Kike, Pekerja Kasar yang Menulis, dan Karl Marx

17:24


Buruh kasar boleh bernyanyi, buruh kasar boleh menulis.

Aktivitas berkesenian nampaknya selama ini identik dengan kalangan kelas menengah ke atas. Kalangan ini dianggap memiliki akses informasi dan pendidikan yang lebih tinggi, untuk itulah karya seni yang mereka hasilkan dianggap lebih intelek. Sementara itu, masyarakat kelas bawah tak akan punya waktu untuk menghasilkan karya seni. Pikiran mereka habis untuk memikirkan kebutuhan primer. 

Tetapi, layaknya stereotip lain di dunia, stereotip tentang kelas dan karya seni tersebut nampaknya harus kita buang jauh-jauh.  Layaknya pendidikan, kelas tak menjamin intelektualitas. Nyatanya toh ada banyak orang yang kaya sejak lahir, tetapi pemikiran mereka hanya berputar-putar di titik yang sama. Membosankan. Dan ada pula mereka, yang terkadang kehadirannya kita anggap tak lebih penting ketimbang halte di ruang publik, ternyata dapat menghasilkan sebuah karya seni yang apik. Yang intelek. Yang bermakna dalam. 

Sebutlah Enrique Ferrari, alias Kike. Sehari-hari, orang hanya mengenalnya sebagai tukang sapu di stasiun bawah tanah (subway), Buenos Aires, Argentina. Tetapi pernahkah Anda membayangkan bahwa dia juga adalah seorang penulis novel? Sulit rasanya mempercayai bahwa seseorang yang selama ini kita abaikan keberadaannya dan pekerjaanya (seringkali) kita anggap sebelah mata dapat menulis novel-novel. Iya. Dia telah menerbitkan lima novel, dan kalau kalian tidak percaya, kalian bisa lihat di sini.

Novel-novel Enrique, atau yang biasa dipanggil Kike, juga merupakan novel-novel noir, bernuansa hitam, kelam, sarat akan kejadian kriminal, dan bagi yang membacanya, mungkin harus siap-siap masuk ke dalam sebuah ruang hidup yang tidak menyenangkan. Pada tahun 2012, novelnya juga pernah menjadi pemenang di festival penulisan fiksi kriminal Gijon.


Mengapa Kike menjadi tukang bersih-bersih? Mengapa dia tidak seperti, penulis-penulis yang kita kenal, yang seolah tidak menyentuh pekerjaan kasar? Begitulah. Menjadi penulis tidak akan pernah membuat kita kaya. Kecuali kalau novel kita menjadi novel yang amat laris, dan faktor yang membuat sebuah novel menjadi laris bukan sekadar kualitas, tapi juga cara promosi, selera pasar, lingkungan pergaulan kita, dan lain sebagainya. Tidak ada uang dalam sajak, meminjam kalimat Robert Grave. Royalti yang didapat dari penulisan buku sangatlah kecil, tak bisa menafkahi istri dan anak-anak secara rutin, begitu ungkap Kike.


Untuk itulah dia tetap mempertahankan pekerjaan sebagai petugas kebersihan. Sebelumnya pun, dia pernah bekerja sebagai sopir, dan pedagang kaki lima. Tak ada yang salah. Selama tidak merugikan orang lain dan tidak menyalahi aturan hukum, semua pekerjaan toh esensinya sama saja: mendulang uang. 

Lagipula, pria dengan tato Karl Marx di lengannya ini berkata, bahwa pekerja kasar juga bisa bernyanyi, bisa menulis. Tidak semua buruh hanya berpikir tentang kerja yang menghasilkan uang, dan tidak semua hal yang dilakukan pekerja kasar dangkal adanya. 

Dan ya, saya baru saja berbicara tentang tato Karl Marx, bukan bunga ataupun tato lain yang banal. Setidaknya kalau kalian diberi kesempatan untuk menyelami pikirannya, kalian akan tahu bahwa pikiran itu, bukanlah tempat yang membosankan atau membuat jengah.


Foto: berbagai sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe