Mengapa Memuja Raja Salman dan Para Pangeran?

17.27



Sebetulnya saya sudah sangat sangat dan sangat jengah terhadap segala puja puji yang dilontarkan oleh masyarakat terhadap Raja Salman dan pangeran-pangerannya. Tetapi mau bagaimana lagi, ini adalah kedatangan pertama Raja Arab Saudi sejak tahun 1970. Hal yang langka memang selalu diperbincangkan banyak orang.

Lagipula,  bukan hanya masalah kelangkaan saja yang membuat orang-orang yang menjadi heboh atas kedatangan Raja Salman dan segenap kerabatnya ini. Raja Salman dan kerabat-kerabatnya dianggap punya segala kapital yang memuaskan dahaga kebanyakan masyarakat Indonesia. Berdasarkan kapital ekonomi, dia terlihat kaya dan punya harta berlimpah. Dilihat dari kapital sosial, sudah jelas dia adalah raja yang memimpin Arab Saudi, dan punya relasi penting dengan banyak orang. Dari kapital budaya, dia dianggap seorang penganut Islam taat, yang telah menjadi hafidz Quran sejak umur 10 tahun, serta punya garis keturunan yang unggul, baik dari segi fisik mau pun strata sosial. Semua itu membuatnya memiliki kapital simbolik, pengakuan dari orang lain.
Via Eksklusif
Mengidolakan raja gagah, pangeran tampan, tentu bukan hal yang aneh. Lumrah. Bahkan selebriti kelas nasional pun punya banyak penggemar yang akan menangis saat bertemu mereka. Manusia membutuhkan manusia lain untuk menjadi panutan, karena mereka ingin menjadi seperti mereka (tetapi mungkin tidak mampu), atau menurut mereka, idola-idola tersebut inspiratif. Tetapi dalam kasus Raja Salman dan kerabat-kerabatnya, saya melihat bahwa mereka cenderung mengistimewakan manusia lain secara berlebihan. Bahkan dalam tingkat yang lebih parah ketimbang penggemar berani mati para selebriti. Lebih parah pula ketimbang penggemar fanatik tokoh politik.

Seolah-olah, kehidupan raja dan pangeran begitu paripurna. Oh dan tidak hanya kehidupan saja, begitu pula perawakan mereka. Mungkin kalau diibaratkan tanaman, mereka bagaikan bibit unggul bagi para netizen yang heboh ini. Standar ketampanan ya seperti apa yang ada pada diri pangeran Arab. Lelaki lokal, minggir dulu. 

Padahal toh seseorang terlihat tampan atau pun cantik karena konstruksi sosial. Kita melihat lelaki dan wanita Timur Tengah atau Kaukasian sebagai makhluk-makhluk cantik dan tampan karena kita tidak memiliki perawakan fisik seperti mereka. Lagipula, kita selalu menganggap bahwa kasta sosial mereka berada di atas kita. Mereka dianggap lebih berpendidikan dan lebih sejahtera. Untuk itu kita selalu merendahkan gen kita sendiri. 

Via Eksklusif
Tidak hanya itu saja. Raja Salman dan kerabat-kerabatnya juga dianggap jauh lebih relijius, dan dianggap punya nilai lebih dalam hal keagamaan. Tentu saja. Dia keturunan pemimpin di Arab Saudi. Takdir membuatnya harus menjadi pemimpin di sana, menjaga kota-kota dan tempar suci. Kita tak bisa menghakimi apakah mereka lebih relijius daripada orang lain yang tak lahir di Kerajaan Arab Saudi, ataukah mereka tak serelijius yang terlihat. Namun, sudah jelas, kita tak bisa menilai kuat tidaknya agama seseorang hanya karena dia orang Arab, orang Inggris, atau hanya karena dia lahir tak jauh dari tempat-tempat suci.


Tetapi toh manusia terlanjur tenggelam dalam konstruksi sosial semacam ini. Sama seperti kita yang kagum pada anak-anak "10 besar konglomerat terkaya Indonesia versi Forbes", karena mereka dianggap berkelas. Tentu saja kelas mereka dianggap tinggi. Uang mereka banyak. Jauh lebih banyak ketimbang orang-orang dengan pendapatan kapita rata-rata. Kita tak bisa menceramahi mereka dengan kalimat semacam "ya wajarlah, dia kaya..",atau "ya wajarlah, dia tinggal di negara mana...". Toh mereka sebetulnya sudah tahu hal ini. Mereka hanya tidak mau tahu saja, karena mereka tidak mau merusak sebuah imajinasi yang sempurna tentang seseorang. Padahal, dunia tidaklah semanis itu. 


Gambar Utama: bbci.co.uk

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe