Perlakukan Pasangan Calon Seperti Barang di Minimarket

00.00


Beberapa waku yang lalu, saya sempat mengelola media sosial milik salah seorang tokoh politik yang cukup tenar dan sempat memegang jabatan berkelas di negara kita ini. Tokoh tersebut sejatinya punya citra yang negatif. Maksud citra negatif adalah, apabila masyarakat memperbincangkan tokoh ini, maka, cerita yang negatif dan buruk lebih banyak terlontar ataupun tertulis, ketimbang yang positif. Tentunya hal ini berbeda dengan tokoh lain, misalkan saja, B.J. Habibie. Sebagai seorang teknokrat yang cerdas dan telah memegang sekitar 46 paten di bidang aeronautika dunia, juga sebagai suami yang setia dan penyayang, masyarakat akan lebih banyak membicarakan hal positif dari Habibie, ketimbang yang negatif. Dan memang begitulah adanya, karena terbukti bahwa hampir tidak pernah ada kabar negatif terkait presiden ketiga Indonesia ini.

Kita kembali pada masalah tokoh tersebut. Intinya, tokoh itu memang tidak seburuk yang dibicarakan oleh banyak orang, tetapi juga tak sebaik itu kualitasnya untuk bisa menjadi seorang pemimpin. Dia penuh pencitraan, sudah jelas. Tidak terlalu pintar. Tetapi sebagai salah satu tim media sosial, saya harus mencitrakan hal-hal positif pada dirinya. Jelas berbeda dengan citra Ridwan Kamil misalnya, yang secara natural bisa terlihat lucu dan kocak, karena memang begitulah adanya. Sementara itu, sosok yang pernah saya tangani ini agak kaku, begitu pula asisten-asistennya yang juga kaku dan menganggap kalau citra positif hanya bisa ditampilkan melalui rangkaian kata-kata (sok) formal di media sosial, serta kedekatan dengan keluarga. Sangat membosankan. 

Tapi mau bagaimanapun, pencitraan tetap pencitraan. Saya tahu betul dia tidak peduli-peduli amat dengan kesejahteraan di Indonesia. Tetapi toh, saat dia berlibur, kami, beberapa orang dari tim media sosialnya, harus mencitrakan bahwa saat berlibur ke luar negeri, dia tetap memikirkan apa manfaatnya buat tanah air. Padahal, dia tidak berlibur ke bank dunia. Tidak berlibur ke Aleppo. Atau setidaknya, ke tempat arsip-arsip yang memiliki hubungan dengan arsip nusantara. Dia berlibur hanya untuk bersenang-senang saja dengan keluarganya. Lagipula, saat berlibur ke luar negeri, dia tidak melakukan kegiatan sosial sama sekali.

Begitupun saat dia tengah menghadiri pertemuan partai. Semua hal yang dia lajukan, dia karakan, dan dia ingin pamerkan pada masyarakat sejatinya memang bukan untuk masyarakat, tetapi untuk dirinya sendiri. Tahun ini, kabarnya dia ingin menjadi calon gubernur di provinsi yang menjadi daerah asalnya. Untuk itu, dia ingin mencitrakan segala hal yang baik, terutama bagi masyarakat di provinsi tersebut. Maka diaturlah kemudian segala media sosialnya agar jangkauannya terpusat pada penduduk provinsi yang bersangkutan. Para tim pun diharuskan fokus pada isu-isu yang menyangkut provinsi tersebut. Supaya tokoh itu terlihat peduli pada provinsinya.


Tidak ada ketulusan dalam dunia politik

Hal yang sama barangkali, saya rasa, juga terjadi pada Pemilihan Gubernur Jakarta. Semua pasangan calon tahu kalau media sosial adalah kekuatan yang cukup besar di era ini untuk menarik simpati masyarakat. Maka berlomba-lombalah mereka memoles media sosial. Dengan bantuan tim sukses tentunya. Oh ya, tak hanya media sosial pribadi mereka. Tetapi juga media sosial yang berkedok organisasi atau gerakan tertentu. Dan juga media-media daring yang memuat berita tentang pemilihan gubernur. Seperti yang sering saya bahas sebelumnya, banyak tim sukses calon yang turut meramaikan kolom komentar, menggiring opini pembaca untuk menyukai calon yang bersangkutan. Dan ya, mereka dibayar untuk itu. 

Maka, tak perlu terbuai dengan kata-kata manis dan sajak-sajak yang didengungkan oleh para calon gubernur dan wakil gubernur pada debat kemarin. Sama seperti media sosial, penampilan mereka pun telah diatur dengan konsep tertentu. Yang satu berkonsep tegas dan royal. Yang satu berkonsep apa adanya dan lugas. Yang satunya lagi, berkonsep intelek dan manusiawi. Semuanya hanyalah topeng. Mungkin ada sebuah sisi di dalam lubuk pikiran mereka, yang peduli pada rakyat Jakarta. Tetapi tidak di semua sisi. Sisi lain dipenuhi dengan keinginan untuk berkuasa. Kalau memang mereka tak punya keinginan untuk berkuasa, mereka tak akan "ngotot-ngototan", saling menjelekkan satu sama lain demi dua buah kursi di Pemprov DKI Jakarta. Kalau memang keinginan terdalam mereka hanyalah ingin membetulkan Jakarta, maka yang mereka lakukan bukanlah menghabiskan dana untuk kampanye yang penuh intrik dan penuh dengan manipulasi.

Jadi, apakah kita harus skeptis? Menjadi golongan putih? Tidak selalu. Pilihan untuk memilih ataupun memilih ada di tangan Anda. Tetapi saat Anda memilih, pastikan pilihan Anda logis dan rasional, bukan karena Anda mengagumi sosok tertentu. Tidak ada ketulusan dalam partai politik. Tidak ada ketulusan dari orang-orang yang punya ambisi besar saat berkampanye. Pilihlah calon yang paling tepat untuk mengatur Jakarta tanpa ketulusan dari lubuk hati Anda. Tak perlu mengagumi atau mengasihani pasangan calon tertentu. Tak perlu merasa sedih saat mereka, menurut Anda, difitnah habis-habisan. 

Perlakukan calon pilihan Anda layaknya ketika Anda membeli barang di minimarket: Anda tak membeli barang karena nilai sentimental tentunya, tapi karena nilai kebutuhan. Karena hampir semua calon pemimpin tak ubahnya gula dan tepung terigu di minimarket: komoditas semata. Konsumsi mereka, jangan kagumi mereka.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe