Seberapa Besar Keinginanmu Untuk Tampil?

14.48


Manusia membutuhkan pengakuan. Pengakuan seperti sebuah penegasan akan eksistensi mereka. Cara untuk menggapai pengakuan ini banyak sekali. Salah satunya adalah dengan menunjukkan bahwa diri mereka keren, baik secara penampilan maupun pergaulan.

Apa media yang bisa mereka gunakan untuk menunjukkan hal-hal tersebut? Saat ini, jelas banyak sekali. Saya sampai bingung menyebutkan satu persatu. Yang jelas, fitur Snapchat yang kini bisa kita temukan di hampir semua media sosial menjadi penyalur bagi pertunjukkan diri tersebut.

Penggunaan fitur video memang meningkat dari tahun ke tahun. Itulah alasan mengapa berbagai media sosial memaksimalkan fitur yang satu ini. Orang-orang semakin aktif di media sosial dengan video, tidak hanya untuk promosi bisnis, tetapi juga untuk promosi "diri" alias unjuk gigi.

Fitur video dalam Snapchat, yang kemudian ditirukan oleh Instagram dan Whatsapp ini, dianggap menyenangkan sebagai fitur video: gambarnya bergerak (tentu saja), dan tidak abadi. Manusia mendambakan keabadian, tetapi di sisi lain, manusia juga menyukai hal-hal yang fana. Hal-hal semacam ini dianggap lebih berharga, karena kita hanya bisa menikmatinya di waktu-waktu tertentu saja. Semacam tempat liburan. Bukankah sebuah tempat menjadi indah karena kita hanya mengunjunginya sekali hingga beberapa kali saja, dan bukannya setiap hari? Sebuah hal yang bisa dinikmati setiap saat akan menjenuhkan manusia.

Di sinilah letak keistimewaan cerita-cerita khas Snapchat itu. Terutama bagi mereka dengan keingintahuan yang besar (atau biasa dikenal dengan istilah kepo) akan narsisisme orang lain. Momen-momen yang tidak abadi, video yang akan hilang dalam batas waktu dua puluh empat jam, dianggap berharga. "Harus dikepoin secepat mungkin biar nggak keburu ilang", begitu pikir mereka.

Sementara itu, bagi yang doyan mempertontonkan diri berikut sepaket kegiatan mereka, Snapchat, InstaStory,dan Whatsapp Story ini dianggap seperti channel pribadi mereka. Semacam televisi. Televisi tidak seperti Youtube yang acara-acaranya bisa dilihat setiap saat (kecuali dengan teknologi perekaman acara televisi yang ada di televisi-televisi canggih), sehingga acara-acara di televisi dianggap lebih berharga dan eksklusif ketimbang rekaman video Youtube yang lebih abadi.

Lagipula, fitur "video akan menghilang dalam dua puluh empat jam" ini membuat orang-orang yang narsis dapat berekspresi segila mungkin, semewah mungkin, dengan kualitas video seperti apapun, tanpa takut terlalu dianggap "mengganggu". Berbeda dengan fitur video atau foto yang biasanya dihadirkan Youtube, Instagram, dan media sosial lain, terlalu banyak postingan akan membuat media sosial kita terlihat "nyampah". Padahal, banyak orang yang ingin selalu menunjukkan kesehariannya pada orang lain. Semacam artis yang senantiasa disorot.

Kehadiran fitur baru ini sontak membuat banyak orang menjadi "seperti selebriti". Saat televisi sulit dimasuki, saat media-media mainstream jelas-jelas memilih untuk meliput selebriti yang sudah terlanjur tenar, maka media sosial ini menjadi media yang toleran terhadap mereka yang ingin terkenal. Pertanyaannya adalah, apakah kalian betul-betul tidak terganggu saat orang lain bisa dengan mudahnya masuk serta memahami kehidupan pribadi kalian.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe