Memasarkan Diri Sendiri, Tetapi Sebesar Apa Kebohongannya?

09.46



Saya sudah cukup memahami bahwa sedari awal, manusia tak hanya melakukan pemasaran terhadap produk, tetapi juga dirinya sendiri. 

Tidak ada salahnya. Ada orang yang ingin atau sedang dalam proses menjadi model, pemain film, artis apapun.  Maka dia pun memasarkan dirinya sendiri sebagai seseorang yang anggun dengan segala kehidupan kelas atas. Ada yang sedang berjuang menjadi pengusaha, maka tak sekadar memasarkan produk, dia akan memasarkan dirinya sebagai pribadi tangguh yang inspiratif, memulai usaha dari nol. Ada juga penulis, yang tak sekadar memasarkan bukunya tetapi juga diri dia sendiri, sebagai orang yang puitis, atau pun kritis.

Dan ada juga yang sedang merintis karier, suatu saat mungkin akan menjadi politikus andal atau pejabat. Sejak sekarang, sejak dirinya menjadi tim sukses, atau apa pun itu, dia akan memasarkan dirinya sebagai seseorang yang peduli dengan rakyat. Seseorang yang peduli akan kelanggengan negara dan melawan segala korupsi dan hal-hal buruk lain yang sering ada dalam pemerintahan.

Tidak ada yang salah dalam memasarkan diri sendiri. Manusia bebas memilih menjadikan dirinya seperti apa, baik di depan dirinya sendiri mau pun orang lain. Selama tidak merugikan. Nah, poin inilah penting: merugikan.

Ada seseorang yang mengaku bahwa dirinya mempedulikan negara ini. Bahwa dia ingin politik Indonesia menjadi lebih bersih. Untuk itu, dia pun, dari seorang mahasiswa biasa, menjelma menjadi seorang "pahlawan demokrasi" dalam waktu singkat. Pemilihan umum, lebih spesifiknya pemilihan gubernur, menjadi wadah yang tepat baginya untuk tiba-tiba melesat tinggi, menjadi bintang. Menjadi generasi internet yang tak hanya melek teknologi, tetapi juga melek politik dan peduli negara.

Peduli negara. Peduli pemerintahan bersih. Mendorong generasi Z untuk aktif dalam politik. Percaya pada salah satu calon yang diyakini akan membawa perubahan. Itu alasan dia terjun di dunia politik dalam usia muda. Sekadar dibayar dengan kejujuran dan uang transport belaka. Padahal kalau tahu apa saja yang didapatkannya dari menjadi tim sukses, kita pun akan tahu apa tujuan dia sebenarnya : Karier. Ketenaran. Jaringan pertemanan kelas tinggi. Ingin menjadi pejabat atau politikus suatu saat nanti. Dan tentunya, uang (siapa yang tak butuh uang).

Tidak ada yang menyalahkan caranya mendapatkan uang. Semua orang boleh menjadi tim sukses atau terjun ke dunia politik dengan berlandaskan alasan finansial. Tetapi ketika dia begitu gencar memasarkan dirinya sebagai orang yang peduli Indonesia, padahal sebetulnya tidak, itu sedikit memuakkan. Ini ibarat menjual paket makanan sehat, padahal hanya kemasannya saja yang terlihat sehat dan low-fat. Bahan-bahannya mungkin sama dengan makanan berkolestrol tinggi atau makanan kemasan di minimarket. 

Tapi toh, tidak semua orang tahu dia dan tidak semua orang tahu tentang hal ini. Yang orang tahu hanyalah dia mendukung calon tertentu karena dia percaya bahwa calon itu mampu membawa perubahan. Betul-betul pedulikah? Sepertinya tidak. Dia jauh lebih peduli terhadap apa yang bisa dia dapatkan.

Foto : carribeanpeopleblog

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe