Keterbatasan dan Daya Juang

21.32




Apa yang akan dilakukan manusia dalam keadaan terdesak? Dia akan melakukan segala cara untuk bisa mempertahankan hidupnya atau menyelesaikan masalahnya. Dia akan melakukan banyak hal yang tadinya dia kira tak mampu dia lakukan. Contohnya, saat kita dikejar tenggat, kita akan semaksimal mungkin menyelesaikan pekerjaan kita. Dan sebagainya.

Maka, itulah yang dilakukan oleh para masyarakat yang tinggal di negara-negara penjajah di masa lalu. Seperti negara-negara di Eropa. Mereka hidup pada wilayah-wilayah empat musim. Tak semua bahan pangan bisa ditanam di sana. Seperti misalnya rempah dan beras. Tidak seperti wilayah tropis yang lebih ramah terhadap berbagai jenis bumbu dan bahan makanan yang punya rasa "dalam". Ya, rempah-rempah. Itulah alasan mengapa mereka datang, salah satunya ke Indonesia, yang kemudian kita kenal sebagai salah satu bentuk penjajahan.

Sementara itu, bangsa Spanyol pun juga mendatangi suku Aztec, awalnya sekadar untuk mencari jalur perjalanan ke India lewat barat, tetapi pada akhirnya beralih pada keinginan untuk menguasai emas. Suatu hal yang tak ada di tempat mereka. Keinginan untuk berkuasa atas emas diwarnai dengan darah dan penderitaan. Bukan sebuah sejarah yang menyenangkan. Justru menegaskan kekejaman orang-orang Eropa di masa itu.

Dan ada satu hal yang kemudian bisa kita tangkap: rakyat Eropa tak punya banyak hal di wilayah mereka. Untuk itu, mereka berjuang lebih keras, ketimbang rakyat di wilayah tropis nan cantik dan subur seperti Asia Tenggara. Untuk itulah mereka bisa membangun peradaban yang lebih maju, meskipun bila dianalogikan, mereka berasal dari keluarga yang "lebih miskin". 

Manusia yang hidup dalam keterbatasan punya dua pilihan: menerima saja hingga ajal mendekat, ataukah berjuang sampai titik darah penghabisan. Termasuk apabila itu mungkin 'menghabisi' kawannya sendiri. Seperti halnya Eropa. Sementara itu, rakyat dari negara tropis sudah kadung dimanjakan oleh berbagai kekayaan alam. Maka, hidup pun akan terlihat baik-baik saja. Semua ada. Semua telah dipersiapkan. Untuk apa berjuang? Dan semuanya terlihat baik-baik saja sampai mereka menyadari bahwa kebahagiaan mereka mengundang rasa iri dari pihak lain. Sesuatu yang tak mereka perkirakan karena mereka terlalu terbuai kekayaan alam.

Kita tak bisa menyalahkan "ketidakhati-hatian" dan keramahan bangsa kita terhadap penjajah di masa lalu. Memang sudah wataknya begitu, dulu. Menyalahkan bangsa yang terjajah sama saja dengan menyalahkan korban pemerkosaan atas perkosaan yang dialaminya. Seharusnya si pemerkosalah yang sadar diri, punya empati sebagai manusia.

Meski begitu,ada satu hal yang bisa kita pelajari: berusahalah untuk kritis dan keluar dari zona nyaman. Senyaman apapun zona nyamanmu. Karena hidup tak akan selalu baik-baik saja. Karena kalau hidupmu sekarang sangat baik-baik saja dan terlihat sempurna, mungkin ada sesuatu yang luput kamu perhatikan. 


Kendati keadaanmu seperti negara-negara kaya sumber daya alam, berpikirlah seolah kamu tak punya apa-apa. Berpikirlah bahwa dari apa yang kamu punya, kamu bisa terus berkembang, dan bukannya hanya menerima apa yang ada. Tidak ada yang abadi, pasalnya. Kecuali perubahan. 

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe