Betapa Bangganya Menonton Konten Porno

22.07

Betapa Bangganya Menonton Konten Porno!

Oleh: @elsadewinta

Pornography is a direct denial of the power of the erotic, for it represents the supression of true feeling. Pornography emphasizes sensation without feeling - Audre Lorde, a black writer

Banyak orang memanfaatkan sosial media untuk berkomunikasi dengan teman, kerabat, saudara, bahkan berkenalan dengan orang baru dan juga dijadikan sarana mencari informasi tentang apapun. Sosial media saat ini punya pengaruh yang luar biasa dalam hal bersosialisasi. Banyak akun-akun hiburan yang sengaja dibuat untuk membunuh rasa bosan kita dalam berselancar di dunia maya. Misalnya, di InstagramFacebook, sampai Line, banyak sekali akun-akun hiburan bertebaran, mulai dari akun motivasi, humor, percintaan, bahkan konten-konten yang menonjolkan sensualitas. Tak dipungkiri, untuk yang terakhir ini cukup banyak yang mengikutinya. Konten pornografi bisa dikatakan sebagai salah satu yang banyak digemari netizen.

Di era internet yang semakin canggih ini, akan semakin mudah bagi netizen untuk mengakses konten porno setiap saat. Akhir-akhir ini pun marak muncul kasus remaja yang membagi foto vulgar yang menonjolkan sisi sensualnya di sosial media, entah itu foto sendiri atau berdua bersama pacarnya. Sepertinya mereka menganggap ini adalah hal yang wajar. Mereka hanya ingin mengekspresikan diri dengan caranya sendiri tanpa mempertimbangkan dampak buruk yang akan dihadapinya di masa depan.

Ketika saya membuka Instagram pun, ada beberapa teman laki-laki yang saya follow nampak sering memberi ‘like’ untuk foto atau video dari akun-akun porno. Mereka sampai berani menunjukkan ke publik kalau memang biasa mengkonsumsi hal tersebut. Dengan dalih, lelaki adalah makhluk visual, hanya dengan memandang foto-foto vulgar pun mereka sudah merasa dimanjakan. 

Tak hanya itu saja, mereka bahkan membagikan foto-foto vulgar tersebut ke sosial media yang cenderung bersifat "terbuka". Ini sudah tidak benar. Pengguna sosial media bukan hanya mereka yang berusia 17 tahun ke atas, anak di bawah umur yang tak seharusnya mengkonsumi konten bermuatan seksual pun sudah mahir menggunakannya. Kesempatan mereka untuk mengakesnya menjadi semakin besar. Sudah banyak situs-situs porno di Indonesia yang diblokir, tetapi konten porno lainnya tersebar bebas melalui sosial media. Pelakunya pun seolah sudah tak malu lagi memposting foto atau kutipan-kutipan sensualnya. Hal ini justru menjadi candu bagi pelaku penyebaran ataupun penikmatnya.

Beberapa akun yang mengangkat konten pornografi, biasanya mempunyai ribuan pengikut. Admin hanya mengunggah satu foto atau cuplikan video syur dan dalam hitungan menit sudah bisa mendapat ratusan hingga ribuan like. Ini sangat menguntungkan bagi pemilik akun, sebetulnya. Dengan banyaknya jumlah pengikut yang dimiliki, kesempatan pemilik akun bisa mendapat tawaran iklan dari suatu produk atau layanan jasa (endorse) semakin besar, lalu rupiah pun mengalir dengan lancarnya. Kita tanpa sadar membantu mereka meraup untung dengan menikmati konten tersebut. Ironi, karena mereka bisa mendapatkan keuntungan dengan menjual kemolekan tubuh wanita, kutipan-kutipan kotor, dan hal-hal tak senonoh lainnya yang sebenarnya tak layak untuk dijadikan komoditas.


Banyaknya orang yang mengakses konten porno secara terang-terangan seperti ini cukup mengganggu. Terserah kalau mereka mau tenggelam sendiri dalam kecanduan akan pornografi, yang jelas-jelas tak baik bagi kesehatan mental itu. Terserah juga kalau mereka mau sembunyi-sembunyi mengetik IP Address situs-situs porno tersebut. Dan terserah juga kalau mereka mau membela diri dengan tameng "mending nonton pornografi dong daripada berzina". Itu urusan mereka dengan otak dan hidup mereka. 

Tetapi kalau sudah menyebarkannya secara terang-terangan? Mungkin mereka butuh rehabilitasi untuk kembali menjadi manusia yang menyadari, kalau ibu mereka jugalah seorang perempuan. Tentunya mereka tidak mau bukan, kalau ibu mereka yang jadi objek pornografi, seperti halnya perempuan-perempuan yang biasa mereka jadikan objek?

Foto: www.ynetnews.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe