Wayang Kulit dan Ajaran Tentang Harta

18:21



Sudah lama sekali saya tidak menonton wayang. Bahkan saya lupa kapan terakhir kali saya menontonnya. Kebetulan sekali, saat sedang berjalan tanpa tujuan di Hari Sabtu, saya dan suami tidak sengaja melihat ada pertunjukkan wayang di Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia. Pertunjukkan itu diadakan secara gratis, dan menampilkan lakon wayang berjudul “Semar Mbangun Kahyangan", oleh Ki Anom Dwijo Kangko. 

Lakon tersebut memang sudah sangat sering digunakan dalam berbagai pertunjukkan wayang kulit. Namun, meskipun lakonnya sama, alur ceritanya berbeda-beda. Untuk lakon yang digelar di Kemendagri, cerita dibuka dengan Semar yang ingin membangun khayangan. Semar sendiri merupakan tokoh dari Punakawan, bapak dari Gareng, Petruk, dan Bagong. Semar ingin membangun khayangan, bukan dalam arti menjadikannya tempat yang mewah, tetapi ingin menjadikan khayangan sebagai sebuah tempat yang damai, yang rukun tanpa adanya peperangan dan perpecahan antara penguasa Negeri Amarta. Negeri Amarta atau Indraprasta sendiri adalah negeri yang dipimpin oleh para Pandhawa, terutama Puntadewa atau Yudhistira, sulung dari Pandhawa.

Sementara itu, di tempat lain, baik Pandhawa mau pun Kurawa (sepupu mereka yang senantiasa dikisahkan sebagai tokoh antagonis), tengah berguru kepada seorang Brahmana bernama Begawan Jati Sampurna. Brahmana yang satu ini memang sangat terlihat bijak. Meskipun pada akhirnya, ternyata Begawan Jati Sampurna punya maksud jahat terhadap Semar supaya Semar menjadi tumbal negara Astina.

Di samping kejahatan Begawan Jati Sampurna (dan tentunya akhir cerita yang ditandai dengan kemenangan dharma- atau kebaikan), sebetulnya ada satu ajaran dari Begawan Jati Sampurna yang patut sekali untuk direnungkan: terkait bandha atau harta. Menurut Begawan Jati Sampurna, ada tiga jenis bandha : bandha ruwat, bandha walat, dan bandha manfaat. Bandha ruwat adalah jenis harta benda yang diwariskan oleh orangtua kita, bisa berupa tanah, rumah, toko, emas, atau pun uang. Sementara itu, bandha walat adalah jenis harta yang didapatkan dengan cara yang merugikan orang lain, seperti mencuri, merampok, menipu, atau korupsi. Dan yang paling terakhir, bandha manfaat, adalah harta yang dicari dengan cara yang benar, dan dibelanjakan di jalan yang positif pula. 

Bandha ruwat, atau harta warisan, adalah jenis harta yang harus diwaspadai. Sebetulnya harta ini bukanlah harta haram atau harta yang mengandung keburukan. Setiap orangtua memberikan harta warisan dengan maksud untuk dipergunakan dengan baik oleh keturunan mereka. Sayangnya, harta ini seperti pisau, manfaat dan kerugiannya tergantung pada siapa yang menggunakannya. Pisau, bila digunakan oleh koki handal atau tukang daging yang rajin, akan membawa berkah. Namun bila digunakan oleh seorang perampok, akan bisa mencelakai orang lain.

Warisan, bila dimanfaatkan dengan baik, dapat menjadi modal usaha yang positif, atau menjadi hal yang bisa menyejahterakan hidup anak-anak dan juga orang lain. Tetapi sering kita dengar cerita tentang perebutan warisan. Ada anak yang merasa bahwa warisan yang dibagikan kepadanya tidak cukup, dan dia meminta lebih hingga menimbulkan pertengkaran antar-anggota keluarga. Ada pula yang tidak mau memanfaatkan warisannya di jalan yang benar. Saking gila harta, anak tersebut tidak ingin berbagi warisan kepada siapa pun, bahkan tidak sudi membayar pajak atau membantu orang dari warisan tersebut. Dan contoh terakhir, ada pula anak yang curiga terhadap keluarganya sendiri, terhadap kakak/adik/orangtuanya, dan berpikir bahwa mereka memanipulasi harta warisan. Begitulah. Cerita semacam ini tidak hanya terjadi di cerita Mahabaratha atau di sinetron. Bahkan beberapa waktu lalu, ada cerita tentang seseorang bernama Muniarti, mahasiswa UMJ yang dihabisi oleh kakaknya karena perkara warisan rumah. Sang kakak diduga terbelit utang dan ingin segera menjual rumah tersebut. 

Seperti biasanya, cerita wayang senantiasa mengandung nilai-nilai tentang kehidupan sehari-hari, bahkan kehidupan modern, yang dapat kita petik dan renungkan. Terkait warisan, mungkin ini terdengar klise, tetapi mereka yang memperebutkan dan mempermasalahkan warisan, adalah mereka yang tak dapat menata hidupnya sendiri, dan pada akhirnya menjadikan uang sebagai satu-satunya dewa yang dapat menyelesaikan masalah mereka. Soal pertalian darah, hal itu menurut mereka tak lagi lebih kental ketimbang tinta yang digunakan untuk mencetak uang.

Foto:1001indonesia.net

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe