Antara Cinta dan Kebencian

22:04


Empedokles, seorang pemikir Yunani kuno pada abad ke-5 SM pernah mengatakan bahwa dunia ini dibentuk dari cinta dan kebencian. Keduanya harus ada untuk bisa menjadikan dunia ini sebagaimana adanya dunia yang kita kenal hingga saat ini. Dia mencontohkan dengan pembagian empat zaman dalam proses pembentukan alam semesta.

Pada zaman pertama, cintalah yang dominan. Cinta mencampurkan semua anasir, zat-zat yang ada di dalam alam semesta. Tidak ada benci, karena semuanya menjadi satu. Pada zaman kedua, ada Benci yang memecah-belah anasir-anasir tersebut. Cinta dan Benci pun hadir di dunia ini. Pada zaman ketiga, benci-lah yang menjadi dominan. Kebencian dan perpecahan mengalahkan dan mengesampingkan Cinta. Dan pada zaman keempat, setelah semua terpecah-belah karena Benci, Cinta kembali menyatukan segalanya.

Konsep Cinta dan Benci ala Empedokles bukan sekadar tentang hubungan antarlawan jenis saja, tetapi hubungan antara segala hal di dunia. Benci seolah menjadi sebuah hal yang menyebalkan, yang meresahkan, yang sebaiknya tak ada di dunia ini. Tetapi, melihat konsep di atas, bukankah disukai ataupun tidak, Benci haruslah ada untuk menjadi penyeimbang dunia ini? Bila tak ada Benci, maka tak ada dunia. Tak ada perpisahan. Tak ada pembaharuan. Tak ada siklus. Dan dunia ini tak akan berjalan sebagaimana mestinya.


Konsep Benci dalam Sebuah Hubungan

Kebencian dalam sebuah hubungan juga dianggap sebagai suatu hal yang bersifat destruktif, tak hanya hubungan antarlawan jenis, tetapi juga cinta terhadap orangtua, terhadap kawan, saudara, lingkungan, hingga pada pekerjaan. Tetapi, tanpa Benci tersebut, tidak akan ada Cinta. Atau kalaupun ada, Cinta tak akan menjadi sesuatu yang menyenangkan. 

Pasalnya, konsep Cinta ada karena Benci ada. Begitu pula sebaliknya. Bila Anda tak membenci kesendirian, maka Anda tak akan mencintai seseorang dan takut kehilangan dirinya. Bila Anda tak membenci kemiskinan dan kejenuhan, Anda tak akan mencintai pekerjaan Anda. Bila Anda tak membenci jarak, maka tak akan ada pertemanan. Dalam hubungan, Benci pun dapat digunakan untuk memperbaiki banyak hal. Misalnya, Anda benci dengan kebiasaan buruk orangtua Anda. Anda pun kemudian berusaha keras mengubahnya, demi kebaikkan orangtua Anda. Kebencian menggerakkan kita untuk mengubah dan menghindari sesuatu.

Meski begitu, Benci tak boleh hadir secara dominan. Seperti dalam segala konsep yang ada di dunia ini, segalanya toh harus seimbang. Cinta mempersatukan dan memelihara, benci mengubah dan memisahkan. Tak ada yang buruk bila keduanya ada di dunia ini.

Yang buruk adalah, saat keduanya menjadi dominan. Cinta yang terlalu besar sulit membangun, Benci yang terlampau besar akan merusak. Keduanya mesti hadir dalam porsi yang seimbang. Karena, bukankah sejatinya hidup yang ideal memang tentang keseimbangan, dan keberadaan segala hal, termasuk hal-hal yang kita anggap buruk?

Foto:entrepreneur.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe