Buku Edukasi Seks dan Stasiun Televisi yang Hobi Memanaskan Suasana

20.55


Kita semua tahu fungsi microwave. Alat rumah tangga yang satu ini biasa digunakan untuk memanaskan sesuatu yang telah mendingin. Tetapi ingat, hanya makanan dingin saja yang pantas untuk dipanaskan. Kalau makanan sudah cukup hangat, atau baru saja digoreng, untuk apa dimasukkan ke dalam microwave?

Sayang analogi ini nampaknya tidak berlaku bagi oknum-oknum pemilik media, dan mungkin oknum-oknum pekerja yang berada di dalamnya. Saat ini, masyarakat Indonesia tengah digemparkan oleh beredarnya buku anak-anak dengan muatan seksual. Judul buku itu sendiri adalah "Aku Belajar Mengendalikan Diri". Dalam buku itu, diceritakan tentang seorang anak yang mencoba untuk masturbasi karena merasakan kenikmatan. Anak itu, kelihatannya, masih duduk di Sekolah Dasar.


Sebetulnya, buku tersebut memuat pendidikan tentang seks, dan baik untuk dibaca oleh orangtua. Di sebuah bagian bukunya pun, tertera tips bagi orangtua tentang keinginan anak untuk masturbasi dan bagaimana cara mencegahnya. Satu-satunya kesalahan buku ini adalah tidak mencantumkan tulisan bahwa buku ini sebenarnya ditujukan bagi orangtua, dan di beberapa toko buku, diletakkan di tempat buku bagi anak-anak.


Namun, hal ini tidak dipedulikan oleh sebuah media besar, yang katanya, merupakan franchise dari media berskala internasional. Yang ditonjolkan dalam pemberitaan media tersebut, melalui sebuah siaran siang, hanyalah pada konten masturbasinya semata. Tidak ditonjolkan tentang maksud pembuatan buku ini (yang ada di bagian belakang), dan tidak pula ditonjolkan halaman yang mencetak tentang tips bagi orangtua. 


Tak hanya itu saja, perkataan presenter dan juga narator naskah pun cenderung menghakimi bahwa buku ini "berbahaya". Tidak ada sama sekali pernyataan bahwa buku ini sejatinya ditujukan untuk edukasi seks. Bahkan, Sound on Tape (SOT) narasumber dari penerbit buku terkait pun, hanya berkisar tentang bahwa buku itu dibuat usai  melalui diskusi dengan berbagai pihak yang profesional seperti psikolog misalnya. Tetapi, sekali lagi, channel ini sama sekali tidak membahas tentang tujuan pembuatan buku ini dengan gamblang. Seolah, buku ini sengaja beredar untuk merusak masyarakat. Menambah ketakutan para orangtua dan membuat mereka salah paham. 

Entahlah oknum jurnalis hingga produser yang mengurus berita itu dikejar tenggat atau bagaimana, yang jelas, mereka tak memberitakan sesuatu dengan gamblang dan punya nuansa mencerahkan. Meskipun ada kesalahan dalam produksi buku itu, sudah semestinya mereka tak perlu menambah ketakutan orangtua dengan kalimat-kalimat pemberitaan yang tendensius. Yang membuat kita menjadi berpikir, yakinkah mereka masih pantas. menggunakan slogan "News We Can Trust?". Entahlah. Mungkin lebih baik kalau kita tambahkan satu huruf sehingga menjadi "News We Can't Trust".

Dan satu lagi, kalau stasiun televisi ternama saja sulit kita percaya, bagaimana dengan akun-akun buzzer atau malah akun-akun anonim lain yang kini hobi menyebarkan berita di media sosial?


Foto: huffpost.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe