Kraken Pemangsa Mangsa Ikan-Ikan Kecil

12.09


"Capital is dead labor, which, vampire-like, lives only by sucking living labor, and lives the more, the more labor it sucks." - Karl Marx

Jujur hingga saat ini saya selalu bertanya-tanya: kalau sebuah perusahaan punya sistem yang buruk, melakukan perbuatan licik pada karyawan, apakah berarti kesalahan itu berasal dari pemiliknya? Atau pemiliknya tak tahu tentang dosa tersebut?

Tentunya kita semua masih ingat dengan buku berjudul "Si Anak Singkong". Buku tersebut sepertinya cukup memotivasi banyak orang untuk terus berusaha tanpa kenal lelah menuju kesuksesan. From Zero to Hero. Siapa yang tidak suka dengan konsep semacam itu? Semua orang ingin kaya meskipun awalnya mereka bukan siapa-siapa.

Tokoh yang disebutkan buku tersebut, pada tahun 2017 ini menempati posisi ke-4 dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi Forbes, dengan total kekayaan sebesar US$ 49,6 milliar atau setara dengan Rp 61 milliar rupiah. Maklum, dia bukan hanya bos dari sebuah media besar di Indonesia, tetapi juga merambah properti, hingga ritel.

Salah satu perusahaannya, yang dulunya merupakan hipermarket asal Prancis dan lisensinya kini dibeli kemudian diganti nama menjadi bernuansa "perusahaan itu banget", adalah jenis hipermarket yang dekat dengan masyarakat perkotaan dan tersebar di mana-mana. Pastilah masyarakat kota besar, terutama kelas menengah ke atas dengan kesibukan kerja tinggi,  akan lebih memilih berbelanja di hipermarket tersebut ketimbang berbelanja di pasar.

Setiap akhir pekan, antrian mengular akan selalu terlihat di hipermarket itu. Oh ya, tidak hanya menjual kebutuhan sehari-hari, di hipermarket itu kita akan menemukan toko pakaian (kelas menengah ke atas), toko elektronik, dan juga stand kosmetik. Toko-toko tambahan itu, juga memiliki banyak pembeli.


Jadi, terbayang bukan berapa keuntungan per bulan dari hipermarket itu, di satu cabang saja?


Namun keuntungan itu nampaknya tidak sebanding dengan kemurahan hati. Setidaknya, itu yang saya temukan saat ibu saya bertukar cerita dengan pegawai pada cabang yang terletak di sebuah pusat perbelanjaan Jakarta Barat. Dia bilang bahwa pada Bulan Ramadan ini, akan banyak pemutusan hubungan kerja. Beberapa pegawai statusnya kontrak, dan tidak akan diperpanjang lagi. Bukan, bukan karena mereka tidak butuh pegawai banyak. Mereka justru akan mencari pegawai lagi usai lebaran. Namun mengapa pegawai lama kontraknya tidak diperpanjang? Rupanya, ini siasat agar mereka tidak memberikan THR pada karyawan mereka.

Jadi, pegawai-pegawai baru yang direkrut usai lebaran hanya akan bekerja hingga awal bulan puasa di tahun berikutnya. Lagi-lagi, mereka tak akan mendapatkan THR karena kontrak mereka sudah habis sebelum THR diberikan dan tidak diperpanjang lagi. Sebuah cara yang licik untuk mendapatkan remah-remah keuntungan lebih dari orang-orang kecil. Entah siapa yang memberikan gagasan semacam ini. 

Yang jelas, akan sangat menggembirakan sekali kalau hal ini menjadi transparan, tidak sekadar berhenti pada keluhan seorang pegawai lama (pegawai ini sudah tetap karena telah bekerja dari lama, sebelum penggantian nama), dan akan lebih menggembirakan mungkin kalau pada hari buruh, perusahaan ini menjadi fokus penting? Mungkin saja..

Karena sungguh nista, apabila orang-orang besar nan ganas yang bak hiu mako di lautan (atau malah Kraken?), "menipu" ikan-ikan kecil hanya untuk bisa merampas makanan mereka. Merampas plankton, rumput laut, atau malah debu-debu di lautan mungkin? Terlalu serakah? Tunggu hingga mereka kekenyangan akan hal-hal yang mereka rampas, dan perlahan sekarat karena hal-hal tersebut.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe