakat.

    kalau bernada ngolok ngolok tanpa promosi sama sekali tidak akan ada orang yg tau. cuma dikonsumsi sendiri.

    sama kayak afi ini, tulisan tulisan di statusnya laris tidak lepas karena ada yng ikut share/bantu promo secara gratis..

    udah ya.. aku bingung looo mau komen kayak mana lagi bu... xoxoxo

    ReplyDelete

Our Shop

Subscribe