Bermain Peran Sebagai Korban

11.22



Pagi tadi, saya melihat unggahan foto terbaru seorang comic -pelaku stand up comedy- yang sedang hangat dibahas beberapa waktu terakhir ini. Tidak usah menggunakan kode dan deskripsi, nama comic ternama tersebut adalah Uus. Sudah lama Uus menjadi musuh publik lantaran sifatnya yang dianggap terlalu sensitif dan anti kritik, suka mencari perhatian, dan juga mengeluarkan kata-kata yang menyiggung banyak orang di media sosial. Dan dalam unggahan foto tersebut, Uus menyayangkan mengapa masyarakat begitu mudah menghakiminya hanya karena dia berpendapat.

Intinya. Kalo ada yang bilang gue nyari sensasi. Maap. Gue bukan selebritis. Masalah yang gua hadepin bukan skandal perselingkuhan artis, atau pacar-pacaran yang settingan. Masalah ini muncul karena gue simply "berpendapat". Semua yang ngata-ngatain gue, istri, anak dan keluarga gue, bukan orang yang ga beragama kok tapi mungkin kurang bisa nerima variabel kebaikan yang ga keliatan di mata mereka. Gue hidup udah pernah ditolong temen gue dari berbagai macam agama. Gue cuma gamau jadi orang yang lupa kalo dulu pernah dibantu sama mereka. Kalian pun mungkin pernah dibantu makanya respon kalian begitu hebatnya. Kita masing-masing punya cerita dengan apa yang kita coba bela. Gue ga ada urusan soal Pilkada. Gue cuma pengen Islam jadi agama mayoritas yang teduh dan merangkul. Thats it. Gue udah pernah punya temen yang pindah agama karena ortunya broken home, terus jadi bahan ledekan selama 3 taun di SMP. Gue cuma gamau itu kejadian lagi sama orang laen, yang laen ngatain dia tanpa liat kondisi keluarganya. Bisa ngga sih nanya dulu sebelum menghakimi. Kasian tau. Gue pun ga ngajak siapapun, gue ga nyuruh akun cyber atau bot buat menggandakan opini gue. Lo bilang gue ngelawak aja jangan ikut2an. Nah yang komen nyerang apakah kalian pengangguran? Kalian juga punya kerjaan kan? Tapi kalian peduli kan? Maaf sebelumnya. Artis ya artis bukan nabi.
A photo posted by LOSER! (@uus__) on

Perilaku Uus yang mana, yang dianggap menyinggung pihak tertentu? Contohnya, Tweet yang dia unggah pada tahun 2016 lalu, yang menyinggung para perempuan berhijab serta penyuka grup band korea. Comic berkepala plontos tersebut mengatakan bahwa lebih baik melihat perempuan yang pergi ke diskotik sambil mabuk-mabulan ketimbang melihat perempuan-perempuan berhijab yang teriak-teriak menangis di konser grup band Korea. Sontak tweet tersebut menimbulkan kemarahan banyak pihak. Pertama, karena Uus membawa-bawa hijab, yang merupakan salah satu simbol agama. Yang kedua, karena membandingkan perempuan berhijab dan juga penyuka grup band korea dengan perempuan diskotik yang mabuk. Hal itu dirasa merendahkan dan melanggar hak asasi manusia. Toh, sefanatik-fanatiknya penggemar Korea, mereka tidak mabuk. Perilaku mabuk sangatlah membahayakan dan tidak dapat dibandingkan dengan para penggemar grup band Korea, yang jelas-jelas menonton konser dengan penuh tanggung jawab: mereka membayar tiket, dan mereka tidak melakukan hal-hal di luar kontrol.




Belum lama ini, Uus kembali membuat kontroversi dengan menyindir Rizieq Shihab, terkait foto pendemo yang menyebutkan bahwa "sehelai rambut Habib Rizieq jaruh, maka urusannya bukan hanya dengan FPI tetapi juga dengan umat Islam". Poster ini memang kontroversial dan terkesan meninggikan seseorang, padahal dalam ajaran Islam, semua manusia memiliki derajat yang sama. Siapapun dia.

Toh, banyak orang yang menghardik spanduk tersebut dan tidak mendapat masalah, tetapi mengapa Uus dihardik habis-habisan, bahkan kabarnya, tidak mendapatkan perpanjangan kontrak pada dua acara yang dibawakannya di televisi? Padahal apa yang Uus katakan di Twitter cenderung tidak kontroversial? Hanya sekadar "mengkampanyekan" shampo untuk Rizieq Shihab, tentunya dengan nuansa gurauan?




Mungkin karena, masyarakat sudah jengah saja dengan Uus. Pasalnya,permasalahab Uus di dunia maya bukan sekadar masalah grup band Korea dan masalah Rizieq Shihab. Uus pernah berkomentar di Instagram terkait kelahiran anaknya: bahwa anaknya harus tahu kalau tidak semua yang terlihat relijius itu baik, dan tidak semua yang bertato itu buruk. Seolah belum habis saja kebencian masyarakat terkait tweet hijab-grup band korea-perempuan diskotik, dia kembali menambah sentimen netizen dengan tulisan tersebut.

Dan ketika dia membuat kesalahan yang sangat kecil, akan mudah bagi masyarakat untuk membencinya kembali.


Masyarakat Tidak Pernah Menjadi Pemaaf



Apa yang dilakukan Uus sebetulnya memiliki kesamaan dengan apa yang dilakukan oleh Monika Lewinsky, mantan pegawai magang Gedung Putih yang terkenal dengan skandal Zippergate -aktivitas oral seks bersama Presiden Bill Clinton-. Hingga saat ini, Monica masih mempertanyakan mengapa orang-orang dan media begitu mudah melabelinya dengan julukan pelacur, perempuan tak bermoral, dan sebagainya. Tentu saja, hal ini juga dipermasalahkan saat pencalonan Hillary Clinton sebagai presiden Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Bahkan Monica juga turut menjadi aktivis untuk melindungi korban perundungan dunia maya. Sebuah hal yang positif sebetulnya, tetapi tak perlu dia membawa-bawa masalahnya sendiri.

Wajar bila masyarakat merundung Monica Lewinsky. Wajar pula bila menuduhnya sebagai perempuan tak bermoral. Masalahnya, Bill Clinton telah memiliki istri pada saat skandal tersebut terjadi. Perempuan bermoral mana yang mau diajak melakukan aktivitas seksual dengan pria bersuami? Di mana penghormatannya kepada sesama perempuan?

Baik Uus maupun Monica, keduanya sama-sama bermain peran sebagai korban. Padahal sebetulnya, mereka bisa menghindari kebencian masyarakat terhadap mereka. Uus tak perlu membawa-bawa simbol agama, penggemar grup band Korea, dan membandingkannya dengan perempuan pemabuk, seolah mereka melakukan hal yang menjijikkan. Monica juga tak perlu membuka skandalnya dengan Bill Clinton, bahkan kalau perlu, dia tak perlu melakukan skandal tersebut.

Masyarakat sampai kapanpun tak bisa memaafkan kesalahan figur publik, kecuali bila figur publik tersebut betul-betul berubah, kalau perlu mundur dari dunia hiburan. Bukannya mempertahankan kebiasaan buruknya atau malah membela diri terus menerus. Masyarakat tak akan mau memahami. Itulah konsekuensi menjadi figur publik yang memamerkan kehidupan pribadi, atau mengeluarkan pendapat pribadi yang tak ada hubungannya dengan karya dan pekerjaan kita.

Untuk itu, pilihannya hanya ada tiga: menjadi figur publik yang hanya fokus pada karya dan tak mau menyinggung hal lain di luar itu, menjadi figur publik yang senantiasa berulah dan memamerkan kehidupan pribadi dengan konsekuensi dirundung dan dikritik, atau tidak menjadi figur publik sama sekali. Tak perlulah memilih pilihan kedua, kemudian merasa menjadi korban saat masyarakat bereaksi keras. Sekali lagi, mereka memang korban, tetapi korban dari diri dan perilaku mereka sendiri.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe