What to Know : Skeptisisme

11:48

What to Know : Skeptisisme


Semakin tua, dunia ini semakin berisik saja. Bukan hanya suara-suara yang benar, tetapi juga suara-suara yang diliputi kebohongan dan suara-suara yang dibunyikan tanpa dasar pengetahuan sama sekali. Orang-orang bilang suara adalah bentuk kepedulian. Tetapi apakah kepedulian itu selamanya bersifat positif?

Peduli adalah hal yang baik. Kepedulian menunjukkan bahwa kita adalah manusia. Tetapi tidak selamanya dan tidak semua hal harus kita pedulikan. Apalagi jika kepedulian kalian justru menyebalkan, mengganggu, dan tak membawa kontribusi apa pun.

Kepedulian bodoh ini sedang gencar-gencarnya ditunjukkan masyarakat Jakarta (ah bahkan Indonesia), dengan alasan yang tentunya sudah kita ketahui : masalah pemilihan kepala daerah. Mulai dari rasa miris akibat perilaku rakyat yang tidak bijak dalam memilih hingga kepedulian untuk mendoakan dan mendukung pasangan calon tertentu tanpa gentar. Mengirim bunga. Marah-marah karena orang lain tak sepaham. Membela pasangan calon yang dirundung mati-matian. Kedoknya? Kepedulian pada Jakarta. Ingin Jakarta menjadi lebih baik. 

Tapi apakah saat banjir tiba orang-orang itu mengirimkan bantuan? Apakah mereka peduli dengan tunawisma di Jakarta yang tidur di depan Stasiun Juanda? Masalah sosial? Ke mana mereka saat pilkada tak berlangsung?

Maka dari itu, mari berkenalan dengan skeptisisme. Sebuah isme atau aliran yang menganggap bahwa pengetahuan manusia tak akan pernah benar-benar mencapai pengetahuan murni. Pengetahuan manusia selalu diwarnai dengan argumen-argumen dan subjektifitas tertentu. Pengetahuan manusia tentang dunia ini, dunia luar (external world) hanyalah merupakan fatamorgana semata. Kita tak dapat percaya begitu saja pada apa yang dikatakan manusia lain, sekali pun manusia tersebut dianggap sebagai pakar dalam sebuah hal. 

Skeptisisme telah ada sejak masa Romawi Kuno, begitu yang ditulis dalam Routledge Encyclopedia of Philosophy. Ada dua alasan terkait keberadaan skeptisisme. Yang pertama, apa yang dilihat, dirasakan, dan didengar manusia dengan indera mereka sifatnya pasti subjektif. Yang kedua, manusia adalah makhluk dengan keterbatasan yang tak akan mungkin mencapai pengetahuan universal. Padahal, dunia ini begitu luasnya dan pengetahuan sangatlah banyak.

Salah satu filsuf ternama yang menerapkan metode ini adalah Rene Descartes, filsuf asal Prancis di abad ke-17, dengan metodenya yang dinamakan Le Doubte Methodique atau Metode Ragu-Ragu. Meragukan sesuatu menandakan bahwa kita berpikir, itu yang dimaksud oleh Descartes. Dengan keraguan, kita akan lebih kritis akan sesuatu dan tidak menelan bulat-bulat apa yang kita dengar, lihat, dan rasakan. Pasalnya, seperti yang tadi telah disinggung, tidak semua yang dikatakan orang lain itu merupakan kebenaran utuh (ataukah memang tidak ada?)

Jadi, apakah kita akan selalu percaya pada perkataan orang? Termasuk pada perkataan figur publik, hingga (yang menyebut dan disebut sebagai) pakar atas sesuatu? Atau seseorang? Atas kondisi politik Indonesia? Begitu mudahnya manusia menyukai atau mempercayai sesuatu hanya karena para ahli yang merekomendasikannya.

Maka tak heran bahwa dalam Pilkada lalu, tim sukses para pasangan calon menggaet banyak figur publik ternama. Karena apa? Mereka punya pengaruh besar. Karena masyarakat kita tidak skeptis. Mereka peduli pada apa yang dikatakan orang-orang besar. Mereka percaya bahwa semua pernyataan mereka punya kebenaran yang absolut. Pengetahuan mereka luas. Padahal, banyak di antara mereka yang hanya menjalankan kontrak saja, itu yang pertama. Kedua, kalau pun mereka betul-betul mendukung sesuatu dengan landasan pemikiran rasional, harus ditanyakan seberapa rasionalkah? Betulkah tak ada subjektifitas di dalamnya? Betulkah mereka tak hanya mengikuti pendapat mayoritas di dalam komunitas mereka.

Sudah saatnya bagi kita untuk tak mudah percaya sesuatu hanya karena yang mempercayainya adalah para orang ternama, pakar, dan bahkan semua orang di sekitar kita. Biar bagaimana pun, indera manusia punya keterbatasan, dan rasa pongah adalah sebuah hal yang nampaknya tak pantas dimiliki oleh manusia.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe