Apakah Manusia Bisa Hidup dalam Perbedaan?

19:26


Apakah manusia bisa hidup dalam perbedaan? Jawabannya, bisa, asal bukan dalam prinsip. Dan kalaupun dalam prinsip, setidaknya hidup mereka tidak betul-betul berdekatan,


Misalnya, ada seorang perempuan yang punya prinsip kalau kita tidak perlu mengumbar masalah pribadi di media sosial. Sementara itu, ada lelaki yang menganggap bahwa penting mencurahkan isi hati di media sosial, supaya orang lain bisa memberi kita solusi, dan juga perhatian. Keduanya mungkin tidak salah. Tetapi, mereka berdua tidak dapat bersatu. Kalau mereka bersatu, tentu saja akan terjadi keributan, dan bukan tidak mungkin, perpisahan yang buruk.


Untuk itu, sebuah hal yang bullshit, dan munafik apabila kita berbicara bahwa perbedaan harus kita tolerir. Memang, tapi dalam batas tertentu. Perbedaan masih bisa kita terima, apabila perbedaan itu tidak sampai hidup di rumah kita. Cukup berkunjung sampai ke teras rumah saja, begitulah analoginya. 



Yang salah adalah, ketika perbedaan itu betul-betul ingin kita hilangkan, kendati perbedaan itu tak sampai mampir ke dekat kita. Banyak orang yang berpikiran sempit dan menganggap bahwa perbedaan itu tidak boleh benar-benar ada. Ini yang salah besar. Sampai kapanpun, manusia akan tumbuh dengan kepribadian dan pemikiran yang berbeda-beda. Tidak akan ada manusia yang betul-betul sama persis. Tidak akan pernah ada, sekalipun semua manusia dibesarkan oleh Ibu yang sama, dinafkahi oleh Ayah yang sama, dan tinggal dalam satu rumah.



Tetapi, menganggap kalau semua orang, bahkan dalam tingkatan perasaan pun harus menerima perbedaan, itu juga tidak bijak. Apalagi menganggap bahwa mereka yang tidak mau hidup bersama dengan orang yang berbeda adalah orang yang kolot. Tidak. Pada dasarnya, manusia memprioritaskan kenyamanannya sendiri. Manusia akan merasa terganggu apabila harus setiap hari berhadapan dengan hal yang tidak sesuai prinsipnya. 



Untuk itu, saya heran kepada orang yang selalu mempertanyakan, mengapa ada orang yang tidak mau menikah dengan orang yang agamanya berbeda dengan dia? Karena, banyak orang yang nyaman dengan orang yang punya prinsip sama, terutama prinsip kepercayaan. Apalagi jika orang-orang tersebut adalah orang yang relijius, tak mungkin akan nyaman hidup dengan mereka yang mempercayai jalan lain menuju Ketuhanan. Pasti akan ada banyak pertengkaran. Hal itu sama sekali tak menunjukkan bahwa dia adalah orang yang kolot, tidak. Dia tahu apa yang membuatnya nyaman. Begitupun dengan orang yang mau menikah dengan mereka yang punya keyakinan berbeda. Mungkin bagi mereka, masalah keyakinan bukanlah hal utama bagi hidup mereka. Keduanya tak salah, asal tak saling memaksakan pendapat.

Masalah kita saat ini adalah, mengapa banyak orang yang membawa-bawa perbedaan dan toleransi hanya untuk memaksakan pendapat satu sama lain? Padahal toh, mereka juga tak hidup dalam satu rumah yang sama. Ada baiknya, tak usah terlalu betul-betul risaukan perbedaan yang hanya sekadar lewat di depan rumahmu, atau hidup di rumah yang berbeda. Karena toh, selama tak bersinggungan, tak masalah, bukan? 


You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe