Perundungan yang Sama Sekali Tidak Bermakna

16.19


Jujur saya agak malas kalau harus mengulang kembali saat kuliah, apalagi di awal-awal semester. Jadi, di jurusan saya ada tradisi inisiasi. Tidak tahu legal ataupun tidak, yang jelas, tradisi ini sudah turun temurun dilakukan sejak dari angkatan yang umurnya setara dengan ibu saya.

Saya tidak mau ikut inisiasi. Bahkan, saya merasa muak menggunakan name tag konyol, dan melakukan hal-hal di luar tugas perkuliahan. Sesuatu yang biasa ditugaskan oleh senior. Oh ya, kembali membahas inisiasi, kegiatan ini dilakukan dari siang hingga malam hari, dan meliputi aktivitas menginap. Dulu pernah dilakukan di puncak, kemudian pada angkatan saya, dilakukan di salah satu gedung kegiatan mahasiswa. Tidak tahu jelasnya, apakah kegiatan itu didukung oleh Universitas atau tidak. Sepertinya sih, tidak.

Dalam kegiatan itu, angkatan termuda dihardik dan disalah-salahkan, serta bermain peran yang memalukan. Sementara itu, angkatan atasnya lagi, bertugas untuk memasak bagi angkatan yang di atasnya, hingga para alumni. Banyak orang yang bilang itu biasa. Toh, tidak ada tindakan fisik yang berujung kematian (walaupun bisa saja kelelahan akan berakibat sakit hingga kematian pada orang tettentu). Tetapi, apa esensinya terhadap proses pendidikan di kampus? Toh kampus saya bukan kampus militer. Kami tidak lulus untuk menjaga batas wilayah di Mosul atau Palestina. Atau untuk menjaga pulau terdepan. Dan sebelum masuk, tidak ada kisi-kisi bahwa untuk lulus, kita harus melewati cercaan dan hardikkan dari kakak kelas hingga level alumni (bahkan ada beberapa dosen muda, yang juga mengikuti acara tersebut. Bermoralkah?.


Hal yang sama juga terjadi terhadap tiga mahasiswa pecinta alam di Universitas Islam Indonesia: Muhammad Fadli, Syaits Asyam, dan Ilham Nurfadmi. Ketiganya tewas usai dirundung habis-habisan oleh para senior mereka di lereng Gunung Lawu, dengan dalih pelatihan dasar. Oh ya, mendaki gunung dan menjelajahi bentang alam lain memang bukan hal yang mudah. Tetapi, alam tidak pernah sengaja memukuli orang. Tidak perlu memukuli dan membuat lebam seseorang untuk jadi penjelajah yang hebat. Toh, mereka bisa diajarkan untuk kuat dengan cara yang tidak kasar. Mereka bisa diajarkan untuk menghadapi alam tanpa perlu menghadapi kematian.

Memang kita terlalu banyak terpaku pada budaya senioritas yang menyebalkan. Sok-sok menguatkan, padahal kita hanya ingin merundung supaya terlihat hebat. Kita tidak pernah bermaksud menguatkan adik-adik junior kita. Toh, tanpa perundungan, mereka akan belajar sendiri tentang dunia kampus dan dunia nyata. Tak perlu membuat kurikulum tak resmi yang jelas-jelas melanggar Hak Asasi Manusia. Tak ada gunanya sama sekali. Alih-alih membuat junior menjadi pribadi yang hebat, malah, junior akan meneruskan tradisi tanpa makna ini ke juniornya nanti. Begitu seterusnya. Tak heran kita menjadi para manusia menyebalkan yang tak paham esensi. Hanya memahami bahwa kalau kita lebih tua, maka kita lebih hebat dalam penindasan.

Tak ada hal yang hebat dari sebuah perundungan.  Hal tersebut justru menunjukkan bahwa kita tak punya hal lain yang bisa dibanggakan, selain mampu melakukan kekerasan fisik dan simbolik.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe