Terhadap Roti Saja Kita Rasis

14.03



Sudah tahu tentang sentimen beberapa oknum masyarakat terhadap Sari Roti? Bagi kalian yang aktif di media sosial, mungkin hal ini sudah tidak asing lagi. Bahkan, Anda mungkin sudah merasa muak.

Jadi awalnya begini. Ada tukang roti yang membagikan secara gratis Sari Roti kepada para peserta demo tanggal 2 Desember 2016. Kemudian, tak lama setelah itu Sari Roti mengeluarkan surat terbuka bahwa mereka tidak pernah terlibat dalam kegiatan politik atau demonstrasi. Hal ini menbuat banyak orang menganggap bahwa Sari Roti tidak mendukung aksi massa tersebut.

Tentunya kita tahu bahwa berita menyebar lebih cepat ketimbang virus. Ada oknum-oknum tertentu yang kemudian, seperti biasa, menyatakan kebencian dan sentimen terhadap Sari Roti. Sari Roti dianggap tak mendukung aksi tersebut dan dianggap sebagai produk yang tak punya empati.

Bahkan lebih parahnya lagi, ada orang-orang, entah dari mana, yang mengunggah foto Sari Roti yang mereka buang ke tempat sampah, juga Sari Roti yang mereka injak-injak, padahal belum juga masuk masa kadaluarsa sepertinya. Hal ini merupakan ekspresi kebencian mereka terhadap Sari Roti, dan sebagai penegasan bahwa Sari Roti haram hukumnya bagi mereka.

Melihat tingkah polah picik oknum masyarakat semacam itu, rasisme antar manusia seolah menjadi sesuatu yang wajar sekali. Bahkan kepada roti saja mereka rasis. Iya, rasis. Mereka marah kepada tim komunikasi (humas) Sari Roti yang memberikan rilis. Tetapi mereka kemudian menumpahkan kemarahan itu pada roti-roti yang tak bersalah. Padahal, roti tak dijual oleh tim humas. Banyak tukang roti yang menggantungkan hidup pada Sari Roti. Banyak pula orang yang menganggap roti sebagai makanan mewah. Lagipula, roti tidak bersalah. Roti tidak pernah berpolitik.

Toh memang, tak ada salahnya bagi tim humas untuk memberikan pernyataan yang profesional terkait hal tersebut. Tak ada hubungannya dengan pro atau kontra terkait aksi tersebut. Hanya saja, Sari Roti ingin menegaskan bahwa mereka tidak mau berpihak atau terkesan ikut-ikutan dengan suatu peristiwa. 

Sayangnya, banyak masyarakat yang masih naif, dan kenaifan ini dimanfaatksn berbagai pihak untuk membuat keresahan. Beginilah masyarakat kita. Begitu mudahnya untuk terprovokasi atas sesuatu yang seolah berseberangan dengan mereka. Begitu mudahnya menggeneralisasi sesuatu, hanya karena emosi dan kemalasan berpikir. 

Untuk itu, mungkin mereka tak perlu repot-repot teriak "tolak rasisme". Toh, pada roti pun mereka rasis. Mereka menyalahkan semua roti yang diproduksi Sari Roti dan menganggapnya seperti narkotika yang harus dimusnahkan. Lama-kelamaan, mereka juga bisa menyalahkan para pedagang Sari Roti yang berkeliling mengayuh pedal sepeda, kemudian melempari mereka dengan Sari Roti karena menganggap pekerjaan mereka adalah pekerjaan haram. Tak ada bedanya dengan orang-orang rasis yang menyamaratakan manusia hanya berdasarkan ras mereka. 

Tak perlu tanyakan kapan mereka bisa maju dan memiliki mental yang lebih baik daripada sekarang. Ada baiknya, ajarkan lebih dulu pada mereka tentang bagaimana menggunakan otak yang memang sudah sedari dulu dimiliki oleh manusia.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe