Tentang Isra' Miraj dan Perjalanan Waktu

19.30


Waktu adalah sebuah hal yang nampaknya biasa saja. Ada waktu di jam tangan. Jam dinding. Jam laptop. Bahkan di jam yang ada pada setiap gawai. Tetapi, itu hanyalah sekadar eksistensi dari waktu. Esensinya sendiri, sulit untuk dijabarkan.

Mengapa waktu membuat kita menua? Mengapa waktu bisa berbeda di tiap daerah? Di tiap planet? Galaksi? Ada sebuah film unik terkait perjalanan luar angkasa dan waktu berjudul Interstellar, yang ditayangkan pada tahun 2014. Sinopsis film itu sendiri dapat dilihat di sini. Intinya, saat tokoh utama, Cooper, kembali ke Bumi, dia masih muda. Sementara itu anaknya justru telah berusia renta. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Hal ini ada kaitannya dengan dilatasi waktu.

Dilatasi waktu dapat dihitung dengan menggunakan transformasi Lorentz. Transformasi Lorentz sendiri, seperti yang pernah diajarkan dalam mata pelajaran fisika, adalah seperti ini:





Dengan menggunakan rumus transformasi Lorentz, kita bisa melihat bahwa semakin mendekati kecepatan cahaya, maka semakin besar pula nilai transformasi lorentz dan semakin besar pula dilatasi waktu yang ada (bisa dilihat contohnya dalam paradoks kembar di artikel ini) Dalam kasus Cooper “Interstellar”, dia sempat mendarat di planet yang mengelilingi Black Hole, dengan kecepatan yang hampir setara kecepatan cahaya. ini berakibat pada melambatnya perkembangan sel-sel tubuh bila dilihat/dibandingkan dengan perkembangan yang ada di Bumi, sehingga wajar apabila Cooper masih muda, sementara sang anak menua dengan cepat.

Nah, lalu bagaimanakah yang terjadi dengan Nabi Muhammad SAW?

Kita memahami bahwa Isra’ Miraj adalah sebuah perjalanan waktu. Namun, mengapa Bumi tak jauh menua saat beliau pergi? Ini memang sebuah hal yang sulit diperdebatkan, karena kita tidak betul-betul paham apa yang terjadi pada masa itu. Tetapi, ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad tidak menjalani sebuah perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual.

Ya, perjalanan spiritual. Saat “pikiran” kitalah yang kemudian mendapatkan wahyu dari alam semesta ini. Kita seringkali menganggap bahwa Isra’ Miraj adalah satu frasa yang sama. Padahal, keduanya terpisah. Isra’ adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Sementara itu, Mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad ke langit untuk menerima perintah Sholat Lima Waktu. Nah, banyak yang meyakini bahwa Mi’raj adalah perjalanan spiritual Nabi. Hanya “pikirannya” yang bergerak hingga ke langit, atau seringkali disebut dengan metafora perjalanan. Seperti mimpi, tetapi mimpi yang penuh dengan berkah dan penuh dengan makrifat.

Meski begitu, untuk memahami setiap cerita dalam sebuah kitab, kita memang tak bisa menggunakan pemahaman yang sempit. Atau hanya mengartikan secara dangkal saja. Sebuah kitab, menggunakan bahasa yang lebih rumit ketimbang karya-karya sastra yang semestinya dikaji dengan berbagai macam teori, dan tentunya penuh dengan metafora. 


Apakah hingga kini Isra’ Mi’raj masih merupakan misteri? Tentu saja. Untuk itulah kita menjadi manusia : terus menerus berpikir, berimajinasi, memecahkan segala misteri dan masalah yang ada. Itulah yang kemudian membedakan kita dengan makhluk lain. Jadi, selama kita masih manusia, maka terus berpikirlah.Jawaban tak akan dengan mudah kita dapatkan (atau malah tak kita dapatkan hingga kita mati). Tetapi, bukankah pemikiran bisa diteruskan ke orang lain, untuk kemudian dikembangkan? 

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe