Bisnis Kue Oleh-Oleh, Bisnis Kekinian Para Pelatah

17.52



Bisnis kue bolu dengan beragam topping memang sedang menjamur belakangan ini di kalangan selebriti. Mengingatkan saya pada tren warung tenda selebriti di Jakarta pada saat krisis moneter. Maklum, krisis saat itu juga membuat tawaran pekerjaan di dunia hiburan menjadi sepi, sehingga para selebriti ini pun memutuskan untuk membuka warung sebagai pekerjaan sampingan. Saking nge-trennya, fenomena warung tenda ini pun diliput oleh berbagai media, salah satunya adalah Tabloid Bintang dengan judul Warung Gaul, Bisnis Baru Artis di Saat Krismon, pada edisi 371, minggu pertama Mei 1998.


Lama kelamaan, warung-warung itu pun tutup dengan sendirinya. Masih dilansir dari Tabloid Bintang, ada beberapa teori terkait tutupnya warung-warung selebriti ini. Yang pertama, selebriti yang tak selalu ada di tempat, membuat pelanggan merasa tidak punya alasan untuk terus berada di sana. Yang kedua, rasa yang sebetulnya biasa saja. Kalau selebriti ini lama-kelamaan tak hadir di warung mereka, dan rasa makanannya biasa saja, jelas mereka tak bisa bersaing dengan warung-warung lainnya.


Kembali ke bisnis bolu, bisnis ini menurut saya lebih lucu ketimbang bisnis warung tenda. Bisnis warung tenda bagi saya masih terbilang wajar. Membuka warung atau menyewa ruko di Jakarta dengan menjual nama selebriti. Bukan hal yang aneh. Namun untuk bolu, entah mengapa para selebriti ini menggunakan nama-nama daerah. Medan Napoleon, Palembang La Monde (Irwansyah), Just Cake Pekanbaru (Melly Goeslaw), Jambi Jambe (Sarwendah), Lampung Banana Foster (Hengky Kurniawan), Cirebon Sultana (Indra Bekti dan istri), Cirebon Kelana (Ussy Sulistyawati), Cirebon Cinnamon (Dimas Seto), Bandung Makuta (Laudya Cynthia Bella), Semarang Wife Cake (Chelsea Olivia), Mamahke Jogja (Zaskia Adya), Really Cake Khatulistiwa Pontianak (Prilly Latuconsina), Lamington Pontianak (Glenn Alinskie), Milvil Manado (Mikha Tambayong), Makassar Baklave (Irfan Hakim), Bossang Makassar (Ricky Harun), Sing Ken Ken Cake Bali (Denada Tambunan), dan masih banyak lagi. Mungkin akan butuh beberapa paragraf untuk bisa menulis semuanya







Cakes selebriti ini seolah hadir hampir di semua pulau besar Indonesia. Mungkin yang belum hanyalah Maluku dan Papua. Dan herannya, ada lebih dari satu selebriti yang membuka toko kue di beberapa kota besar. Seperti Cirebon, Makassar, dan Semarang misalnya. Beberapa selebriti memang menjual kue di bawah  perusahaan yang sama (bisa cek di Instagram @jcorp). Namun beberapa, entah menjual kue dari perusahaan mana. Yang jelas, konsepnya sama: sama-sama kue bolu biasa dengan topping dan pastry, yang kemudian dikemas dengan embel-embel oleh-oleh daerah.


Apakah ini salah? Tidak, tidak salah sama sekali. Semua orang bebas berdagang apa saja selama tidak melanggar hukum dan etika. Namun apakah lucu? Sangat lucu. Menimbulkan pertanyaan: mengapa harus menggunakan embel-embel daerah tertentu?


Bagi kita yang suka bepergian atau yang suka diberi oleh-oleh, tentunya nama Bolu Meranti (Medan) atau Lapis Bogor tidaklah asing bagi kita. Ya, keduanya sama sekali tidak menggambarkan kearifan lokal daerah-daerah tersebut, tetapi karena keduanya punya cita rasa lezat, maka banyak orang yang menyempatkan diri untuk membeli keduanya saat bertandang ke Medan dan Bogor, untuk dimakan sendiri atau untuk oleh-oleh.


Pada akhirnya, orang-orang pun mengidentikkan kedua makanan tersebut dengan kedua daerah tempat makanan-makanan itu dijual. Kemudian, makanan-makanan itu pun dianggap sebagai oleh-oleh khas daerah. Nah, hal semacam inilah yang diharapkan oleh para selebriti dan rekan-rekan mereka saat membuat kue-kue di daerah tertentu.


Selebriti buka toko kue di Jakarta, tanpa embel-embel daerah dan hanya mengusung nama tenar, sudah hal yang biasa. Ketertarikan masyarakat ibukota tidak akan terlalu besar. Namun kalau mereka mengusung nama-nama daerah, hal itu akan sangat menarik masyarakat daerah dan juga turis. Masyarakat daerah merasa bangga karena daerahnya diwakili oleh para selebriti, dan turis menganggap kalau kue-kue itu cocok dijadikan oleh-oleh untuk kerabat mereka. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.


Strategi ini adalah strategi yang bagus, dan keberlangsungannya pun akan cukup lama seandainya saja hanya satu atau dua selebriti yang menggunakan konsep ini. Namun karena ada lebih dari sepuluh selebriti, bahkan terdapat dua hingga tiga selebriti yang membuka toko kue berkonsep oleh-oleh daerah di beberapa kota yang sama, maka lama-kelamaan masyarakat pun mulai skeptis dengan model bisnis ini dan timbul pikiran ini di benak mereka: "yaelah cuma manfaatin nama daerah doang, kuenya aja modelnya sama semua, nggak kreatif!"

Foto: Pontianak Post dan Instagram kue selebriti

You Might Also Like

2 komentar

  1. Foto2nya bikin ngilerrrrrr glekk! Di sana ada juga ya kue selebriti hihi.

    BalasHapus
  2. well.. aku juga kadang mikirnya semua toko oleh2 ala artis itu satu owner soalnya kue nya terlihat mirip2 semua dan gaya iklannya pun juga mirip2 hihi.. tapi cuman pikiran jahil aja sii.. semoga usaha mereka lancar dan bertahan lama :)

    BalasHapus

Our Shop

Subscribe