Emansipasi Bukan Sekadar Tentang Dapur, Sumur, dan Kasur

22:02



Beberapa waktu lalu, saya pergi ke sebuah pameran. Tak jauh dari sana, ada sekelompok orang tengah berlatih untuk teater. Intinya, teater itu ingin bercerita tentang kebebasan perempuan dalam memilih peran. Ide yang bagus sebetulnya. Tetapi, menjadi basi saat seorang pemain terus menerus melakukan penolakan terhadap konsep dapur, sumur, dan kasur, alias pekerjaan rumah tangga. Seolah untuk menjadi seorang perempuan kuat, untuk mendobrak kungkungan terhadap perempuan, hal pertama yang harus ditabrak adalah pekerjaan rumah tangga.

Oh ya, mungkin maksudnya adalah bahwa perempuan tidak selalu harus jadi ibu rumah tangga, seperti di masa lalu. Tapi mengapa selalu konsep itu yang dijadikan simbol kebebasan perempuan?  Mengapa bukan konsep lain? Mengapa saya sangat sangat sangat jarang melihat pertunjukkan tentang perempuan yang melawan kungkungan lain terhadap perempuan? Contohnya, industri film porno misalnya.

Saya tidak mau munafik. Hak orang untuk membuat, mengedarkan, dan menonton film porno, selama hukum negaranya memperbolehkan hal tersebut. Meski begitu, tidak dapat kita pungkiri bahwa film-film porno hampir selalu menjadikan perempuan sebagai objek, perempuan seperti barang yang bisa dimainkan seenaknya.

Protes terhadap industri porno bukannya tidak ada. Dilansir dari DW, aktivis Lighthouse Shihiko Fujiwara dan organisasi Humans Right Now juga turut membantu para perempuan yang menjadi korban dalam industri porno Jepang. Masih dari sumber yang sama, pada pertengahan 2016 lalu, Intellectual Property Promotion Association (IPPA) Jepang yang mewakili industri film dewasa meminta maaf karena telah memaksa seorang perempuan untuk memainkan lebih dari 100 film porno. Ada pula yang dipaksa untuk bermain tanpa menggunakan pengaman, dan juga diperkosa beramai-ramai. Tetapi toh, industri film porno tetap ada,legal, meskipun jarang dibicarakan secara terbuka. Seolah seperti sebuah aib yang tak berniat untuk disingkirkan, tetapi ditutup-tutupi atas nama moralitas.



Memang tidak semua penggiat film porno mendapatkan pemaksaan saat beradegan seksual. Bahkan banyak sekali, yang melakukannya secara sukarela, karena industri tersebut sangat menguntungkan. Tetapi, dipaksa atau pun tidak, film porno tetap saja merepresentasikan objektifikasi pada perempuan : suatu tradisi yang seharusnya lebih banyak diprotes dan mendapatkan kritik ketimbang masalah dapur-sumur-kasur, atau bahkan Nike dengan koleksi baju renang khusus muslimah terbarunya, yang dikritik dengan alasan tidak mendukung kebebasan berpakaian perempuan: suatu alasan yang dicari-cari mengingat kebebasan berpakaian semestinya juga menyangkut keinginan perempuan untuk berjilbab sekali pun.



Mungkin kita bisa bilang kalau industri porno tak ada di Indonesia. Tetapi secae ilegal, di bawah tanah,hal-hal semacam itu ada. Bukalah situs-situs porno Indonesia dengan menggunakan IP Address, niscaya kalian akan menemukan foto dan video porno, baik dari dalam mau pun luar, dengan kategorisasi yang rapi. Mulai dari foto model bugil yang dipotret secara sukarela, video yang diambil oleh muda-mudi labil yang ingin mengabadikan hubungan seksual, foto bugil atas permintaan pacar, sampai foto yang diambil dengan cara mengintip.



Kembali lagi pada industri porno di luar negeri, konsep-konsep cerita yang digunakan begitu mengerikan. Mulai dari konsep pelacur yang menyerahkan tubuh sepenuhnya pada klien, perempuan yang kalah bermain poker/taruhan lain hingga membuka baju, casting model amatiran di sofa hitam yang ceritanya memanfaatkan keluguan para gadis (ceritanya saja, aslinya mereka juga pemeran film porno profesional), hingga perempuan yang di-gangbang tapi menikmati. Semuanya adalah bentuk objektifikasi perempuan : penonton diharapkan menikmati perempuan sebagai objek di sana, yang bisa dimainkan seenak hati. Konsep ini bukan hanya ada di industri porno Jepang, tetapi juga di negara lain. Ya, secara hukum memang legal. Tetapi apakah beretika? Jelas tidak? Tersakitikah hati para pembela hak perempuan melihat segala cuplikan ini di Xvideos, Voyeurweb, Xhamster, dan lain sebagainya? Seharusnya jawabannya adalah iya.



Mengingat di Bulan April ini adalah bulan bagi perayaan Hari Kartini, yang identik dengan emansipasi dan pergerakan perempuan, sudah terlalu basi rasanya kalau kita melulu membicarakan tentang dapur-sumur-kasur. Mengapa kita tidak menentang keras film porno dengan objektifikasi perempuan di dalamnya yang begitu merendahkan dan menghina martabat perempuan? Meski sebatas cerita fiksi, tetap saja itu menjadi gambaran betapa masih banyak orang dengan mental sakit yang menganggap perempuan sekadar barang semata.. 

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe