What to Know: Manusia Dikutuk Untuk Menjadi Bebas

12.21


Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis Prancis pernah berkata bahwa manusia dikutuk untuk menjadi bebas. Makna dari ucapan ini adalah, bahwa manusia sesungguhnya makhluk yang mengada untuk dirinya, dan punya pilihan untuk melakukan dan menjadi apapun yang dia mau. Manusia bukanlah peniti yang hanya bisa diam saja tanpa pilihan, dan tanpa pilihan pula dia hanya sekadar peniti yang fungsinya ditentukan oleh orang lain.

Manusia bisa pergi. Manusia bisa lari ke lembah dan bukit dan segala yang dia mau andaikata dia memang menginginkan hal itj. Manusia bisa diam di kamar. Manusia juga bisa keluar dari pintu dan berteriak. Semuanya masalah pilihan. Pilihan itu membuat manusia menjadi bebas.

Tetapi, kebebasan ada batasnya. Batas-batas itu berupa kefaktaan atau faktisitas. Contoh dari faktisitas adalah segala karakter dan keadaan diri yang ada pada kita saat kita lahir, seperti jenis kelamin, ras, dan identitas biologi lain. Faktisitas juga adalah tentang kebebasan orang lain. Karena orang lain bebas, maka kita tak bisa sepenuhnya mengecap kebebasan kita.

Faktisitas sering dianggap sebagai sesuatu yang membatasi manusia. Mungkin banyak orang yang mendambakan andaikata faktisitas ini hilang, andaikata kebebasan manusia itu mutlak, maka dunia akan menjadi lebih indah. In the name of freedom. Kebebasan selalu menjadi sebuah kata berkonotasi positif. Kebebasan identik dengan kebahagiaan, dan sebagai sesuatu yang selayaknya ada di dunia ini.

Padahal, tak selamanya kebebasan itu indah. Contohnya, kebebasan berpendapat. Kalau kalian rajin bermain media sosial, niscaya akan kalian lihat betapa manusia lebih bebas untuk mengungkapkan perasaan dan pendapatnya. Manusia seakan menemukan ruang yang lapang, tempat baginya untuk membuat dunia sendiri dari kata-kata dan opini mereka. Oh ya, mereka juga bisa membuat identitas baru, membuat diri mereka yang baru, yang mungkin mereka dambakan di dunia nyata, tapi tak bisa karena masalah kefaktaan itu. UU ITE dan segala revisinya pun dianggap sebagai kefaktaan baru yang membatasi kebebasan manusia. "Memangnya, ini jaman orde baru?", tukas mereka yang memuja kebebasan. Oh ya, orde baru, di Indonesia, bisa jadi dianggap pantas dimasukkan dalam kefaktaan oleh sebagian rakyat Indonesia, karena pada masa orde baru, kebebasan berpendapat, menurut mereka, seolah dibungkam.

Tetapi lihatlah. Apa yang dihasilkan dari kebebasan yang lebih bebas di Internet itu. Orang-orang, yang di dunia nyata senantiasa menghormati perbedaan, yang biasanya terlihat tak pernah masalah dengan itu semua, tiba-tiba menunjukkan wajah aslinya. Seolah tak ada malu bagi mereka untuk bersikap intoleran. Masuk ke ranah agama orang. Melarang ini itu. Mengatur akhlak orang lain. Menggurui akhlak orang lain. Dengan sengaja menghina agama dan suku lain. Sesuati yang kita yakin, tak akan berani mereka lakukan di dunia nyata. Mereka tahu, kalau mereka melakukan ini di dunia nyata, mereka akan babak belur atau dikucilkan. Tapi mereka tak peduli kalau dikucilkan di dunia maya. Mereka bisa membuat identitas baru lagi. Atau, menghapus akun saja. Begitu pikir mereka mungkin. Atau, di dunia maya pun banyak orang yang mendadak jadi cerewet seperti mereka. 

Jelang Natal dan jelang perayaan lain, kalimat intoleran akan selalu ada. Beberapa yang muslim terang-terangan menghina dan menyindir perayaan Natal, bahkan seperti mencari-cari kesalahan muslim lain yang mengucapkan selamat Natal, padahal belum juga Natal dimulai. Yang beragama Kristiani, ada pula yang menyinggung tentang masalah ucapan, menyindir para muslim bahwa mereka tidak perlu mengucapkan Natal, nanti jadi kafir. Terang-terangan perang sindiran ini hadir. Oke, mengingatkan memang tidak masalah. Tetapi, mengingatkan orang tentang sesuatu yang berhubungan dengan SARA tak bijak bila dilakukan di ruang publik seperti sosial media. Toh, manusia sudah pada dewasa. Mereka tahu mana yang benar, mana yang salah. Kalaupun mereka tak tahu, ingatkan saja lewat jalur pribadi ataupun japri. Tak perlu berkoar-koar di ranah publik. 

Simpan saja keyakinanmu untuk dirimu sendiri dan untuk kaummu. Tak perlu kaum lain tahu. Ibarat rumah tangga, kamu tak perlu mengumbar urusanmu dengan pasangan pada tetanggamu. Untuk apa? Tetanggamu yang prinsipnya berbeda denganmu tak akan peduli. Tapi sayangnya, banyak orang yang menganggap kalau himbauan semacam ini adalah bentuk pengekangan kebebasan. "Bebas dong saya berpendapat di sosial media. Kan menginspirasi orang".

Begitulah saat kebebasan semakin lebar terbuka. Begitulah saat manusia mencecap ruang yang lebih lega untik kebebasannya sendiri, di mana lagi kalau bukan di Internet. Dan di sini, kita pun bisa memahami mengapa kebebasan disebut kutukan: kebebasan yang terlalu lapang akan membuat manusia seperti makhluk yang terkutuk, mungkin?

Foto: Pixabay.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe