Antara Sindiran dan Orang Bodoh

23:23



Belum lama ini, saya melihat sebuah video parodi berjudul "America First, Indonesia Second". Video ini bertujuan untuk menyindir Donald Trump yang terlihat jumawa dan seolah menginginkan Amerika mengungguli semua negara di dunia, tentunya dengan cara arogan dan ambisius. Video ini dibuat oleh POS RONDA, sebuah media satir yang sering membuat artikel dengan konsep pemberitaan serius, tetapi berita-beritanya sejatinya fiktif dan hanya dimaksudkan untuk parodi semata. 



Nah, video ini jelas bukan video pertama tentang American First. Sebelumnya, telah ada video-video serupa dari negara lain, seperti American First, Sweden Second, American First, Moldova Second, American First, Spain Second, dan masih banyak lagi (bisa Anda cari di Youtube dengan kata kunci "American First"). Nah, sebetulnya video-video ini hanyalah sindiran berbagai oknum warga negara selain Amerika Serikat, yang menganggap bahwa Trump sangatlah arogan dan menyebalkan. Padahal, Amerika Serikat juga tak dapat bertahan tanpa kerja sama dengan negara lain. Termasuk Indonesia.

Dan karena video ini sifatnya menyindir, maka kontennya pun terkesan memuji-muji Amerika, padahal sebetulnya menjatuhkan. Seperti pada salah satu segmen di American First versi Indonesia. Si pembuat video menyinggung tentang masalah Freeport, dan beberapa sumber daya lain yang sejatinya dikuasai oleh Amerika Serikat. 

Sayangnya, masih banyak netizen, dalam hal ini Indonesia, yang kelewat bodoh. Kalau tidak percaya, kalian bisa singgah ke laman Facebook POS RONDA, dan melihat beberapa komentar di sana. Memang banyak yang memahami kalau video ini hanya ditujukan sebagai bentuk sindiran dan gurauan, layaknya tren "American First" yang ada di berbagai negara. Tetapi tetap saja banyak yang menganggap serius dan berkomentar bahwa video ini menyinggung Indonesia, dan hanya bertujuan untuk mendapatkan LIKE semata. 

Mungkin memang tujuannya itu, tetapi, memangnya mengapa? Itu hanyalah gurauan, dan tidak menyakiti orang lain. Netizen kita kebanyakan gampang tersulut emosi, dan tidak membudayakan mencari tahu. Padahal, kalau mereka mencari tahu, mereka akan menemukan bahwa video itu sekadar mengikuti video-video yang sebelumnya sudah lama beredar, dan tak perlu ditanggapi serius. Sayangnya, mungkin mereka malas saja membaca konten dari negara lain, yang notabene ditulis dengan Bahasa Inggris.

Tak mengherankan kalau momen Pilkada dan pemilu di Indonesia, terutama di dunia maya-nya Indonesia, selalu menyebalkan dan panas. Pasalnya, netizen-netizen ini mudah sekali dipengaruhi oleh sumber-sumber tak bertanggungjawab. Lagipula, mereka cenderung hanya mau membaca literatur atau apapun yang memang sesuai dengan kesenangan mereka. Mereka tak mau membaca hal-hal lain yang dianggap berseberangan dengan pendapat pribadi. Mereka hanya ingin bicara dan menulis, tetapi tak ingin mendengarkan dan membaca. 

Padahal, ketika kalian berbicara dan menulis hanya berdasarkan apa yang kalian mau ketahui dan kalian suka, tulisan dan ucapan kalian tak lebih dari sekadar gambaran ego kalian sendiri. Seperti anak kecil yang menangis dan tantrum karena ingin mainan baru. Dia tidak mau dan belum bisa memahami bahwa mungkin orangtuanya sedang berhemat untuk pendidikannya, karena itu orangtuanya tak ingin membelikannya mainan baru. 


Entahlah sampai kapan budaya "mencari tahu" ini bisa diterapkan dalam pikiran masyarakat kita. Kebanyakan dari mereka hanya menginginkan hal-hal praktis. Mereka malas menemukan fakta-fakta yang dianggap dapat menghancurkan keyakinan dan juga integritas mereka. Ya, pada dasarnya, mereka tak betul-betul ingin tahu. Mereka hanya ingin diketahui, tanpa perlu susah-susah cari tahu. Kalau selamanya terus seperti ini, negara kita terutama, akan menjadi negara yang sangat berisik dan menyebalkan.  

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe