Janin Bayi, ASI, dan Keringat dalam Seni: Antara Kreativitas dan Tabu

22:25


Sulit bagi kita untuk mendefinisikan batas-batas dari seni. Pasalnya, keindahan dan kelayakan sebuah seni bergantung pada pengalaman dan nilai-nilai yang dimiliki baik oleh seniman, maupun si penerima. Ada yang menganggap bahwa kesenian semacam komik ala @sirjoancornella, seperti yang pernah dibahas di sini, adalah hal yang sangat lucu dan maknawi. Namun ada juga yang menganggap bahwa @sirjoancornella tak lebih dari manusia dengan jiwa psikopat terselubung, atau menganggapnya sebagai seniman kurang kerjaan.

Di linimasa media sosial Indonesia sendiri, para netizen sedang heboh karena adanya acara #MakanMayit yang digelar di Jakarta oleh seorang seniman bernama Natasha Gabriella Tontey. Pasalnya, konsep makanan yang dihadirkan dalam acara ini cenderung sadis: bentuk janin-janin bayi, payudara, otak, dan makanan-makanan semacam sayur lodeh yang disajikan dalam boneka-boneka bayi yang telah "dimutilasi". Yang membuat beberapa netizen gusar bukanlah hanya tentang bentuknya yang membuat para ibu yang pernah mengalami keguguran menjadi trauma, tetapi pernyataan dari sang seniman, bahwa dia menggunakan ASI dan ekstrak keringat dari ketiak bayi sebagai salah satu bahan dasar.

Acara seni ini bukanlah acara seni pertama yang kontroversial di Indonesia. Belasan tahun lalu, sebuah kontroversi juga menimpa instalasi seni PinkSwing Park karya Davi Linggar dan Agus Suwage, yang berisi ayunan berwarna pink, dalam sebuah ruang berlatar foto dua manusia yang (seolah) telanjang, dengan Anjasmara dan Izabel Jahja sebagai modelnya. Meskipun mengklaim bahwa ketelanjangan itu hanyalah editan komputer, tetapi tetap saja konsep ketelanjangan yang dapat diakses semua orang secara terbuka dianggap tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di negara ini.

Dan tidak hanya itu saja. Bahkan karya-karya Young Lex serta Awkarin, rapper-rapper baru yang memanfaatkan Youtube sebagai media, pun cenderung mendapatkan "penolakan" dari masyarakat kita. Hal ini disebabkan oleh kata-kata kasar yang mereka gunakan. Kata-kata kasar itu dianggap tidak sesuai norma yang berlaku di negara ini. Meskipun kita tahu bahwa bukan hanya Young Lex dan Awkarin saja yang berkata-kata kasar. Banyak orang yang berkata kasar di jalan, di angkutan umum, di sekolah, dan di tempat-tempat lain. Tetapi, kebanggaan Young Lex dan Awkarin dalam "perkataan kasar" itulah yang dipermasalahkan.

Via Ekslusif
Sebetulnya, masalah pantas atau pun tidak pantas bergantung pada kondisi sosial dan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat di daerah tertentu. Seperti misalnya acara Mardi Gras di New Orleans yang menampilkan para wanita berbusana minim, acara prank di negara berbahasa Rusia yang menampilkan ketelanjangan, atau prostitusi di Thailand, tentunya tidak menjadi masalah besar di tempat-tempat yang bersangkutan. Tetapi bila keduanya dihadirkan di Indonesia, negara yang menganut konsep ketuhanan pada dasar negara, dengan nilai-nilai dan norma yang cukup kuat mengakar, terutama terkait keagamaan dan seksualitas, pastilah akan menimbulkan keributan. Selama tidak merugikan orang lain, tidak ada salah mau pun benar. Tetapi tentunya, sesuatu harus bisa beradaptasi, layaknya makhluk hidup di dunia ini, untuk bisa terus bertahan, dan mengikuti sebuah pepatah yang berbunyi "lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya". 

Kita tidak bisa memaksakan baju favorit kita pada orang lain, begitu pun sebaliknya. Segala hal di dunia ini saling bertabrakkan, termasuk juga kepentingan dan keinginan masing-masing orang. Inilah yang kemudian disebut intersubjektifitas. Kita bisa bilang bahwa di dunia ini banyak orang bodoh dan berpikiran sempit, tetapi toh luas-sempitnya pikiran itu relatif. Sekali lagi, kembali pada nilai-nilai dan latar belakang yang ada dalam hidupnya.


Sulit menghakimi benar-salah dari acara bertajuk #MakanMayit ini. Tetapi, menggunakan ASI dan ekstrak keringat jelas tidak sesuai dengan budaya orang Indonesia. Keringat bayi, for sure? Bagi masyarakat kita, memakan sesuatu yang merupakan kotoran dari tubuh manusia sangatlah menjijikkan. Entahlah bagi masyarakat negara lain. Atau bagi komunitas yang menikmati makanan-makanan tersebut. 

Sumber Foto: BBC

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe