Antara Harapan dan Perayaan Paskah

19.57


Ada sebuah komik yang sangat menarik. Namanya Q Detective School. Dalam komik itu, sang tokoh antagonis utama, King Hades, melewati kehidupan yang membuat kita memahami alasan mengapa dia menjadi orang jahat, sesuai dengan pertanyaan dan jawaban yang dikemukakannya dulu : mengapa malaikat berubah menjadi iblis? Jawabannya adalah, karena kehilangan harapan.


Tidak ada orang yang lahir dan langsung menjadi penjahat. Namun apabila lingkungan terlanjur mengecapnya sebagai orang jahat, maka dia pun bisa menjadi orang jahat. Pasalnya, dia kehilangan harapan untuk menjadi orang baik. Tidak hanya itu, harapan dan kepercayaan kepada orang lain pun hilang. Itulah yang membuat dia jadi pribadi yang destruktif, mudah merusak dan menghancurkan, termasuk nyawa orang lain.


Dalam Paskah ini, ada esensi yang sebaliknya. Paskah penuh dengan pengharapan. Segala simbol paskah, mulai dari kelinci hingga telur memiliki makna harapan baru. Dalam sejarahnya pun, meskipun awalnya diwarnai kesedihan, tetapi pada akhirnya, saat kenaikan Isa Almasih pada keyakinan umat Kristiani, timbul harapan. Bahwa dalam kondisi seburuk apa pun, akan selalu ada awal yang baik.


Seberapa pentingkah harapan? Harapan barangkali tak dapat kita lihat wujudnya. Harapan tak nampak layaknya uang atau hadiah. Tetapi, dengan harapan, manusia bisa tetap bertahan hidup. Karena saat seseorang memiliki harapan, maka secara tidak langsung dia telah mengatur otaknya untuk berpikir secara positif. Saat otak berpikir secara positif, bagian tubuh lain pun akan ikut menjadi sehat. Kalau pun dia sakit, dia aka .  sesegera mungkin mencari alternatif untuk menyehatkan diri. Entah dengan minum obat, pergi ke dokter, atau olahraga.


Betapa pentingnya harapan dalam kehidupan. Mungkin bisa saja kita bilang "harapan hanya sebuah utopia yang didengungkan oleh para motivator untuk membuat orang merasa bahwa hidupnya baik-baik saja". Tetapi banyak kita temukan orang-orang yang sakit karena kehilangan harapan. Orang-orang yang dengan sengaja memperburuk hidupnya karena tahu sudah tak akan ada lagi harapan tentang hidup yang indah. Harapan mungkin tidak nyata layaknya obat, tetapi dengan harapan, pikiran yang sakit dapat terobati.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe