Selamat Datang, Pemanjat Inteligensi

19.34



Pura-pura pintar, pura-pura kritis terhadap berita, pura-pura tahu tentang kata-kata sulit di Kamus Besar Bahasa Indonesia

Istilah social climber alias pemanjat sosial pastilah sudah tak asing lagi di telinga kalian. Fenomena ini memang sudah lama menjadi hal yang berkonotasi negatif di tengah masyarakat kita. Pemanjat sosial dikenal sebagai sosok yang mengganggu, penuh kepalsuan, dan penuh keinginan untuk memanfaatkan orang lain, terutama dari segi materi dan jaringan sosial. 

Tetapi, jangan salah. Ada satu tipe pemanjat lagi yang harus diwaspadai, terutama pada era perkembangan media sosial yang cukup masif ini, dan terlebih juga pada masa-masa pemilihan umum yang panas: pemanjat kecerdasan atau inteligensi Sebetulnya konsep tukang panjat yang satu ini sama dengan pemanjat sosial. Hanya bedanya, pemanjat sosial berambisi untuk menjadi terlihat kaya dan punya pergaulan tinggi, sementara itu, pemanjat kecerdasan berusaha keras untuk terlihat pintar. Padahal, mereka tak sepintar itu.

Mereka tak betul-betul tahu tentang sebuah hal, tetapi memperlihatksn di media sosial bahwa mereka tahu dengan mengkritik dan pura-pura peduli pada kondisi sosial politik dan ekonomi. Mereka menggunakan kata-kata sulit, yang mungkin bisa disejajarkan dengan kosa kata ajaib Vicky Prasetyo, hanya supaya kasta kecerdasan mereka terangkat. Mereka doyan mempersulit sesuatu yang sebetulnya mudah untuk dijelaskan.

Mereka juga akan kesal bila ada orang yang mengkritik mereka. Karena bagi mereka, kritik dan perbaikan adalah sebuah penghinaan atas inteligensi mereka. Mereka tak benar-benar bermaksud mencari ilmu. Mereka bahkan tak ingin melihat adanya orang lain yang lebih cerdas daripada mereka. Mereka tak bermaksud berbagi ilmu, hanya ingin berbagi citra saja.


Begitu kritis dan menyebalkannya pemanjat inteligensi


Pemanjat kecerdasan atau inteligensi mungkin tidak akan terlihat di arisan-arisan sosialita, mati-matian menyewa Hermes Birkin dan berpura-pura mampu liburan ke luar negeri secara rutin. Tidak juga mencoba menebar jaring untuk menjerat cinta anak-anak konglomerat. Mereka berkisar di media-media sosial, di seminat politik, sosial, sastra, dan keilmuan lain, kemudian menunjukkan kelas kecerdasan mereka melalui foto dan kritik-kritik. Mereka adalah orang-orang yang seringkali me-retweet atau membagikan berita pilkada dan berita pergerakan perempuan di inagurasi Trump, berita tentang Habib Rizieq dan konspirasi FPI, kemudian menambahkannya dengan komentar mereka yang bernada pedas, kritis, tetapi dangkal. Dan jangan salah juga, mereka berada di ruang-ruang intelektual lain seperti bioskop yang memutarkan film "Istirahatlah Kata-Kata", berpura-pura simpatik pada Wiji Thukul dan mengecam pemerintah atas hilangnya berbagai aktivis, padahal sebetulnya mereka tidak betul-betul peduli. Mereka bahkan tidak tahu, apa saja karya Wiji Thukul? Yang penting, di media sosial mereka mengunggah tiket, mengunggah kata-kata sok sastrawi yang seolah tak pernah beristirahat, yang seolah mereka pahami maknanya, padahal membaca Anna Karenina saja belum pernah. Membaca Anak Semua Bangsa saja mungkin mereka mabuk bosan. 

Mereka pura-pura peduli pada keberlangsungan negeri, mengajak rekan-rekan untuk menyukai dan membenci tokoh politik tertentu, hanya berdasarkan data-data invalid dan provokatif di media sosial, serta apa yang sedang tenar di tengah masyarakat. Mereka akan berkicau paling keras, bak pengamat politik profesional, usai menonton debat Pilkada putaran satu, dua, tiga, dan seterusnya. Padahal, mereka tak memahami strategi politik. Tak memahami tata kota Jakarta. Tak memahami perekonomian. Yang mereka pahami hanyalah bahwa mereka ingin terlihat pintar.

Begitulah. Ada beberapa kapital di dunia ini, dan mungkin mereka tak punya semuanya. Kemudian, mereka pun mencoba meraih kapital budaya (kepintaran), dengan cara instan, bak Indomie goreng rasa kuah yang mudah diseduh. Sehatkah? Tidak ada cara instan yang sehat. Begitu pula inteligensi. Tak lantas mereka yang hanya menimba ilmu dari apa yang dianggap tenar di masyarakat dan di media, atau dari provokasi orang, tiba-tiba bisa menjadi ahli. Seorang ahli adalah mereka yang mendedikasikan diri untuk sesuatu, dalam jangka waktu lama, mungkin juga sebagai bentuk eksistensi diri, tapi bukan hanya itu saja tujuan mereka. Seorang ahli memiliki kecintaan pada sesuatu dan bukan sekadar ingin terlihat pintar saja. Seseorang yang haus akan ketenaran dan pengakuan, akan mual dan suatu saat bisa muntah saat dia berpura-pura haus akan ilmu.

Berhati-hatilah maka, saat membaca dan mendengar segala hal yang diutarakan dan ditulis oleh para pemanjat inteligensi ini. Mereka ada di sekitar kita. Atau bahkan, mereka bisa jadi diri kalian sendiri. Yang bukannya akan mengarahkan kalian pada ilmu yang baik dan membangun, tetapi sekadar menjadikan kalian tong kosong yang bunyinya nyaring.

Foto: HikingArtist.com 

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe