Godaan Uncle Tetsu yang Trendy

12.44



Setiap akhir minggu, acap kali lewat di depan toko Uncle Tetsu, saya selalu melihat antrian yang panjang bak permainan ular naga. Padahal, promo 80.000 menjadi 8.000 rupiah itu sudah berlalu sejak lama, tetapi entah kenapa cheese-cake Uncle Tetsu selalu menarik hati banyak orang. Antreannya tidak main-main, lebih panjang daripada antrean di Transmart atau Giant pada hari Minggu pagi.


Saya akui, cheese-cake Uncle Tetsu punya citarasa yang lezat. Rasa keju sangat terasa dalam cake yang lembut tersebut. Kelembutannya membuat cake itu seolah langsung lumer begitu dimasukkan ke dalam mulut. Tapi kalau boleh jujur, kita pastinya akan mual kalau memakan langsung satu porsi cheese-cake dengan diameter kira-kira 20 cm tersebut. Lagipula, kalau boleh memilih, saya akan lebih memilih sepotong kecil New York cheese-cake dari Harvest atau Cheesecake Factory yang sudah dilapisi selai strawberry, foam, dan juga strawberry asli ketimbang sepotong kecil cheese-cake Uncle Tetsu yang tanpa ornamen sama sekali. Lain urusan kalau cheese-cake Uncle Tetsu dilengkapi selai atau buah. Namun sekali lagi, ini kembali pada masalah selera.


Fenomena antrean Uncle Tetsu ini mengingatkan saya pada fenomena Rotiboy saat saya masih SMA dulu, kira-kira sepuluh tahun yang lalu. Di Ciputra Mall Semarang, outlet Rotiboy tak pernah sepi pengunjung. Bahkan satu pengunjung bisa membeli lima hingga sepuluh bungkus Rotiboy. Padahal, saat itu Rotiboy belum memiliki variasi rasa lain seperti saat ini. Hanya ada satu rasa, original, dengan rasa gurih mentega di bagian dalam. Kalau didiamkan satu jam saja, roti itu akan dingin, mengempis, dan tak lagi nikmat disantap.


Tapi siapa peduli dengan topping? Rotiboy dan Uncle Tetsu, sangat memesona meskipun tanpa hiasan. Pesona ini bukan sekadar karena rasa yang lezat. Keduanya punya rasa yang membosankan kalau disantap berulang kali, tidak seperti menu warteg. Tetapi pemasaran dan konsep roti hangat langsung dari pemanggangan lah yang membuat keduanya jadi laris manis.


Orang-orang suka yang instan, itulah sebabnya Mcdonald's atau KFC (atau setidaknya GFC- Giant Fried Chicken) selalu laku. Tapi tidak semua orang makan karena mereka lapar. Bisa saja mereka hanya ingin cemilan. Jadilah Uncle Tetsu atau Rotiboy menjadi primadona : kue yang enak, tidak terlalu mengenyangkan, tapi bisa membuat perut tenang di sela-sela makan besar. (Tentunya ini berlaku untuk sepotong Uncle Tetsu dan bukannya sebongkah besar).


Dan yang kedua, manusia juga orang yang suka ikut-ikutan. Selera manusia tidaklah netral. Seleranya dipengaruhi lingkungan dan juga iklan yang menggiurkan -seperti yang pernah dikatakan oleh Pierre Bourdieu-. Itulah sebabnya banyak outlet makanan, kosmetik, dan outlet-outlet ternama lain yang selalu ramai pengunjung pada awal-awal pembukaan. Ya karena tren. Karena banyak iklan atau karena banyak orang yang membeli di sana. Mereka pun jadi tertarik untuk membeli secepat mungkin. Kalau sifat manusia tidak begini, tidak ada orang-orang yang rela antre panjang dan rela menunggu hanya demi menjadi pembeli awal dari Samsung Galaxy S8 (untuk apa, toh bisa beli di lain hari).


Ketertarikan manusia bukan lantaran sesuatu menguntungkan dirinya secara finansial saja. Bukan hanya diskon semata. Tapi karena ingin memuaskan diri akan tren yang menggiurkan. Itulah sebabnya, pergerakan dengan bunga atau lilin (tentunya Anda tahu itu apa(, sangatlah heboh dan viral di berbagai daerah. Padahal tidak semua orang yang mengikuti hal tersebut betul-betul peduli. Mereka hanya ingin masuk ke dalam tren. Mereka ingin menjadi bagian dari mayoritas masyarakat. Karena banyak di antara kita yang tidak ingin dianggap aneh atau beda.


Kembali lagi ke Uncle Tetsu, sampai kapan antrean panjang itu berlangsung? Entahlah. Sampai orang-orang bosan. Karena semua hal punya batas waktunya. Seperti Rotiboy yang tak lagi terlalu menggiurkan. Atau seperti Gangnam Style dan PPAP yang sudah sangat kuno.


Foto:https://media.timeout.com/images/103420226/image.jpg

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe