Antara Kebohongan dan Tabayyun

10:23



Menulislah, karena tanpa menulis engkau akan hilang dari pusaran sejarah - Pramoedya Ananta Toer

Kalimat itu adalah penyemangat bagi setiap penulis. Menulis, sebelum era teknologi begitu gencar, adalah sebuah proses untuk menuangkan apa yang ada di dalam pikiran. Entah fantasi, imajinasi, ataupun opini-opini. Tak hanya itu, menulis juga merupakan proses untuk mengabadikan sesuatu. Misalnya kenangan, kejadian, atau data-data pada kurun waktu tertentu.

Tanggung jawab yang dipikul penulis sangatlah besar. Bagi tulisan fiksi, penulis bertanggung jawab atas "rasa" yang ditimbulkan oleh pembaca, serta bertanggung jawab untuk memberikan cerita dengan premis yang logis, supaya pembaca tak berpikir dengan cara yang tak logis. Untuk tulisan non-fiksi, penulis bertanggung jawab untuk menghadirkan data yang tepat. Sebuah aib besar saat penulis tak bisa memberikan data yang valid, bahkan data yang dipenuhi kebohongan.

Pada era modern ini, lebih mudah bagi kita untuk menjadi penulis. Tak perlu menulis di atas kertas, mesin ketik, atau komputer kemudian dikirimkan ke penerbit atau dipasarkan sendiri secara mati-matian (self-publishing). Semua orang bisa membuat situs. Semua orang bisa menulis di Internet. Penerbit indie, self-publishing bertebaran di mana-mana. Jadi, pada zaman sekarang, sangat mudah untuk menjadi seorang penulis. Sangat mudah untuk menyebarkan tulisan dari satu sumber ke sumber lainnya. Baik tulisan yang berkualitas, yang tidak berkualitas, bahkan yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Semua orang bisa membuat media, semua orang bisa mencetak buku dengan mudah, juga tentunya, mencetak kebohongan.

Tentunya masih lekat dalam ingatan kita kontroversi tentang buku bertajuk "Jokowi Undercover" karangan Bambang Tri Mulyono. Alih-alih berisi data yang valid terkait Presiden, buku itu malah mirip seperti buku harian yang dipenuhi dengan opini dan praduga-praduga yang tak valid, dan tentunya masuk ke dalam sebuah fitnah besar. Buku itu memang diterbitkan sendiri, tetapi seharusnya sebagai penulis, Bambang memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa, buku non-fiksi yang dia tulis, berisi data yang sahih.

Pentingnya Tabayyun
Ada sebuah ajaran dalam Islam terkait pencarian pengetahuan: tabayyun. Tabayyun sendiri memiliki makna mencari penjelasan atas sesuatu hingga benar-benar jelas. Tabayyun dapat menghindarkan kita dari prasangka buruk dan hal-hal yang penuh dengan fitnah. Tabayyun pun juga mengembalikan kita pada hakikat kita sebagai seorang manusia: yang menggunakan otaknya untuk berpikir, dan tidak serta merta menerima saja semua hal yang diberikan kepada kita.

Dewasa ini, fitnah terjadi di mana saja. Fitnah bahkan bisa dilakukan oleh sumber ataupun oknum yang terlihat terpercaya. Kemudahan menulis pada era modern, tak hanya dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat positif, seperti penyebaran ilmu yang bermanfaat, tetapi juga untuk hal-hal negatif seperti fitnah dan provokasi.

Kita tidak bisa mengontrol pikiran manusia. Kita tak bisa sepenuhnya menghilangkan segala bentuk provokasi dan juga fitnah. Terlebih menjelang pemilihan umum, fitnah, provokasi, dan hasutan adalah hal yang selalu ada dan masif tersebar, terlebih di era media sosial.

Yang bisa kita lakukan saat ini hanyalah mengontrol diri untuk tidak menjadi agen dari penyebaran fitnah itu, serta membentengi diri agar tidak tertelan bulat-bulat oleh segala berita dan hal-hal yang tidak tepat, dan menjebak kita pada kebodohan uang akut. Ingatlah bahwa sejatinya, sebagai seorang manusia, kita memiliki kelebihan tak hanya untuk bertahan hidup layaknya hewan, tetapi kemampuan untuk berimajinasi dan kemampuan berinovasi. Menelan bulat-bulat segala hal yang kita terima tak ubahnya menjadikan kita bak hewan, yang secara pasif menerima saja apa yang diberikan alam olehnya, serta melakukan segala hal berdasarkan insting, semata hanya untuk bertahan hidup.

Foto: pixabay.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe